Ketika Rakyat Ekuador Menggugat Chevron

Kehadiran korporasi asing itu hanya membawa malapetaka. Tidak percaya? Mari melihat kejadian yang menimpa rakyat Ekuador, khususnya yang tinggal di kawasan hutan Amazon.

Dari tahun 1964 hingga 1992, perusahaan minyak asal Amerika Serikat membuang 18,5 milyar galon bahan beracun ke lubang-lubang tanah, rawa-rawa, sungai-sungai yang berada di kawasan hutan Amazon.

Banyak ahli lingkungan menyebut polusi minyak terburuk di dunia ini. Bahkan, ada yang menyebut ini kejadian kedua terburuk, setelah Chernobyl, dalam sejarah umat manusia.

Perusahaan itu adalah Texaco. Perusahaan AS itu mengebor 399 ladang minyak di daerah seluas 1 juta hektar. Texaco mengeksplorasi 1,500 barrel minyak mentah dan keuntungan 30 milyar USD.

Sebaliknya, ia juga meninggalkan bahan beracun yang mengancam keselamatan 30.000 orang yang menghuni kawasan hutan hujan Amazon. Masyarakat adat menganggap kerusakan yang ditimbulkan oleh Texaco lebih buruk dari tumpahan minyak di teluk Meksiko. Perusahaan itu juga membakar gas alam ke udara tanpa kontrol.

Banyak ahli yang menuding, Texaco tidak menggunakan standar umum perusahaan minyak ketika melepaskan bahan beracun ke dalam tanah. Namun, justru dengan pengabaian itu, Texaco menghemat 1,5 milyar hingga 4,5 milyar USD dari biaya operasinya.

Tahun 2002, Chevron mengambil alih Texaco, termasuk kerusakan parah yang diwariskannya. Inilah yang mendorong kelompok masyarakat adat, pada tahun 2003, untuk melancarkan gugatan kepada korporasi asal AS ini.

Namun, perjuangan masyarakat adat itu tidak gampang. Mereka bernaung dalam sebuah Koalisi untuk untuk mempertahankan Amazon. Para penggugat ini sering mendapat ancaman pembunuhan. Akhirnya, Organisasi Negara Amerika (OAS) pernah meminta pemerintah Ekuador agar memberikan perlindungan terhadap para penggugat.

Namun, ancaman bukanlah hal yang baru. Pada tahun 1981, demi menjaga kepentingan bisnisnya di Ekuador, AS terlibat dalam pembunuhan Presiden progressif Ekuador Jaime Roldos dalam sebuah kecelakaan pesawat. Jaime Roldos berusaha mengambil alih Texaco untuk memulihkan kedaulatan negerinya.

Pada Februari 2011, pengadilan negeri di kota Lago Agrio, Ekuador, memerintahkan Texaco/Chevron untuk membayar 8,6 milyar USD atas pencemaran lingkungan di hutan Amazon. Lalu, pada Januari 2012, Pengadilan Tinggi Ekuador memperkuat keputusan pengadilan negeri itu. Presiden Ekuador Rafael Correa menyebut pertarungan rakyat Ekuador dengan Chevron itu mirip pertarungan “David versus Goliath”.

Tetapi Chevron tidak tinggal diam. Korporasi AS itu menuding pengadilan Ekuador telah mempolitisasi kasus pencemaran itu. Chevron juga meminta bantuan Arbitrase Internasional. Ekuador juga terus berkampanye melawan pengadilan Ekuador. Baru-baru ini, pengadilan Arbitrase di The Hague meminta penundaan hukuman terhadap Chevron.

“Kami masih menderita warisan panjang neokolonialisme, kegelapan neoliberalisme, dalam kasus perjanjian perdagangan yang kriminal ini,” kata Presiden Ekuador Rafael Correa mengomentari keputusan itu.

Menurut Rafael Correa, keputusan pengadilan arbitrase itu telah mengakhiri kedaulatan dan kemerdekaan Ekuador. “Kami telah menjadi negara koloni akibat keputusan pengadilan internasional itu,” tambahnya.

Terkait tekanan dari Pengadilan internasional itu, Rafael Correa telah meminta dukungan dari negara-negara Amerika Latin, khususnya ALBA ( Alternatif Bolivarian untuk Amerika) dan UNASUR (Perhimpunan Negara-Negara Amerika Selatan).

“Kami akan mempertahankan negara kami dengan segala cara. Kami akan memberi tahu dunia mengenai penyimpangan ini. Perusahaan multinasional hanya menganggap kami sebagai koloninya,” ungkap Correa.

Correa beranggapan, dunia sekarang ini dikuasai oleh modal besar, yang telah membawa krisis di AS dan Amerika, yang membuat kepentingan pasar lebih tinggi dibanding kehidupan manusia. “Kami berjuang untuk mengakhiri semua ini,” ujar Correa.

Untuk diketahui, Rafael Correa kembai memenangi pemilu Presiden Ekuador pada 17 Februari lalu. Ia meraih suara 58 persen, sedangkan pesaingnya, Guillermo Lasso, seorang bekas bankir, hanya meraih 24 persen.

Ia pun berjanji memperdalam Revolusi Warga, yaitu sebuah revolusi yang dijalankan oleh rakyat biasa melawan melawan para elit, bankir, dan politisi korup di Ekuador.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut