Bens Leo: Seniman Tradisional Punya Hak atas Karyanya

Benny Hadi Utomo, atau lebih populer dengan Bens Leo, adalah salah satu pengamat musik yang menjadi rujukan industri musik Indonesia. Segala aktifitasnya terkait musik sudah dilakoninya sejak tahun 70-an; meliput berita untuk majalah era 60-an yaitu Aktuil, menjadi produser musik, menjadi juri festival musik, turut mendirikan majalah yang fokus pemberitaannya perihal dunia musik yaitu Newsmusik, juga menjadi aktivis yang menentang maraknya pelanggaran atau pembajakan hak cipta di dunia musik.

Dan masih dalam rangka merayakan hari musik nasional, pada 9 Maret lalu, Tejo Priyono dari berdikarionline.com berkesempatan mewawancarainya pria kelahiran 8 Agustus 1952 ini. Berikut petikannya.

Sejak 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional lewat Keppres No. 10 Tahun 2013, adakah efeknya menurut Mas Bens? Kita tahu penetapan itu sebagai upaya meningkatkan apresiasi terhadap musik nasional, meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi para insan musik Indonesia, meningkatkan prestasi dan mengangkat derajat musik Indonesia secara nasional maupun internasional.

Menurut saya, pertama, pembajakan mulai berkurang ya, meskipun persentasenya masih ada tapi sudah berkurang. Karena, kalau memberantas itu memang susah sekali.

Kedua, kita akan mencanangkan agar 9 Maret itu semua media elektronik, semua mall, kemudian acara musik di hotel, cafe dan semacamnya itu memakai lagu Indonesia. Nah, kalau itu terjadi, menarik sekali.

Tadi baru saja saya ikut pertemuan antara PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia) dengan Presiden Jokowi dan ini baru pulang dari Istana Negara. Jadi salah satu permintaan Ketua Umum Pappri Tantowi Yahya, agar pada tanggal 9 Maret itu selama sehari penuh lagu-lagu Indonesia disiarkan di lembaga penyiaran, tempat hiburan, kafe, hotel dan lainnya. Dan Pak Jokowi setuju. Kemungkinan akan menandatangani surat yang nanti bentuknya mungkin semacam Instruksi Presiden atau berupa Keputusan Presiden. Inilah salah satu contoh betapa penting hari musik nasional itu ada.

Kemudian berikutnya yang tak kalah penting adalah mendorong para seniman musik untuk tetap berkarya di era digital ini. Di sini saya tambah dan tekankan bahwa kita mempercayai bahwa industri musik itu juga sebuah siklus, kalau sekarang di era digital itu para musisi juga harus tetap berkarya dengan mengeluarkan fisik albumnya dalam bentuk CD, jangan mereka menjual hanya dalam format digital saja, karena kita akan kekurangan kebanggaan akan karya-karya yang sifatnya artistik. Karena musik itu sebetulnya tidak hanya melibatkan pencipta lagu saja, disana ada pemain (player), ada penyanyi dan ada karya-karya desain grafis untuk kebutuhan cover CD, juga video klip dan sebagainya. Kalau di Undang-Undang itu namanya performing type, itu adalah pihak terkait. Jadi kalau dulu lagu ciptaan yang dapat royalti itu hanya penciptanya saja, maka di Undang-Undang yang baru (yang di dorong oleh para musisi Indonesia sendiri) pemain, penyanyi, desainer grafis, pembuat video klip tadi juga berhak atas royalti.

Karena itulah oleh badan listing royalti seperti WAMI (Wahana Musik Indonesia), yang adalah suatu badan usaha yang bergerak dibidang Collective Management Organization, atau Lembaga Manajemen Kolektif pengelola eksploitasi karya cipta lagu, terutama untuk royalti atas Hak Mengumumkan atau Performing Rights sudah mengeluarkan 1,2 Milyar untuk dibagikan kepada para musisi dan berbagai pihak terkait tadi. Untuk royaltinya sendiri sebagian besar pendapatannya dari cukai tempat hiburan, karaoke, hotel dan sebagainya. Inilah yang sebetulnya setelah Undang-Undang Hak Cipta diperbaharui, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta, saat Susilo Bambang Yudhoyono masih menjabat waktu itu, sebetulnya terus didorong agar para seniman itu bisa menempatkan haknya lebih luas.

Itulah contoh-contoh, maka betapa pentingnya di era Pak Jokowi ini punya keinginan untuk mensejahterakan para seniman

Pelaku musik tradisional semakin sepi peminat dan dilupakan. Padahal karya-karya mereka adalah warisan yang harus tetap ada, harus dikenalkan kepada generasi milenial karena itu yang akan jadi identitas dan ciri atau kepribadian kita sebagai bangsa. Apa pendapat Mas?

Sebetulnya yang dilakukan oleh organisasi musik ini adalah mengupayakan agar seniman tradisional itu punya hak atas karya ciptanya juga. Dan mereka harus diberitahu, kalau mereka berkarya, memainkan alat musik disana, maka itu ber-hak atas royalti. Terutama apabila mereka perform, apabila mereka rekaman, maka hak atas royalti harus ada. Itu sering dikemukakan juga dalam forum-forum resmi tentang hak para seniman termasuk, yang tradisional, karena semua daerah di Indonesia itu punya karya musik yang ternyata pemain maupun para senimannya itu tidak sejahtera, apalagi kalau mereka jauh dari pusat industri jauh dari Jakarta.

Maka upaya yang paling indah yang dilakukan adalah bagaimana para musisi Indonesia, para musisi modern itu, harus menyambangi musisi tradisional untuk melakukan eksplorasi secara bersama untuk memperkenalkan musik Indonesia itu dalam bentuk kolaborasi antara musisi tradisional dengan musisi modern.

Contohnya Dwiki Darmawan, ia paling sering tampil bersama musisi tradisional, misalnya menyertakan angklung, suling dan alat musik tradisional lainnya yang sebetulnya di keyboard-nya Dwiki tidak ada.

Hal semacam inilah sebagai salah satu penghargaan yang diberikan, kemudian dari sana orang mulai kenal “oh..iya ya ternyata ada pemain gamelan di kota ini, ada pemain angklung yang harusnya mereka ini diberi apresiasi dalam bentuk penghargaan, mereka juga punya hak atas royalti dari penampilan mereka. Apalagi kalau mulai direkam, maka karya rekam itu akan melahirkan pembayaran royalti kepada para personil musisi tradisional yang memainkan alat musik seperti halnya musisi modern.

Itulah contoh-contoh yang diberikan kepada para seniman tradisional terutama saat sudah mulai adanya perbaikan Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014.

Tentu saja dukungan dari banyak pihak terutama dari musisinya sendiri, musisi modern/musisi masa kini untuk mau menyambangi musisi tradisional memberikan pengertian bahwa mereka punya hak atas karya ciptanya itu juga harus dilakukan dan di sosialisasikan sebanyak mungkin.

Berikutnya Indonesia punya anugerah kebudayaan yang setiap tahun digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari situ musisi tradisional diberikan penghargaan yang tinggi sekali, misalnya musisi yang alat-alat musiknya sudah langka, maka penghargaan diberikan dalam bentuk dana atau uang sampai dengan wafatnya.

Misalnya musisi tradisional di Kalimantan, nanti kalau ditemukan musisi yang memainkan alat musik tradisional yang alat itu sudah jarang dan regenerasinya kurang, maka itu lah yang akan didukung agar tumbuh kembang generasi baru juga pelestarian alat musik tersebut. Ini akan diberikan penghargaan dalam bentuk uang (kalau tidak salah ingat diatas Rp 60 juta itu) dan setiap bulan akan diberi dana (semacam tunjangan hidup) sampai dengan wafatnya.

Itulah anugerah kebudayaan yang setiap tahun diadakan dan kebetulan saya menjadi anggota tim juri untuk Bidang Pencipta, Pelopor dan Pembaharu Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni, dan ini sudah tahun keempat di 2017 ini. Maka dari itu, betapa pentingnya apresiasi terhadap kesenian tradional itu dilakuka,n termasuk oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ceritanya pemerintah daerah (Pemda) mencari tokoh-tokoh pelestari seni tradisi di daerahnya masing-masing, kemudian diusulkan kepada pemerintah pusat agar diberi penghargaan, kalau usianya sudah sepuh (tua) dan ia punya kans untuk mendapat penghargaan, maka dia sampai wafatnya berhak atas Anugerah Kebudayaan yang berupa semacam gaji atau tunjangan tadi.

Kita tahu sejumlah artis/musisi seperti Slank, Jay Subiakto, Marcello Tahitoe, Tompi, Once, Sandhy Sandoro, Kikan, Shanty, Gita Gutawa, Dira Sugandi, Project Pop, Iwa K yang mendukung pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, juga ada Ahmad Dani maju menjadi Wakil Bupati di Kabupaten Bekasi, atau Rhoma Irama mendirikan Partai Idaman dan bersiap bertarung di Pemilu 2019, apa tanggapan Mas Bens?

Saya kira kalau mereka bergerak di ranah politik itu urusannya personal. Khusus untuk musisi-musisi yang tadi disebutkan, sepanjang yang saya tahu, beberapa diantaranya bukan massa atau anggota partai, tetapi mereka mendukung program dari pasangan calon tersebut. Contohnya Slank, mereka tidak berpartai, tapi mereka mendukung orang-orang yang bekerja benar di pemerintahan sehingga mereka menjadi garda depan saat kampanye.

Seperti Sys NS, belum tentu dia PDI Perjuangan lho itu. Begitu juga Slank belum tentu semuanya PDI Perjuangan, saya yakin. Mereka mungkin punya pilihan partai yang berbeda-beda, tapi sepanjang mereka menganggap bahwa pemerintah daerah atau pemerintahan pusat itu baik, maka mereka dukung melalui sebuah kampanye dan malah membuat lagu untuk kebutuhan kampanye tanpa dibayar, mereka turun ke jalan, dan itu fenomena yang menarik sekali.

Kalau urusan politik, seperti halnya Ahmad Dani dan kawan-kawan yang lain, itu sebetulnya juga personal. Sepanjang mereka tidak mengganggu partai-partai lain atau peserta pilkada yang lain dalam pengertian yang sifatnya ekstrim seperti serangan dalam bentuk kata-kata maupun bentuk-bentuk negatif lainnya, saya kira sah-sah saja. Karena mereka juga ingin jabatan di luar musik. Contohnya Pasha Ungu, yang karena ia ingin di pemerintahan, maka ia berjuang untuk berada disana.

Resikonya memang mereka menjadi menjauh dari ruang kreatifnya sebagai seniman dan orang sekarang sudah kehilangan Ungu gitu. Begitu Pasha hilang ya.. Ungu ikut hilang dari dunia musik. Juga kalau Ahmad Dani misalnya jadi itu Wakil Bupati Bekasi (tapi kalah ternyata hehe..) mungkin fans-nya sendiri akan kecewa, karena akan jarang mereka menikmati kembali karya-karya Ahmad Dani seperti sebelum dia aktif berpolitik. Itu saya kira resiko dari semua orang yang terjun ke dunia politik, pada saat dia menjadi tokoh atau publik figur di dunia seni.

Tapi bagaimana dengan musisi yang punya massa penggemar yang besar seperti Slank, Rhoma Irama atau Iwan Fals, itu apakah akan diarahkan untuk memilih salah satu calon atau partai atau dibiarkan bebas memilih sesuai kehendak hatinya?

Yang saya tahu, Slank itu tidak mengarah kepada partainya, tapi ia mengarah pada tokohnya. Ia mengarah kepada Ahok-nya, bukan kepada PDI.

Kecuali Rhoma Irama, pada akhirnya ia membentuk partai baru. Ahmad Dani ingin menjadi wakil bupati itu urusannya beda lagi. Iwan Fals juga tidak mengarahkan ke partai, dia netral-netral saja. Tapi dia mendukung siapa yang layak untuk jadi pemimpin daerah maupun nasional.

Pesan saya yang lain, yang tidak kalah pentingnya: hendaknya setelah semua selesai, pilkada selesai dan ada yang terpilih, harusnya pendukung satu dengan pendukung lain akrab kembali. Apalagi kalau mereka seniman, sampai terjadi misalnya selesai pilkada masih gontok-gontokan, maka industri tidak akan bergerak secara bagus.

Apa yang dilakukan oleh Tantowi Yahya itu benar. Dulu saat pilihan presiden, ia mendukung Prabowo luar biasa, tapi begitu Prabowo kalah dan partainya membolehkan, Tantowi berbalik mendukung pemerintah dan terpilih menjadi Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru. Ini kan satu contoh yang indah sekali karena tidak ada dendam disana. Pak Prabowo kan tidak terus kemudian dendam kepada Pak Jokowi.

Hari ini juga trejadi hal yang luar biasa, tadi saya dari Istana, ternyata Pak SBY bertemu Presiden Jokowi dan Beliau menunggu lebih dari 30 meni, karena Presiden Jokowi sedang bersama artis-artis dalam rangka Hari Musik Nasional. Saya lihat mereka sudah akur kembali. Karena dulu yang ditunggu banyak orang adalah bertemunya dua tokoh ini. Inilah betapa pentingnya setelah persaingan politik selesai harus bisa akur dan kompak kembali meski putranya AHY kalah di pilihan gubernur DKI Jakarta yang lalu hehe..

Makanya, di musik juga harus bersikap seperti itu, jangan sampai pendukung Ahok tidak akur lagi dengan pendukung AHY atau Anies Baswedan. Karena kalau itu terjadi, akan mengakibatkan pelemahan dari industri seni budaya. Karena setahu saya, yang paling banyak dukungan dari kalangan seniman adalah Ahok, tapi di pasangan calon yang lain juga ada.

Ini kan masih awal tahun, prediksi Mas genre musik apa yang kira-kira akan jadi tren?

Agak susah untuk memprediksi musik Indonesia. Dua tahun lalu, orang tidak kenal yang namanya Tulus, dengan karakter lagunya yang kuat sekali akhirnya dia menjadi populer. Maka jangan menunggu tren lahir dari industri musik, tapi harusnya menciptakan tren. Artinya, akan ada warna baru kemudian di apresiasi, akhirnya warna musik itu jadi satu musik unggulan, seperti munculnya Raisa, Tulus, dan lain-lain. Munculnya Tulus itu seperti munculnya Glen Fredly 10 tahun yang lalu, membuat kejutan. Itulah yang harus dilakukan menurut saya.

Jadi memang susah di prediksi, tiba-tiba saja ada grup baru nongol dan orang kaget ..”Lho ini siapa nih..?” karena sering kejadian seperti itu.   

Mungkin Mas punya pesan untuk insan pelaku-pelaku musik Indonesia di Hari Musik Nasional ini?

Pertama, sebetulnya yang harus dilakukan adalah tetap terus berkarya dan jangan cepat capek, jangan berhenti ketika saat mereka mengalami kendala hanya karena lagunya belum sempat diterima oleh masyarakat luas. Karena industri seni itu seringkali tidak terduga, tiba-tiba muncul sesuatu yang baru. Hari ini mungkin gagal, tapi suatu saat bukan tidak mungkin mereka sukses pada album kedua – ketiga. Dan itu banyak terjadi di industri musik kita.

Kedua, contohlah dari beberapa senior yang mereka benar-benar all out berusaha untuk bisa dikenal secara luas. Anggun C. Sasmi, Agnes Monica adalah contoh luar biasa sekali. Juga Raisa yang dari tadinya tidak bisa mencipta lagu akhirnya mencoba membuat karya sendiri.

Ketiga, perbaiki manajemen artis itu sendiri, kalau mereka berkarya hendaknya di bawah menajemen yang rapi, jangan one man show, jangan jalan sendirian. Kemudian manajemen bersama artisnya harus memanfaatkan sosial media sebanyak mungkin macam youtube – instagram dan lain-lain untuk mempromosikan karya-karya musiknya hingga orang akan mengenal lebih banyak. Artinya, jangan gaptek, karena kalau mereka berkarya tapi diam saja, maka akan ketinggalan terus nanti, karena banyak orang populer justru karena menguasai sosial media. Yang paling sederhana contoh ya.. Ratna Listy, itu dimana semua sosial media isinya Ratna Listy. Dwiki Darmawan juga begitu, setiap dia tur ke luar negeri selalu dia ceritakan lewat sosial media kalau dia sedang jam session dengan musisi dari Amerika, dari eropa, itu semua dia ceritakan sehingga semua orang tahu kalau Dwiki Darmawan masih aktif. Itulah contoh-contoh bahwa orang selalu meng-update kemampuan mereka.

Termasuk Slank yang bagus sekali penguasaan sosial medianya, bahkan ulang tahunnya pun dia undang fans, undang wartawan kemudian ekspresinya di publikasikan. Yang saya maksud, bukan ulang tahun Slank, tapi ulang tahun musisinya sendiri, Bim Bim ulang tahun, dia bikin acara, direkam, di-upload, nah itu seru yang seperti itu. Sehingga update di media sosial itu akan membantu eksistensi dari seniman itu sendiri. Itu menurut saya yang paling penting di industri era digital ini. ***

Foto: Rima/Okezone

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut