Ketika Orang Miskin Dilarang Naik Kereta

Pada tahun 1914, di koran “Doenia Bergerak”, Mas Marco Kartodikromo membuat protes keras. Judulnya: Lenyapnya Tiket Di Peron. Saat itu, tiket kereta api tiba-tiba hilang di semua stasiun, khususnya tiket hijau alias tiket klas ketiga (pribumi).

Gara-gara itu, kaum pribumi terpaksa membeli tiket klas dua, yang harganya lebih mahal. Namun, yang membuat Mas Marco lebih marah lagi adalah perlakuan diskriminatif antara pengantar pribumi dan non-pribumi (Eropa dan Tionghoa).

Mas Marco Kartodikromo, jurnalis pribumi berpena tajam itu, menulis begini: “Sekarang, seorang ayah Jawa, katakanlah begitu, tak dapat masuk ke Peron stasiun, dan terpaksa menunggu di tempat terbuka, di jarak yang aman dari stasiun itu. Namun, kalau seseorang kebetulan tergolong keturunan Belanda atau Tionghoa, ya, silahkan masuk dan duduk di bangku, di dalam stasium. Hmmm..si bapak Jawa dijadikan seperempat manusia.”

Memang, layanan kereta api kolonial jaman itu sangat diskriminatif. Di kereta yang sama, ada klas-klas: kelas satu khusus untuk penumpang Eropa; kelas dua untuk golongan Eropa berpendapatan rendah dan pribumi klas atas; dan kelas ketiga atau sering disebut “kelas kambing” diperuntukkan untuk pribumi biasa.

Padahal, sejak kereta api pertama-kali beroperasi di Jawa tahun 1862, kaum pribumi-lah yang paling antusias. Pada tahun 1904, sebuah Komisis khusus pemerintah kolonial melaporkan perkembangan jumlah penumpang kereta jaman itu. Hasilnya: jumlah penumpang kelas satu hanya naik 4000-an orang selama tiga tahun, sedangkan kelas dua naik 33.000 orang. Yang sungguh menakjubkan, penumpang kelas kambing justru meroket sebesar 550.000.

Memang, setelah mobil masuk ke Jawa, kereta api tak menarik lagi bagi kaum elit. Maklum, kehadiran mobil sangat nyambung dengan obsesi kalangan elit, termasuk elit pribumi, untuk memamerkan kekuasaan dan kekayaan mereka. Sementara kereta api semakin akrab sebagai transportasi massal milik rakyat kebanyakan.

Tak heran, begitu Republik Indonesia diproklamirkan, Djawatan Kereta Api-lah sasaran pertama yang direbut dan diambil alih oleh rakyat dan kaum revolusioner Indonesia. Nasionalisasi kereta api menginspirasi nasionalisasi perusahaan-perusahaan kolonial lainnya.

Sayang, model layanan kereta api yang mengenal “kelas-kelas” itu diwarisi pemerintah Republik Indonesia hingga sekarang. Hanya namanya saja yang diubah: kelas eksekutif, kelas bisnis, dan kelas ekonomi. Dan, karena perbedaan kelas itu, layanan yang diberikan pun berbeda-beda.

Kelas ekonomi, yang dulu disebut “kelas kambing”, selalu yang paling terdiskriminasikan. Fasilitas dan layanannya sangat buruk. Tidak ada AC atau alat pendingin lainnya. Di perjalanan, kalau ada KRL ekspres mau lewat, KRL ekonomi harus berhenti untuk memberi jalan. Itulah nasib KRL ekonomi!

Namun, sekalipun penuh suka duka, tetapi KRL ekonomi-lah yang sesuai dengan ukuran “kantong rakyat”. Tak heran, sekalipun sudah penuh sesak, tetap saja KRL ekonomi diserbu penumpang dari kalangan rakyat jelata. Bahkan, banyak yang rela mempertaruhkan nyawa dengan naik ke atap gerbong.

Orang tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk mengetahui, bahwa akar persoalannya adalah jumlah gerbong yang terbatas. Artinya, jika ingin mengurangi orang yang memanjat atap, seharusnya pemerintah menambah gerbong. Tetapi, ternyata tidak begitu di pikiran pemerintah dan PT.KAI. Yang dilakukan justru memasang bandul beton seberat 30 kilogram di atas rel untuk mencegah orang naik ke atap kereta. Bayangkan, kalau kepala manusia terkena bandul beton itu?

Namun, itu belum seberapa. PT. KAI pelan-pelan mulai menghapuskan KRL ekonomi itu. Selanjutnya, layanan akan digantikan dengan KRL AC Commuter Line. Alasannya pun klise: KRL ekonomi sudah banyak yang rusak, tidak layak pakai, dan sering mogok. PT KAI pun beralasan, KRL ekonomi tidak dihapus, hanya diganti dengan KRL AC.

Masalahnya, perbedaan tarif tiket KRL ekonomi dengan KRL AC ini berkali-kali lipat. Artinya, rakyat yang dulu menggunakan KRL ekonomi belum tentu sanggup membayar tarif KRL AC. Jadi, kalau PT. KAI bilang ini hanya “pengalihan”, itu jelas bohong. Kalau pengalihan, seharusnya tidak ada perbedaan tarif.

Esensi dari kebijakan PT. KAI ini adalah mengubah layanan kereta api agar sepenuhnya berorientasi bisnis. KRL ekonomi yang bertarif murah, bisa dijangkau oleh semua kantong rakyat, dianggap tidak ekonomis. Lalu, supaya bisa meraup untung, disodorkanlah KRL AC dengan tarif lebih tinggi.

Namun, dampak penghapusan KRL ekonomi bukan hanya menyingkirkan penumpang berkantong tipis. Tetapi juga menyingkirkan PKL, pedagang asongan, pengemis, pengamen, dan rakyat jelata lainnya yang selama ini mengadu nasib di KRL ekonomi.

Bahkan, saking dominannya nafsu bisnis di otak pejabat PT.KAI, PKL di stasiun pun digusur. Lalu, setelah stasiun bersih dari “orang miskin”, dimasukkanlah mini-market dan pemodal besar. Dengan begitu, kantong PT. KAI makin tebal karena pajak pemodal besar itu.

Inilah yang terjadi. PT. KAI, yang didukung oleh sebagian anggota DPR dan Menteri BUMN Dahlan Iskan, benar-benar menghilangkan watak sosial dari kereta api. Layanan kereta api sekarang jauh lebih anti rakyat miskin dibanding jaman kolonial. Orang miskin benar-benar dilarang naik kereta api!

Sigit Budiarto, Kontributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Maksud

    Yaelah, gini nih Indonesia sekarang, yang kaya makin kaya yang miskin makin menderita. Dimana tujuan yg katanya menyejahterakan rakyat? Oh ya terlaksana, tapi cuma menyejahterakan yg punya duit aja.
    Jika tujuanmu wahai Pemerintah, ingin membangkitkan potensi dan semangat kerja masyarakat. Konsepmu sungguh salah besar.
    Potensi orang memang hampir sama bung, tapi apalah gunanya potensi jika tak terfasilitasi.
    Wallahu’alam

  • Ibnu Suradi

    KRL RAKYAT, BUKAN KRL BORJUIS
    GERAKAN MENGEMBALIKAN KRL MENJADI ANGKUTAN RAKYAT

    Saudara-saudara penumpang KRL yang dirampas haknya,

    Dahulu, KRL dibangun oleh rakyat dengan uang rakyat dan digunakan untuk
    rakyat. Oleh sebab itu, KRL disebut angkutan rakyat yang digunakan bagi semua
    rakyat baik yang kaya maupun miskin.

    Ketahuilah saudara-saudaraku sekalian. Kita – rakyat kelas menengah ke
    bawah – membayar pajak saat membeli setiap barang yang kita butuhkan. Pajak
    tersebut dikumpulkan pemerintah. Sebagian darinya digunakan untuk membangun
    rel, stasiun dan peralatan KRL.

    Ketahuliah bahwa jumlah masyarakat kelas menengah ke bawah lebih banyak
    daripada jumlah masyarakat kelas menengah ke atas. Oleh sebab itu, pajak yang
    kita bayar lebih besar dari pada pajak yang mereka bayar. Ini berarti bahwa
    bantuan kita bagi pembangunan KRL lebih besar daripada bantuan mereka.

    Dengan demikian, sebenarnya kita lebih berhak menikmati KRL yang layak.
    Kita lebih berhak naik KRL kita sendiri dengan harga tiket yang terjangkau.

    Namun apa yang terjadi saudara-saudaraku? Pemerintah, PT. KAI dan PT. KCJ
    menggunakan KRL yang kita bangun untuk orang-orang kaya yang mampu membayar tiket dengan harga mahal. Kita ditinggalkan, ditelantarkan dan disiksa. Kita tidak boleh naik KRL yang layak. Kita yang membangun KRL dipaksa untuk
    berdesak-desakan dalam gerbong KRL yang penuh sesak.

    Dan ketahuilah saudara-saudaraku sekalian. Kini, KRL rakyat yang kita
    bangun telah berubah menjadi angkutan kaum borjuis. Hanya orang-orang kaya saja
    yang bisa menikmatinya. Sedangkan kita? Kita disiksa, disiksa dan disiksa terus
    oleh pemerintah, KAI dan KCJ.

    Wahai saudara-saudaraku senasib dan sependeritaan. Hak kita untuk menikmati
    KRL yang kita bangun sendiri dirampas oleh pemerintah, KAI dan KCJ. Oleh sebab
    itu, jangan tinggal diam. Ayo kita bergerak untuk mengembalikan KRL menjadi
    angkutan rakyat seperti sediakala. Kita harus merebut kembali KRL yang kita
    bangun. Kita lawan para perampas hak kita. Mari kita galang kekuatan di setiap
    stasiun pada jalur Jakarta – Bogor dan Bekasi – Tangerang dan Serpong. Bergabunglah dalam ”GERAKAN MENGEMBALIKAN KRL MENJADI ANGKUTAN RAKYAT”.

    Salam Pejuang KRL Rakyat:

    Cilebut: Ibnu Suradi (088210231570), Deddy (081380278514), Aris (087845054283)
    Bogor: Herry (085777164759), Tris (08561314626), Dedy (088210215579)

    Citayam: Topo (085312762815)
    Bekasi: Ardhi (085311023234)