Protes Anti-Pemerintah Di Turki Makin Meluas

Puluhan ribu rakyat Turki dari berbagai spektrum politik berhasil merebut lapangan Taksim, Minggu (2/6). (Foto: AFP)

Ketidakpuasan rakyat Turki terhadap rezim Recep Tayyip Erdogan makin meluas. Dalam protes yang memasuki hari ke-3 hari Minggu (2/6), puluhan ribu rakyat Turki turun ke jalan menuntur pengunduran diri Perdana Menteri Tayyip Erdogan.

Namun, tidak berbeda dengan protes dua hari sebelumnya, protes hari ketiga kembali diwarnai kekerasan. Polisi kembali memuntahkan gas air mata dan mengerahkan meriam air untuk membubarkan aksi protes yang berlangsung di berbagai kota.

Di Istambul, puluhan ribu rakyat dari berbagai sektor sosial berhasil merebut kembali lapangan Taksim, Minggu (2/6). Lapangan ini punya nilai historis dan politik dalam sejarah Turki. Dua hari sebelumnya, massa gagal menjangkau lapangan ini karena diblokade dan dibubarkan oleh Polisi.

Namun, aksi pendudukan lapangan Taksim itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Tayyip Erdogan muncul di Televisi dan menuding demonstran sebagai ekstremis dan perampok, polisi pun mula membubarkan puluhan ribu massa dari lapangan Taksim.

Erdogan juga menyalahkan partai oposisi sekuler terbesar, Partai Rakyat Republiken, karena telah memprovokasi massa. “Kami berfikir bahwa partai oposisi utama, yang telah membuat seruan perlawanan di setiap jalan, telah memprovokasi protes ini,” katanya.

Menteri Dalam Negeri Turki, Muammer Guler, memperkirakan sedikitnya 200-an aksi demonstrasi yang berlangsung di 67 kota di seluruh Turki. Situasi ini membawa Turki dalam gelombang protes anti-pemerintah terbesar sejak tahun 2002.

Gelombang protes ini bermula dari aksi protes awal pekan lalu dengan partisipasi segelintir orang. Mereka menolak penggusuran taman—namanya Gezi Park–oleh pemerintah Erdogan. Namun, penggusuran ini punya nuansa ideologis, karena pemerintah hendak menggantinya dengan sebuah mesjid dan pusat perbelanjaan bergaya era Ottoman.

Namun, kepolisian Turki merespon aksi protes damai itu dengan sangat brutal, yang menyebabkan ratusan orang terluka. Inilah yang menyulut protes yang lebih luas dan menyeret protes anti-pemerintah di seantero Turki. Asosiasi Dokter Turki melaporkan, dalam protes besar yang sudah berlangsung tiga hari itu, 1000-an orang terluka di Istambul dan 700-an di Angkara.

Rakyat Turki telah merespon represi berlebihan dari rezim Erdogan sebagai kecenderungan otoritarianisme. Banyak aktivis HAM menyebutkan, sejak Turki di bawah kendali Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP), kehidupan demokrasi di Turki makin terancam.

Banyak wartawan dijebloskan ke penjara karena mengeritik pemerintah. Selain itu, Erdogan juga dianggap memaksakan nilai-nilai agama ke dalam negara, seperti pelarangan alkohol, aborsi, dan lain-lain. Padahal, Turki adalah negara sekuler yang memisahkan negara dan agama.

“Hari ini merupakan titik balik bagi AKP,” kata Koray Caliskan, seorang ilmuwan politik dari Universitas Bosphorus Istambul, kepada media Inggris, The Guardian. Menurutnya, Erdogan terlalu percaya diri, otoriter, dan tidak mau mendengarkan siapapun.

Hal senada diungkapkan oleh Ugur Tanyeli, seorang sejarawan arsitektur. Dia bilang, “masalah sebenarnya bukanlah Taksim, atau tentang sebuah taman, melainkan sebuah proses pengambilan keputusan yang sangat tidak demokratis dan tidak melalui konsensus.”

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut