Kembalikan Radio Republik Indonesia (RRI) Sebagai Radio Perjuangan!

Kita harus mengemudikan siaran RRI
sebagai alat perjuangan dan alat Revolusi
seluruh Bangsa Indonesia
dengan jiwa kebangsaan yang murni
hati yang bersih dan jujur serta budi
yang penuh kecintaan dan kesetiaan
kepada Tanah Air dan Bangsa
(Tri Prasetya RRI)

Radio Republik Indonesia (RRI) telah berusia 65 tahun hari ini. Sejak didirikan dalam suasana revolusi, 11 September 1945, RRI telah mengemban tugas sebagai radio perjuangan atau radio revolusi Indonesia. Melalui kecekatan tangan para pekerja Radio, berita kemerdekaan Indonesia telah tersiar dengan cepat ke seluruh tanah air dan dunia internasional. Sejarah pun telah mencatat, RRI tidak hanya berperan menyampaikan berita atau informasi kepada rakyat Indonesia dan dunia, tetapi juga turut mengobarkan semangat revolusi kemerdekaan itu melalui siaran-siarannya. “Sekali mengudara tetap mengudara,” demikian slogan RRI yang sangat patriotik.

Akan tetapi, RRI mulai bergerak “mundur” ketika rejim Soeharto berkuasa, yang telah menjadikan radio milik rakyat ini sebagai sarana “indoktrinasi” pemerintah dan tempat mensosialisasikan kegiatan-kegiatan pemerintah. RRI, seperti juga sarana milik pemerintah lainnya, tidak lagi menarik untuk pemirsa luas, dan perlahan-lahan mulai ditinggalkan oleh sebagian rakyat Indonesia.

Apalagi sekarang ini, di tengah menjamurnya radio swasta yang menawarkan “segudang” hiburan, keberadaan RRI semakin terperosok jauh. RRI mungkin masih sering didengar oleh orang tua, namun semakin ditinggalkan orang-orang muda, seolah-olah menjelaskan bahwa RRI sudah tidak lagi memiliki masa depan.

Setelah kekuasaan Soeharto berakhir, RRI sempat menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) di bawah Departemen Keuangan ( PP No 37 Tahun 2000), dimana keberadaannya sudah hampir menyerupai radio swasta. Namun, akhirnya status RRI berubah setelah keluarnya UU 32/2002 tentang Penyiaran dan PP 12/2005, yang telah menempatkan RRI sebagai sebagai lembaga penyiaran publik. Meski sudah begitu, tetap saja RRI belum berhasil mengambil kembali “predikatnya” sebagai radio kecintaan rakyat Indonesia.

RRI sedang memasuki sebuah dunia baru dengan tantangannya yang sangat berat. Setelah revolusi Industri, yang menandai revolusi mendasar dalam teknik produksi, saat ini dunia sudah memasuki revolusi tahap lanjut, yaitu revolusi teknologi komunikasi. Dalam hal ini, teknologi informasi tidak lagi sebatas radio dan televisi, tetapi telah berkembang luas seperti penggunaan seluler, internet, dan lain sebagainya.

Pertama, masyarakat Indonesia akan berhadapan dengan banyaknya pilihan informasi, dan boleh jadi RRI akan menjadi “sejarah”, jika tidak sanggup melakukan inovasi dan menguasai perkembangan saat ini.

Kedua, perkembangan teknologi turut mendorong menjamurnya media massa, tanpa memperhitungkan bentuk dan isinya. Media massa, meminjam pendapat semiologist Buen Fernando, adalah pasukan ideologi dari imperialisme yang bersenjatakan fitnah, kebohongan, dan manipulasi informasi.

Seiring dengan revolusi teknologi informasi, selain memberi manfaat kepada manusia dalam sistim berkomunikasi, perkembangan media telah menjadi alat atau senjata paling penting dalam menyebarkan individualisme dan konsumtifisme. Media massa telah menjadi senjata pembunuh massal di abad modern, dan korban-korbannya adalah pemuda dan rakyat kita. Ujung-ujungnya adalah menghancurkan jiwa dan karakter bangsa kita, sehingga bangsa kita tidak lagi memiliki kebanggaan nasional.

Di sinilah RRI kembali dibutuhkan dan terpanggil untuk menyelamatkan Republik Indonesia dari cengkeraman imperialisme dan neo-kolonialisme. RRI harus dikembalikan pada rel-nya, yaitu sebagai alat perjuangan dan alat revolusi bangsa Indonesia, sebagaimana dicetuskan dalam Tri Prasetya RRI; “Kita harus mengemudikan siaran RRI sebagai alat perjuangan dan alat Revolusi seluruh Bangsa Indonesia dengan jiwa kebangsaan yang murni hati yang bersih dan jujur serta budi yang penuh kecintaan dan kesetiaan kepada Tanah Air dan bangsa.”

Untuk itu, kita harus mengeluarkan RRI dari perangkap “komersialisasi” dan mengembalikan sepenuhnya sebagai radio milik negara. Pertama, RRI harus dikembangkan dan dimajukan pengelolaannya sesuai dengan tuntutan situasi baru. Harus ada perbaikan kualitas pada mutu siaran dan teknik, disamping dukungan penuh dari negara dari segi anggaran dan sumber daya. Kedua, RRI sudah harus mulai mengangkat kembali tema-tema mengenai identitas nasional, misalnya mulai mempromosikan keanekaragaman budaya dan tradisi bangsa Indonesia. Ketiga, Selain menyajikan informasi secara ilmiah dan kontinyu, RRI seharusnya mulai mengutamakan “pendidikan” bagi rakyat sebagai agenda utama. RRI tidak boleh menjadi ‘pabrik consensus” bagi kepentingan korporasi dan pihak asing, tetapi harus menjadi “media pencerahan” bagi rakyat Indonesia.

Selamat hari lahir Radio Republik Indonesia yang ke-65! Merdeka!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut