Kartun Sebagai Media Kritik Sosial

Penghujung akhir tahun 2017 menjadi momen penting bagi para kartunis yang tergabung dalam Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI) menggelar Pesta Kartun Akhir Tahun 2017 yang bertema “Indonesia Ha-Ha-Hi-Hi” di Taman Ismail Marzuki yang perhelatannya dibuka pada 8 sampai 18 Desember 2017.

Kegiatan dan pameran kartun ini diselenggarakan oleh Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI), yaitu sebuah organisasi yang mewadahi aktivitas kesenian para kartunis Indonesia. Lewat wadah ini para kartunis tergerak untuk menyikapi secara cerdas dan berimbang setiap fenomena yang terjadi di Indonesia maupun dunia lewat karya kartun yang bermutu dan mengundang senyum.

Pesta Kartun 2017 ini ingin menyuguhkan karya terbaik dari para kartunis Indonesia atas fenomena dan gejolak politik yang terjadi di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Gonjang-ganjing dunia politik Indonesia yang makin memanas akhir-akhir ini dan maraknya pejabat yang korup, elite politik yang berebut kekuasaan atau isu SARA, isu kebhinekaan bahkan terror Bom adalah pemicu kreatifitas kami untuk menghasilkan karya kartun yang cerdas dan mendidik serta tidak berpihak pada kepentingan politik tertentu.

Menurut sejarah, asal mula kartun yang datang dari lingkungan seni rupa jaman renaisanse atau abad pertengahan merupakan seni yang bernuansa serius. Kelahirannya seiring dengan semangat humanisme yang meletakkan manusia sebagai objek dan subjek untuk mengenal berbagai hakekat kehidupan.

Istilah Cartoon, dalam istilah bahasa Italia, kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah kertas, sedangkan dalam bahasa Ingrris berarti gambar yang bersifat satire. Dalam The World Book Encyclopedia (1992) kartun berarti gambar atau serangkaian gambar yang memuat cerita atau pesan dalam wujud sindiran atau humor.

Sedangkan menurut Noerhadi di dalam atikelnya yang berjudul Kartun dan Karikatur sebagai Wahana kritik Sosial mendefinisikan kartun sebagai suatu bentuk tanggapan lucu dalam citra visual. Disini Noerhadi memisahkan secara tegas konsep kartun dengan karikatur. Dimana, tokoh-tokoh kartun bersifat fiktif yang dikreasikan dengan menyajikan komedi sosial serta visualisasi jenaka, sedangkan tokoh-tokoh karikatur adalah tokoh-tokoh tiruan lewat distorsi untuk memberikan persepsi tertentu kepada pembaca dan sering disebut dengan portrait caricature.

Kartun sebagai Media Kritik Sosial

Mendengar kata kartun, bayangan kita akan langsung tertuju pada gambar yang lucu dan menarik. Selanjutnya, dengan gambar tersebut, kita akan dibuat tersenyum geli. Namun tak jarang gambar kartun juga akan membuat kita senyum kecut karena sarat dengan satir.  Ia bisa menyindir sana-sini tanpa menyakiti.

Namun, bagi anak-anak kartun merupakan sarana hiburan seperti yang banyak kita lihat di televisi. Bahkan sekarang tokoh-tokoh kartun telah merambah memasuki dunia perfilman, seperti film Doraemon, Sponge Bob, Tom and Jerry dan sebagainya. Kekuatan kartun bahkan bisa membuat anak-anak mampu menangkap pesan tanpa sebuah teks.

Kartun tidak hanya menjadi hiburan semata, karena gambar kartun bersifat representatif simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon atau humor. Kartun biasanya muncul dalam publikasi periodik untuk menyoroti masalah-masalah politik atau masalah sosial. Kita bisa membedakan dua tipe kartun, yaitu: (1) kartun humor atau yang disebut gag cartoon, biasanya untuk menyindir kebiasaan-kebiasaan perilaku seseorang atau situasi tertentu, (2) kartun politik (political cartoon), kartun yang mengangkat topik situasi politik sebagai lelucon.

Simbol-simbol karikatural yang menonjolkan unsur lucu dan di luar kebiasaan ini bukan saja memberi kebebasan bagi sang kartunis untuk menyampaikan pikirannya tetapi sekaligus menjadi daya silet atas fenomena yang dibidik. Sehingga, kegetiran dan kepahitan dapat disampaikan sebagai suatu keanehan dan lelucon belaka.

Kartun tidak menegur secara langsung, tetapi objek yang disasar akan merasa sadar dan tidak marah. Dengan demikian, kartun adalah media komunikasi untuk mengingatkan seseorang yang telah lupa diri dengan cara ramah dan bersahabat. Di samping itu, kartun juga bisa menjadi alat kritik tanpa amarah, karena disampaikan sebagai sebuah sindiran.

Kini kehadiran kartun sudah menjadi barang yang diminati dan dinanti. Rubrik kartun oleh para penerbit menjadi daya tarik tersendiri, karena mudah dipahami dan tak perlu seseorang mengerutkan keningnya untuk memahami pesan yang disampaikan oleh kartun.

Sekilas tentang PAKARTI

Pakarti adalah Persatuan Kartunis Indonesia (Indonesia Cartoonist Association). Pakarti dideklarasikan pada 1989 di Ancol, Jakarta. Terpilih sebagai Ketua Umum Pramono R. Pramoedjo untuk masa kepengurusan 1989-1994. Pada 1994, diadakan Munas (musyawarah nasional) di Yogyakarta untuk memilih Ketua Umum Pakarti periode 1994-1999 dan Pramono R. Pramoedjo terpilih lagi hingga periode 1999-2004.

Periode 2004-2009 terpilih Jango Pramartha sebagai Ketua Umum Prakarti yang deklarasinya diselenggarakan di Bali. Penuh optimisme dan harapan, itu yang terlihat dari wajah sumringah para kartunis yang hadir dan menyaksikan prosesi penobatan pengurus Pakarti periode tersebut. Apalagi Bali bagi sebagian besar kartunis Indonesia merupakan pintu gerbang internasional; sehingga layak bila dengan ditempatkannya Pakarti di Bali akan dapat membuka akses internasional. Itu artinya, akses bagi para kartunis Indonesia untuk dapat menikmati kelanjutan dari pergaulan tersebut. Apakah itu dalam bentuk sosialisasi atau peluang-peluang lain yang pada dasarnya bakal meningkatkan harkat dan martabat kartunis Indonesia di kancah dunia.

Periode 2009-2014, Is Ariyanto pemuda dari Solo menjabat ketua umum, Pakarti di bawah anak-anak muda yang tentu saja penuh dengan energi dan kesegaran tersebut diharapkan dapat menata kembali konstruksi organisasi baik dalam arti fisik/teknis maupun filosofis-ideologis. Namun, pada tahun 2011 mengundurkan diri karena sibuk sebagai jurnalis dan kartunis di Solo Pos.

Jan Praba dari Jakarta yang menggantikan kekosongan pengurus periode 2011-2014. Ia bersama rekan-rekan kartunis Jakarta berhasil membuat gerakan moral untuk membuat 500 karikatur wajah Pepeng dan mendapatkan rekor MURI di acara Kick Andy. Kepengurusan Jan Purba berlanjut pada periode 2014-2019 melalui Mubes di Solo. Banyak kegiatan dan kerjasama yang telah dilakukannya.

Pesta Akhir Tahun 2013 yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki adalah sebuah kebangkitan bagi sebuah pameran kartun yang biasanya hanya menggunakan media kertas dan berukuran kecil (A3), tapi saat itu yang dipamerkan sudah menggunakan media yang tidak terbatas. Dari sekadar kertas, kanvas, tiga dimensi, instalasi bahkan ada yang menggunakan media bokong truck serta sajian menarik tentang fragmen dan performing cartoon.

Tahun 2014, Pakarti bekerjasama dengan KPK untuk edukasi antikorupsi melakukan edukasi lewat kartun. Momentum lain adalah gerakan moral 1000 kartun antikorupsi kerjasama antara Pakarti dan KPK yang sempat dipamerkan di Indonesia International Book Fair 2017 di Jakarta Convention Center dan atas kerjasama tersebut mendapatkan rekor MURI atas pameran kartun terbanyak.

Siti Rubaidah

Foto Ilustrasi: Komunitas kartunis Bali yang bergabung dalam Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) Bali menyelenggarakan pameran kartun nasional NKRI Harga Mati di Plaza Renon, Denpasar, Bali,  Minggu (20/8). Pameran yang berlangsung hingga Selasa (22/8/2017. KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut