Kampanye ‘Belanja Pangkal Kaya’, Efektifkah?

Selama ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada faktor eksternal, yakni ekspor, investasi asing, dan utang luar negeri. Sementara faktor internalnya, antara lain, adalah konsumsi rumah tangga.

Karena itu, ketika perekonomian global mengalami perlambatan alias resesi, ekonomi Indonesia pun megap-megap. Ekspor Indonesia, yang sebagian besarnya adalah bahan mentah, terpukul oleh jatuhnya harga komoditas dunia. Sebaliknya, impor Indonesia makin meningkat, terutama impor migas dan bahan baku industri.

Akibatnya, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2013 mencapai USD 9,8 miliar atau 4,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara defisit serupa pada triwulan I-2013 mencapai 5,819 miliar dollar AS. Penyebab defisit ini, menurut Bank Indonesia (BI), dipicu oleh menurunnya kinerja ekspor, yang pada triwulan II hanya USD 45,6 miliar atau turun 4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pemerintah puan dibuat keteter. Tanggal 21 Agustus lalu, Presiden SBY pun mengungkapkan pesimismenya. Presiden SBY mengakui, dengan perlambatan ekspor itu, Indonesia sulit mengejar target pertumbuhan tersebut. “Saya harus dengan jujur mengatakan, untuk mencapai 6,3 persen, barangkali berat bagi Indonesia,” ujar Presiden SBY.

Menghadapi kenyataan itu, pemerintahan SBY seolah-olah hendak beralih ke pasar internal. Hal itu, misalnya, terlihat dari gencarnya kampanye “keep buying strategy”, yakni upaya pemerintah untuk tetap menjaga permintaan di dalam negeri. Kampanye ini kemudian divulgarkan bahasanya oleh Menteri Keuangan M Chatib Basri dengan slogan “belanja pangkal kaya”. Dengan strategi ini, pemerintah berharap, rakyat terus berbelanja. Menyimpan uang atau menabung justru akan membawa negeri ini dalam krisis. Hanya dengan belanja-lah output produksi perusahaan di dalam negeri tetap terjual.

Memang, ketika AS dan Eropa terhunjam resesi, banyak negara yang memilih penguatan pasar internal sebagai strategi untuk menahan kejatuhan ekonomi. Biasanya kebijakan ini disertai stimulus untuk mendorong penciptaan kesempatan kerja penuh dan menaikkan daya beli rakyat.

Di Indonesia, belanja rumah tangga berkontribusi 55 persen terhadap pertumbuhan PDB. Sementara belanja pemerintah berkontribusi 9 persen hingga 10 persen. Namun, yang patut dicatat, tingginya konsumsi itu banyak dipicu oleh kredit konsumsi.

Nah, di sinilah letak masalahnya. Apakah “keep buying strategy” yang diterapkan pemerintah ini bisa efektif? Di sini kami mencatat setidaknya ada dua kendala besar.

Pertama, hampir semua barang-barang yang dikonsumsi bangsa Indonesia adalah barang impor. Bahkan, untuk kebutuhan pangan dan sembako pun, kita bergantung pada impor. Ketika rakyat dipaksa tetap melakukan belanja, maka yang terbeli adalah barang-barang impor tersebut. Artinya, kampanye keep buying strategy hanya membuat Indonesia menjadi pasar bagi barang dan produk asing.

Bagi kami, inilah masalah terbesarnya: pasar internal kita sudah dibanjiri oleh produk impor. Alhasil, ketika kita menggenjot daya beli rakyat, belum tentu produk perusahaan nasional yang terbeli. Inilah yang berbeda dengan negara lain yang menerapkan strategi serupa. Taruhlah misalnya China. Di negeri tirai bambu itu, barang-barang yang membanjiri pasar internalnya kebanyakan hasil produksi perusahaan mereka sendiri.

Kedua, langkah atau stimulus apa yang diambil pemerintah untuk menjaga daya beli rakyat. Pada kenyatannya, daya beli rakyat terus tergerus. Kenaikan harga BBM pada bulan Juni lalu sangat berdampak pada kenaikan harga barang-barang dan kebutuhan pokok. Kenaikan harga produk pangan beberapa bulan terakhir juga sangat menguras kantong masyarakat.

Sementara itu tingkat kesejahteraan rakyat tidak membaik. Lapangan pekerjaan tetap sulit. Menurut BPS, hingga akhir 2012 sebagian besar tenaga kerja kita (60%) terserap di sektor informal, yang kepastian pekerjaan dan upahnya tidak terjamin. Di sektor perburuhan, pemerintah juga masih melanggengkan politik upah murah dan sistem kerja kontrak/outsorcing. Sementara di desa-desa kaum tani makin melarat akibat kehancuran sektor pertanian dan gempuran pangan impor.

Kalau kita lihat 13 paket kebijakan penyelamatan ekonomi yang baru saja diumumkan pemerintah, Jumat (23/8/2013), semuanya bertumpu liberalisasi investasi. Ada beberapa poin malah cenderung menekan kesejahteraan rakyat, khususnya kaum buruh. Misalnya, demi menjaga kenyataman investor, pemerintah akan menjaga upah minimum provinsi (UMP) agar mencegah pemutusan hubungan kerja. Artinya, agar dunia usaha merasa nyaman, pemerintah akan mengupayakan agar upah buruh ditekan serendah mungkin.

Dengan demikian, kampanye ‘belanja pangkal kaya ini’ sangat menyesatkan. Pertama, tanpa adanya jaminan pekerjaan dan penghidupan yang layak, kampanye ini hanya akan mendorong rakyat dalam jebakan utang konsumsi. Kedua, pihak yang diuntungkan dari kampanye ini adalah produsen produk dan barang impor yang membanjiri pasar internal Indonesia.

Bagi kami, untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar eksternal, harus ada reorientasi kebijakan ekonomi. Pertama, harus ada perubahan orientasi dari produksi ekonomi, yakni dari orientasi ekspor menjadi berioentasi kebutuhan rakyat. Prioritas utama produksi, termasuk industrialisasi, adalah menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh rakyat. Impor hanya dimungkinkan terhadap barang yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri.

Kedua, kita harus berhenti menjadi negara pengekspor bahan mentah. Pemerintah harus segera mendorong proses hilirasi produk-produk primer. Selain itu, agar neraca pembayaran kita tidak terbebani BBM impor yang begitu mahal, sudah saatnya pemerintah membangun kilang-kilang minyak di dalam negeri.

Ketiga, kita tidak bisa terus bergantung pada ekonomi ekstraktif, yakni pengambilan sumber daya alam yang langsung dari perut bumi seperti mineral, batubara, minyak bumi, gas bumi, dan lain-lain. Keuntungan dari sektor ekstraktif ini mestinya dialihkan untuk meransang pengembangan sektor yang lain, seperti manufaktur, pariwisata, perumahan, dan lain-lain.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut