Kalau “Orang Politik” Membuat Puisi

JAKARTA: Peneliti LIPI Jaleswari Pramodhawardani mengapresiasi dua orang politisi, Dominggus Oktavianus dan Agus Jabo Priyono, keduanya adalah pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD), karena telah menuliskan bait-bait perjumpaan hidupnya melalui puisi.

Hal itu disampaikan Jaleswari saat menjadi pembicara dalam peluncuran dua buku kumpulan puisi, buku “Negeriku” dan buku “Kawan dan Berlawan”, di PDS HB Jassin, TIM, Jumat (27/8). Selain Jaleswari, ada pula penyair Toga Tambunan, pernah didaulat sebagai penyair terbaik di Harian Ra’jat, sebagai pembicara dalam diskusi launching buku puisi ini.

Menurut Jaleswari, politisi dan puisi sering diprasangkai sebagai dua kutub yang tidak dapat saling-mengisi, sehingga banyak politisi yang tidak mempunyai ‘jiwa’ keadaban politik.

Jaleswari berusaha menjelaskan perkataan terkenal ‘personal is politics” dan hubunganya dengan kelahiran karya-karya puisi politik.

Menurutnya, seorang penyair tidak hanya menjadikan puisi sebagai sarana mengekspresikan perasaan, tidak hanya sekedar membangun impian, tidak hanya memilih yang dicintai dan yang tidak, tetapi puisi juga akan mengingatkan kita tentang hal terbaik yang telah kita lupakan, juga berfungsi menyebar gagasan-gagasan ke akar rumput dan membakar massa.

Selain itu, Jaleswari juga menyoroti fenomena berbangsa saat ini, dimana ia mengatakan bahwa kita tidak lagi memiliki sebuah kebanggan tentang martabat bangsa. “kita tidak lagi memiliki kebanggaan atas martabat bangsa ini. Untung saja isu Malaysia mencuat, sehingga nasionalisme semu kita bangkit lagi,” katanya.

Sementara itu, penyair Toga Tambunan saat mengomentari puisi “negeriku” karya Agus Jabo, mengatakan, karya tersebut tidak berasal dari kekosongan melainkan karena adanya integritas pribadi yang otonom atas lingkungan alam, kondisi social, dan dirinya sendiri.

Dia juga mengatakan, bahwa sebagian besar puisi Agus Jabo merupakan interpretasi atas pengalaman langsung dan tanpa jarak terhadap suasana lingkungan.

Dikatakannya, puisi-puisi Agus Jabo memotret lingkungan alam dan suasana social, seperti tercemin dalam beberapa karya, diantaranya, “pulang sekolah” (2009), “jika Malam Tiba” (2009), “Berburu” (2009), dan “Jika Hari Hujan”.

Ditanyakan bagaimana puisi bisa menjangkau publik Toga Tambunan mengatakan, “ hal itu sangat tergantung pada ukuran tinggi harmoni, mutu bentuk, dan mutu isi karya seseorang.”

Di bagian akhir diskusi, Toga Tambunan mengingatkan tugas para penyair yang tidak terpisah dari tugas-tugas perjuangan politik, yaitu mengawal perjalanan bangsa ini sesuai dengan cita-cita revolusi Agustus 1945. (Ulf)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Mz arifin.

    Kata Kennedy, politik memisahkan orang2, puisi menyatukan orang2.
    Dengan puisi, semoga orang akan bersatu dalam kebenaran, keadilan.

  • Pingback: Jurnal Toddo()