Jutaan Rakyat Venezuela Turun Ke Jalan Membela Revolusi

Todos somos Chavez, Kita semua Chavez. Kata-kata itu banyak dituliskan di poster, spanduk, kaos, bahkan di badan, ketika jutaan rakyat Venezuela turun ke jalan, Rabu (23/1), untuk mempertahankan Hugo Chavez dan sekaligus membela Revolusi.

Aksi massa ini sekaligus untuk memperingati peristiwa 23 Januari 1958, yaitu peristiwa ketika kekuatan sipil-militer berhasil menggulingkan Marcos Jimenez. Namun, mirip dengan penggulingan rezim orde baru di Indonesia, kemenangan rakyat itu dibajak oleh kaum reformis-liberal.

Pada hari yang sama, 23 Januari kemarin, oposisi Venezuela juga menyerukan pembangkangan sipil dan protes jalanan untuk menggugat keberlanjutan pemerintahan Chavez meskipun tidak menghadiri pelantikan pada tanggal 10 Januari lalu.

Bagi oposisi, ketidakhadiran Chavez secara fisik dalam pelantikan berarti kekosongan kekuasaan. Karena itu, oposisi mendesak segera diselenggarakan pemilu ulang.

Sementara bagi pihak pemerintah dan Majelis Nasional, proses pelantikan itu hanya “formalitas” belaka, dan itu dapat dilakukan di kemudian hari kalau Presiden Chavez sudah siap melakukannya. Bagi pemerintah dan Majelis Nasional, oposisi harus menghargai suara rakyat melalui proses demokratis, yaitu pemilu Oktober 2012 lalu, yang memberi mandat kepada Chavez sebagai Presiden.

Pada aksi kemarin, Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan sejumlah pejabat pemerintahan ikut berbaur di tengah-tengah massa di Caracas, Ibukota Venezuela. Di Caracas sendiri, jumlah demonstran mencapai ratusan ribu orang. Aksi serupa juga terjadi di seantero Venezuela.

Wakil Presiden Pusat Pekerja Bolivarian Sosialis (CSBT), Francisco Torrealba, mengklaim organisasinya memobilisasi sedikitnya 35 ribu orang dalam aksi ini. Mereka bergerak dari Libertador Avenue. Sementara Partai Komunis Venezuela (PCV) dan Kutub Patriotik Besar (GPP) bergerak dari stasiun La Bandera.

Milisi Bolivarian dari bergerak dari Propatria. Aktivis dari misi sosial dan gerakan sosial lainnya, termasuk sejumlah organisasi politik, juga bergerak dari tiga titik itu. Ratusan radio komunitas dan gerakan lainnya juga bergabung dalam aksi ini.

Konsentrasi massa dipusatkan di barrio 23 de Enero. Di sana dibuat panggung, dimana Chela Vargas, wartawan Jose Vincent Rangel, dan Maduro tampil di hadapan massa.

Wartawan Jose Vincent Rangel dalam pidatonya menegaskan, “Kita harus jelas bahwa 23 Januari adalah simbol dari rakyat yang tidak pernah menyerah.”

Sementara Maduro menekankan pentinganya rakyat bangkit setelah lelah dengan penyiksaan, penghilangan, kesengsaraan, kurangnya akses pendidikan, dan pengangguran.

Aksi serupa juga terjadi di seantero Venezuela. Di kota Andean Merida, yang jumlah penduduknya hanya 300 ribuan orang, mobilisasi kemarin adalah mobilisasi besar kedua dalam seminggu terakhir.

Pekan lalu, mahasiswa kanan membakar bendera Kuba dan patung Fidel  Castro di kota itu. Membalas tindakan serampangan itu, rakyat Merida memobilisasi diri untuk membela Kuba.

Sekjend Partai Komunis, Alejo Rodriguez, mengingatkan bahwa mobilisasi hari itu untuk menunjukkan peranan signifikan kaum muda dalam perjuangan 55 tahun melawan kediktatoran.

Oposisi Ingin Menciptakan Kekacauan

Pekan lalu, oposisi juga menyerukan mobilisasi jalanan pada tanggal 23 Januari 2012. Namun, kemarin, mereka hanya menggelar rapat akbar berjumlah 6000 orang di Miranda Park, Caracas.

Berbicara dalam rapat akbar itu, Sekjend dari koalisi oposisi-MUD, Ramon Aveledo, yang membacakan point ke-12 manifestonya untuk membela ‘Venezule di tengah ketidakpastian’. Ia menuntut pemilu Presiden baru dan oposisi akan memilih Presiden secara konsensus.

Legislator oposisi Alfonso Marquina melaunching ulang koalisi mereka—MUD—dan berniat melakukan perencanaan ulang dan rasionalisasi organisasinya.

Kantor berita publik AVN mengutuk pemukulan salah seorang jurnalisnya, Carlos Cachon, yang dikeluarkan dari acara oposisi dan kemudian dipukuli. Jurnalis itu dilarikan ke Rumah Sakit karena menderita luka-luka.

Sebelum acara rapat akbar dimulai, pemimpin oposisi Aveledo menuding jurnalis TV publik sebagai mata-mata yang dikirim pemerintah.

Sebelumnya, anggota parlemen oposisi menyebarkan dokumen berisi seruan kepada Angkatan Bersenjata Venezula agar menyelamatkan Venezuela dari ancaman “rezim Castro-komunis Kuba”.

Dokumen itu mengklaim, Kuba secara pelan-pelan telah mengambil-alih kendali Venezuela. Dokumen itu juga menuding komunis-Castro terlibat memanipulasi pemilu dan menggunakan keuangan Venezuela untuk ekspansi komunisme.

Dokumen itu ditandatangani oleh 120 orang, termasuk anggota parlemen oposisi, Maria Corina Machado, yang melakukan aksi walk-out saat pembacaan laporan tahunan di majelis nasional baru-baru ini.

Orang ini serang menciptakan dramatisasi dengan merancang serangan kekerasan terhadap dirinya. Hal itulah yang digunakan sebagai dalih untuk mengkambing-hitamkan pendukung Chavez.

Aktivitas oposisi untuk mengacaukan Venezuela makin meningkat. Belakangan, Menteri Dalam Negeri Venezuela, Nestor Reverol, menyarankan adanya pengamanan khusus terhadap dua tokoh utama pendukung Chavez, yaitu Wapres Maduro dan Ketua Majelis Nasional Diosdado Cabello.

Raymond Samuel

Nb: banyak informasi ini diolah dari Venezuela Analysis.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut