Polisi Tampar Aktivis Buruh di Tangerang

Kejadian tidak terpuji terjadi saat polisi membubarkan aksi damai Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) di kota Tangerang, Minggu (9/4/2017) pagi.

Dalam kejadian itu, seorang perwira menengah Polres Metro Tangerang, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Danu Wiyata, menampar seorang aktivis buruh bernama Emelia Yanti. Adegan penamparan itu terekam oleh kamera video dan tersebar di media sosial.

Menurut Ketua Umum GSBI Rudi HB Daman, kejadian penamparan itu terjadi saat GSBI Tangerang Raya menggelar aksi damai untuk mengkampanyekan isu-isu perburuhan yang belum diselesaikan oleh pemerintah kota Tangerang.

“Salah satu kasus yang kami angkat adalah kasus PHK terhadap 1300 orang buruh PT Panarub Dwikarya yang sudah berjalan lima tahun dan hak-hak buruhnya belum dibayarkan,” kata Rudi di Jakarta, Minggu (9/4/2017).

Namun, lanjut Rudi, belum juga buruh sempat menggelar spanduk dan poster aksi, mereka sudah dibubarkan oleh polisi. Polisi berdalih, aksi tidak boleh digelar hari Sabtu dan Minggu berdasarkan Perwali nomor 2 tahun 2017 tentang penyelenggaran penyampaian pendapat di muka umum.

“Dalam pembubaran itu, polisi memaki-maki dan mendorong massa aksi, serta merampas poster-poster aksi,” ungkapnya.

Tindakan polisi itu tidak diterima oleh Amelia Yanti, yang juga Sekjend GSBI dan bekas buruh PT Panarub Dwikarya. Dia mempertanyakan alasan pembubaran.

Dalam video yang beredar terlihat adu mulut antara AKBP Danu Wiyata dan Emelia Yanti. Suara Emelia meninggi menghadapi perwira menengah Polres Tangerang itu. Ditambah lagi, ada petugas lain yang mengelingi Amelia yang juga bersuara tinggi.

Terkait kejadian itu, GSBI mengecam keras pembubaran aksi buruh oleh Polres Tangerang. Mereka juga menuntut agar AKBP Danu Wiyata dipecat. GSBI juga menuntut pencabutan Perwali Tangerang nomor 2 tahun 2017 karena melanggar hak kebebasan berpendapat.

Minta Maaf

Terkait kejadian ini, Kepala Kepolsian Resor Tangerang Kota Komisaris Besar Harry Kurniawan sudah menyampaikan permintaan maaf kepada publik.

“Kami menyesalkan kejadian tersebut dan memohon maaf atas ketidaknyamanan terhadap peristiwa tersebut,” kata Harry, seperti dikutip Tempo.co, Minggu (9/4/2017).

Menurut Harry, Propam Polres sedang melakukan pemeriksaan terkait hal tersebut untuk mengambil langkah-langkah sesuai aturan yang berlaku.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut