Petani Jambi Dan Mesuji “Rally” Ke Istana Negara

Petani Jambi-poster

Menjelang siang hari (23/1), sekitar pukul 11.00 WIB, para petani peserta aksi jalan kaki (long march) 1000 kilometer (Jambi-Jakarta) melanjutkan aksinya menuju Istana Negara.

Berbeda dengan aksi sebelumnya, aksi jalan kaki ini dilakukan dalam bentuk “rally” bersama dengan petani Jambi dan Mesuji (Lampung) yang sudah 66 hari menggelar aksi pendudukan di depan kantor Kemenhut RI, di jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Setelah briefing sebentar, massa pun bergerak dari kantor Kemenhut-Senayan-Semanggi-Sudirman-Thamrin-Istana Negara. Di sepanjang perjalanan, petani tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel “Pasal 33 UUD 1945: Tolak Dominasi Modal Asing” dan “UUPA 1960: Tanah untuk Rakyat”.

Tak hanya itu, petani juga membagi-bagikan selebaran kepada setiap warga Jakarta di pinggir jalan yang dilalui, seperti pekerja kantor, Satpam, tukang ojek, PK5, dan lain-lain.

Dalam aksi rally di sepanjang kantor Kemenhut hingga Bunderan Hotel Indonesia (HI), kondisi cuaca agak terik. Meski demikian, beberapa petani memilih tidak mengenakan alas kaki.

Tiba di bunderan HI, petani beristirahat sejenak. Lalu, sekitar pukul 13.00 WIB, petani melanjutkan aksi jalan kakinya ke Istana Negara. Pada saat itulah kondisi cuaca mulai berubah. Awan hitam pekat menggantung di hampir seluruh langit Jakarta.

Ketika melintas di depan gedung Plaza UOB Jalan MH Thamrin, petani Jambi dan Mesuji sempat menyatakan ungkapan duka cita kepada korban tewas akibat terjebak banjir di basement gedung tersebut.

Sekitar pukul 13.20 WIB, rally petani Jambi dan Mesuji tiba di depan Istana Negara. Mereka disambut oleh ratusan aktivis gerakan rakyat dan rakyat Jakarta, seperti Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Sekber Buruh Jabodetabek, dan Aliansi Gerakan Kaum Tani untuk Reforma Agraria.

Baru saja tiba dan membentangkan spanduk di depan Istana Negara, hujan deras datang mengguyur. Meski demikian, sebagian besar para petani dan aktivis gerakan rakyat tidak beranjak dari tempat mereka.

Perwakilan dari berbagai organisasi rakyat, seperti SBTPI, SRMI, FBBJ, KPO-PRP, KPA, Solidaritas Perempuan, Buruh Migran, dan FSPOI, menyampaikan orasi berisi dukungan terhadap aksi long-march petani Jambi-Mesuji.

Ilhamsyah, yang mewakili Sekber Buruh Jabodetabek, menyatakan pentingnya persatuan diantara kaum buruh dan kaum tani berbasiskan kesamaan nasib akibat ditindas oleh rezim neoliberal.

Ketua Umum Serikat Tani Nasional (STN), Yoris Sindhu Sunarjan, mewakili petani peserta long-march untuk menyampaikan orasi. Ia menyatakan apresiasi atas dukungan berbagai organisasi rakyat atas aksi long-march sejauh 1000 km yang digelar oleh petani Jambi dan Mesuji.

Sekitar pukul 15.00 WIB, perwakilan petani Jambi dan Mesuji beserta perwakilan organisasi rakyat diterima oleh pihak Istana Negara. Namun, petani agak kecewa karena yang menemui mereka hanya tiga Asisten Staff Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah.

“Kemana Pak Presiden? Katanya, dia selalu blusukan agar tahu persoalan rakyat. Tetapi ketika kami datang menyampaikan tuntutan di Istana, dia malah tidak datang menemui petani,” ujar Ahmad Muslimin.

Dalam pertemuan dengan asisten Staf Khusus Presiden itu, petani Jambi menyampaikan perihal sikap Kementerian Kehutanan RI yang menarik-ulur penyelesaian konflik agraria di Jambi dan Mesuji.

Lalu, sekitar pukul 17.00 WIB, pertemuan itu berakhir. Setelah sosialisasi hasil pertemuan, petani pun bergegas kembali ke tenda tempat mereka melakukan aksi pendudukan di depan kantor Kemenhut RI.

Untuk diketahui, aksi long march petani Jambi dan Mesuji ini dimulai tanggal 12 Desember 2012 lalu. Petani memerlukan 43 hari untuk menempuh jarak Jambi ke Istana Negara.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut