Jaya Suprana Dukung Class Action Warga Bukit Duri

Sidang perdana Gugatan Class Action warga Bukit Duri-Ciliwung Merdeka  terhadap Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung (BBWSCC), Pemprov DKI Jakarta dan Pemkot Jakarta Selatan atas rencana Normalisasi Sungai Ciliwung berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (7/6/2016).

Selain dihadiri oleh perwakilan warga Bukit Duri dan Ciliwung Merdeka, juga dihadiri oleh sejumlah tokoh. Salah satunya, Jaya Suprana, yang mengenakan baju hitam, sarung, dan berselendang batik.

“Yang tidak mendukung warga berarti keterlaluan. Ini wajib hukumnya mendukung warga. Rakyat kecil itu soko gurunya negara. Negara tanpa rakyat tidak mungkin, tetapi rakyat tanpa negara masih mungkin. Kalau tidak mendukung rakyat kecil kuwalat nanti, “ ujar Jaya Suprana.

Sekitar 100 warga Bukit Duri dan Komunitas Ciliwung Merdeka menggunakan kaos putih bertuliskan #SaveBukitDuri-CiliwungMerdeka hadir berdesakan di Ruang Sidang Candra I, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Sidang akhirnya dibuka oleh Ketua Majelis Hakim Riyono dengan memanggil para pihak. Dalam sidang perdana tersebut, pihak penggugat dan kuasa hukumnya hadir memenuhi undangan. Akan tetapi pihak tergugat dalam hal ini adalah Kementerian Pu-PR Cq BWSCCC, Pemprov DKI Jakarta dan Pemkot Jakarta Selatan tak satupun yang hadir di persidangan.

Dalam kesempatan tersebut Vera W.S, SH,LLM  kuasa hukum warga menyampaikan keberatan-keberatan  warga atas pelaksanaan program Normalisasi Sungai Ciliwung yang seharusnya sudah daluarsa pada bulan Oktober 2015. Bahkan sampai sekarang  pemerintah terus melakukan sosialisasi rencana penggusuran warga dan relokasi warga Bukit Duri ke Rusun Rawa Bebek yang rencananya akan dilakukan pada akhir bulan Juni ini.

“Keberatan warga tersebut harus bisa dibuktikan dalam persidangan nanti,“ ujar Ketua Majelis Hakim Riyono menanggapi.

“Sidang tidak bisa dilanjutkan karena tergugat tidak bisa hadir. Sidang akan ditunda dua minggu dan dilanjutkan kembali hari Selasa, tanggal 21 Juni 2016.“

Adapun keberatan-keberatan yang disampaikan warga Bukit Duri atas program Normalisasi Sungai Ciliwung adalah sebagai berikut:

Pertama, Proyek Normalisasi Sungai Ciliwung sudah daluarsa pada bulan Oktober 2015. Namun Gubernur DKI Jakarta tetap menggusur  warga.

Kedua, Gubernur DKI Jakarta-Ahok sudah melanggar kesepakatan yang sudah dibuat oleh Jokowi bersama Warga yang berjanji tidak akan menggusur dan hanya ingin menata kawasan Bukit Duri dengan membangun kampung susun manusiawi Bukit Duri (KSM-BD)

Ketiga, Gubernur DKI Jakarta-Ahok menata kota dengan menggusur tanpa perencanaan dan melibatkan masyarakat setempat.

Keempat, Gubernur DKI Jakarta-Ahok menolak memberikan hak warga untuk mendapatkan ganti rugi dan tidak transparan dalam pelaksanaan proyek dan nilai ganti rugi yang sudah disiapkan oleh APBD.

Kelima, Gubernur DKI Jakarta-Ahok tidak pernah membuat penetapan lokasi Bukit Duri sebagai wilayah terdampak normalisasi.

Menurut Vera, walaupun proyek normalisasi Sungai Ciliwung sudah daluarsa, tetapi pemerintah tetap bersikeras melanjutkannya. Bahkan  telah menggusur sejumlah 133 rumah warga Bukit Duri (2/1/2016) dan akan menggusur  lagi 440 rumah dengan luas lahan 17.067 M2 milik warga untuk jalan inspeksi. Kerugian yang diderita warga atas penggusuran tersebut  totalnya sekitar 1,78 trilyun.

Dengan adanya masa daluarsa, berarti dasar hukum atas program normalisasi Sungai Ciliwung sudah tidak berlaku lagi. Sehingga  seharusnya pemerintah juga menghentikan program normalisasi Sungai Ciliwung karena sudah tidak ada dasar hukum yang melandasinya.

Aktivis Ciliwung Merdeka Sandyawan Sumardi  menyesalkan ketidakhadiran para tergugat, karena seharusnya mereka hadir memberi contoh berdemokrasi kepada warganya.

“Sebaiknya mereka hadir karena gugatan ini resmi. Sebagai pelayan masyarakat memberikan contoh demokrasi meski yang digugat itu pemerintah sendiri. Tidak ada alasan untuk mereka takut karena justru warga yang ditakut-takuti, “ ungkapnya.

Siti Rubaida

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut