Jangan Lupakan Nasib Pendidikan Nasional

Di negeri seribu satu masalah, seperti Indonesia, ada banyak masalah besar yang selalu luput dari perhatian nasional. Salah satunya adalah soal masa depan pendidikan dan kualitas masa depan generasi kita.

Membangun pendidikan nasional adalah mempersiapkan masa depan. Jika pendidikan nasional kita saat ini mengalami kemunduran, maka masa depan nasional kita tentu juga akan sangat suram, bahkan tidak bermasa depan.

Itulah yang terjadi saat ini: pendidikan nasional kita kian hari kian terpuruk. Dunia pendidikan terus-menerus dibayangi sekelumit masalah; biaya pendidikan yang makin mahal, infrastruktur dan sarana pendidikan yang buruk, kualitas dan mutu pendidikan yang kian merosot, dan lain sebagainya.

Menurut kami, ada beberapa hal penting yang mesti terperhatikan jika pemerintah masih punya keinginan membangun pendidikan nasional.

Pertama, bagaimana pemerintah memastikan bahwa pendidikan nasional bisa diakses atau terjangkau oleh seluruh rakyat. Ini sejalan dengan visi nasional kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam RAPBN 2011 yang dibacakan oleh presiden, anggaran pendidikan hanya dipatok sebesar Rp 50,3 trilyun. Angka itu turun sebesar Rp1,5 triliun dari anggaran tahun sebelumnya. Tetapi, menurut pemerintah, penurunan itu tidak menjadi masalah karena sebagian anggaran kini didesentralisasi ke daerah.

Pemerintah sudah membuat program wajib belajar 9 tahun, dan sekarang sudah melangkah pada program belajar 12 tahun. Tetapi kita belum tahu seperti apa capaian dari program belajar 9 tahun itu sendiri.

Persoalan penting lainnya: bagaimana pemerintah bisa menjamin pendidikan ini bisa diakses oleh seluruh rakyat, sementara pemerintah sendiri secara perlahan-lahan menyerahkan pendidikan nasional kepada mekanisme pasar?

Kemudian, yang tidak kalah penting juga, bagaimana pemerintah menuntaskan persoalan buta-huruf yang konon masih menyisakan 8,5 juta orang.

Kedua, bagaimana pemerintah memastikan bahwa anak didik yang sudah masuk ke dunia pendidikan tidak keluar karena berbagai alasan: biaya sekolah, kekerasan, kondisi pengajaran yang buruk, dan lain-lain.

Di sini pemerintah dituntut untuk mencegah kenaikan biaya pendidikan yang tiap tahun terjadi. Seringkali, karena tekanan ekonomi dan kemiskinan, orang tua dari keluarga miskin menarik anak-anaknya dari sekolah dan menyuruhnya bekerja demi menopang ekonomi keluarga. Mengatasi persoalan semacam ini memang tidak gampang. Negara dituntut untuk terus-menerus berperang melawan kemiskinan.

Masalah lainnya adalah soal bagaimana menciptakan iklim kondusif dalam proses belajar-mengajar. Sekolah jangan lagi tampil seperti penjara, tetapi harus didorong sedemikian rupa sehingga menarik dan merangsang semangat belajar anak didik. Pemerintah juga tidak boleh mentolerir berbagai bentuk kekerasan fisik dan verbal terhadap anak-didik.

Di sini ada kebutuhan untuk mendorong negara menyediakan makanan bergizi untuk anak didik. Program semacam ini banyak dijalankan oleh negara-negara di Amerika Latin.

Ketiga, bagaimana pemerintah memastikan bahwa sistim pendidikan nasional bisa berkualitas dan membentuk manusia yang berkepribadian nasional. Ini tentu saja bukan persoalan gampang. Tetapi ini sangat penting, jikalau bangsa ini menginginkan generasi-generasi tangguh di masa depan.

Di sini peran dari kurikukum, metode belajar-mengajar, fasilitas belajar (perpustakaan, laboratorium, komputer/internet, dll), dan lain-lain, sangat diperlukan. Proses belajar-mengajar tidak boleh juga dimaknai sempit, yakni hanya di sekolah, tetapi harus diperluas hingga belajar kepada masyarakat dan lingkungan.

Di masa lalu, negara dianggap terlalu mencampuri urusan kurikulum pendidikan dan hal itu dianggap negatif. Tetapi, ketika kurikulum dilepaskan dari kontrol pemerintah, justru kepentingan pasarlah yang juga sangat dominan. Ini menyebabkan kurikulum pendidikan sangat jauh dari cita-cita membentuk manusia Indonesia yang berkarakter dan berkepribadian nasional.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut