Ironi Nobel Perdamaian

Anda bisa membuka-buka daftar penerima nobel perdamaian di Wikipedia. Di situ anda akan mendapat jawaban: 22 orang Amerika Serikat mendapat nobel perdamaian dan itu terbanyak di seluruh dunia.

Tetapi Amerika juga merupakan satu-satunya negara yang mengoperasikan 700 hingga 800 pangkalan/basis militer di 63 negara. Sedangkan 255,065 personil militer AS disebar di berbagai negara di dunia.

Sejak tahun 1945, AS juga berpartisipasi dalam penggulingan 50-an pemerintahan nasional di seluruh dunia. Kebanyakan pemerintahan yang terguling adalah pemerintahan demokratis dan dicintai rakyatnya.

Tetapi, orang bisa saja mengatakan, “nobel itu diberikan kepada individu dan tidak ada hubungannya dengan negara tempat tinggal.”

Nobel perdamaian memang kebanyakan diberikan kepada individu.

Penganugerahan nobel perdamaian adalah sebuah kontroversi, bahkan sebuah ironi. Alfred Nobel, nama tokoh yang mewasiatkan penganugerahan nobel ini, adalah penemu dinamit dan pernah bekerja para rejim Tsar di Rusia.

Saya juga tak habis fikir kenapa seorang pejuang besar seperti Mahatma Gandhi tidak pernah mendapatkan anugerah nobel. Ia adalah seorang pejuang pembebasan kemerdekaan India untuk mengusir kolonialisme Inggris. Ia juga menjadi simbol dari berbagai perjuangan anti-kekerasan di seluruh dunia. Meskipun ia seorang nasionalis tulen, tetapi Gandhi mengatakan “i am a nationalist, but my nationalism is humanity”.

Beberapa nama besar lainnya, seperti Jawarhal Nehru, Soekarno, Nasser, Kwame Nkrumah dan Broz Tito, yang memprakarsai gerakan non-blok untuk menghindarkan dunia dari perang dingin, tidak pernah masuk nominasi penghargaan non-blok.

Lihatlah daftar penerima nobel perdamaian di Mesir. Ada nama Anwar Sadat dan Mohamed ElBaradei. Keduanya adalah pelayan setia kepentingan barat di negara-negara Arab: Anwar Sadat berhasil mengubah haluan politik mesir yang anti-imperialis menjadi pro-imperialis, sedangkan Mohammed Elbaradei punya keterlibatan dalam membuka jalan serbuan AS ke Irak.

Selain itu, ada kecenderungan penghargaan nobel digunakan sebagai senjata barat untuk mencampuri urusan internal negara-negara lain, khususnya negara-negara yang relatif mandiri dari kontrol imperium.

Kita bisa menyebut beberapa contoh:

Shirine Ebadi (peraih nobel perdamaian 2003) adalah aktivis Hak Azasi Manusia di Iran. Pemberian nobel terhadap perempuan ini dianggap bagian dari politik barat untuk menekan pemerintahan di Iran.

Wangari Muta Maathai (peraih nobel perdamaian 2011) adalah aktivis lingkungan dan politik di Kenya. Pemberian nobel terhadapnya tokoh oposisi Kenya dianggap sebagai upaya barat untuk menekan Kenya dan sejumlah pemerintahan di Afrika yang berusaha mendekati Tiongkok.

Liu Xiaobo (peraih nobel perdamaian 2010) adalah intelektual dan aktivis HAM di Tiongkok. Di negerinya, Liu dianggap sebagai seorang pembangkang, menerima dana dari NED dan CIA. Liu juga dikritik banyak orang karena mendukung kebijakan AS menginvasi Vietnam, Korea, Afghanistan, dan Irak.

Dan yang paling kontroversial, bahkan paling memalukan, adalah pemberian nobel perdamaian 2009 kepada Barack Obama.

Obama telah mengomandoi serangan imperialis ke Libya. Ia juga bertanggung-jawab dengan pembantaian yang terus berlangsung di Irak, Afghanistan, dan berbagai tempat lain di seluruh dunia. Obama juga secara terang-terangan melawan aspirasi mayoritas bangsa di dunia yang setuju dengan kemerdekaan Palestina.

John Pilger, dalam sebuah petikan kalimatnya di film “The War on Democary”, pernah berkata: “Sejarah menjelaskan kenapa kita di barat lebih tahu kejahatan orang lain tetapi hampir tidak tahu kejahatan sendiri.”

Kita menjadi tahu bahwa penghargaan nobel tidaklah murni untuk mendukung perdamian dunia. Sebab, jika tujuan mereka adalah perdamaian dunia, maka seluruh pejuang anti-kolonial di seluruh dunia mesti diberi penghargaan nobel perdamaian.

Penyusun UUD 1945 di Indonesia juga harus mendapatkan nobel karena telah mencantumkan kata-kata: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Dan melalui sejumlah kejanggalan di atas, saya menjadi faham kenapa 110 tahun pemberian nobel perdamain tak juga bisa menghentikan perang penaklukan dan perampokan di berbagai belahan dunia.

Karena itu pula, kita menjadi faham mengapa Jean Paul Sartre, filsuf perancis yang terkenal itu, menolak nobel sastra pada tahun 1964. (Ilham)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut