“Bandit Merah” Yang Dicintai Rakyat

Sebuah pertemuan besar digelar oleh para pemuka rakyat Zhongdian, sebuah kota kecil di provinsi Yunnan, Tiongkok. Itulah pertemuan Chunyun, sebuah pertemuan wakil-wakil warga dari berbagai profesi, suku, dan agama. Pertemuan itu hanya membahas satu agenda: bagaimana respon rakyat Zhongdian terhadap kedatangan “bandit merah”.

Bandit merah adalah sebutan pejabat Koumintang, partai berkuasa di Tiongkok saat itu, terhadap tentara merah atau Tentara Pembebasan Rakyat (TPR). TPR sendiri adalah angkatan bersenjata partai komunis, yang sebagian besar anggotanya adalah kaum buruh dan kaum tani.

Zhongdian sendiri merupakan daerah otonom yang dipimpin oleh seorang Tusi atau kepala klan. Tetapi, sekalipun otonom, pemerintah nasional Koumintang menunjuk seorang pejabat Walikota di daerah Zhongdian ini.

Pejabat Koumintang sangat aktif berkampanye negatif tentang tentara merah: suka merampok, suka membunuh, mengambil istri-istri orang, merebut tanah-tanah pemuka masyarakat, tidak punya agama apalagi tuhan dan lain-lain. Pendek kata, bagi Koumintang, tentara merah adalah iblis yang tidak boleh diampuni.

Tetapi, propaganda busuk itu ternyata tidak mempan. Kebaikan dan nama baik tentara merah, sebagai tentara yang sangat disiplin dan mencintai rakyat, segera tersebar ke berbagai desa dan suku di Zhongdian.

Surat seorang kepala suku kepada pertemuan Chunyun menceritakan tentara merah sebagai berikut: “mereka sangat sopan dan ramah kepada rakyat, jual-beli harus adil, pinjam barang harus dikembalikan, merusak barang orang lain harus diganti, tetap berlaku adil terhadap tawanan.”

Pertemuan Chunyun pun memutuskan bahwa rakyat Zhongdian tidak akan menghalau tentara merah dan membiarkan tentara merah melalui kota mereka.

>>>

Kisah di atas adalah sebuah potongan dari film drama berjudul “Shangri-la”. Shangri-la sendiri adalah nama kota Zhongdian saat ini.

Film drama karya Jiang Jia Jun ini sebetulnya berkisah tentang seorang pemuda, Zhaxi (Hu Gue), yang rela menjadi perampok demi mencari pelaku pembunuh ibunya. Dalam film itu, Zhaxi secara kebetulan membantu tentara merah, bahkan sempat ditawari bergabung di pasukan kebanggan partai komunis tiongkok itu.

Setting film ini adalah tahun 1936, hanya beberapa tahun menjelang invasi Jepang ke Tiongkok.

Kisah tentara merah sendiri hanya merupakan fragmen-fragmen kecil. Tetapi, sekalipun begitu, Jiang jia Jun berhasil menggambarkan betapa tidak bergunanya propaganda Koumintang untuk memisahkan tentara merah dan rakyat.

Ada dua hal menurut saya yang membuat tentara merah sukses mematahkan kampanye negatif Koumintang itu:

Pertama, keberhasilan tentara merah menciptakan semacam kekuatan magis satu jenis tentara baru, yaitu tentara rakyat, dengan kedisiplinan dan moralitasnya yang kuat, sanggup menarik kekaguman massa rakyat. Bahkan, karena begitu termashurnya kebaikan tentara merah itu, daerah-daerah yang belum dikunjungi tentara merah pun sudah membicarakan kebaikan-kebaikannya.

Drama “Shangri-la” sangat kuat menonjolkan hal itu. Tetapi, beberapa penulis tentang partai komunis dan revolusi Tiongkok juga pernah menunjukkan itu. Edgar Snow, misalnya, yang menulis buku “Red Star Over China”, juga memperlihatkan kekagumannya dengan disiplin dan moral tentara merah.

Kedua, sekalipun menganut marxisme, sebuah teori yang didatangkan dari Eropa, tetapi para kader komunis Tiongkok sangat menghargai tradisi-tradisi agama maupun kepercayaan leluhur masyarakat setempat.

Kader-kader komunis itu dengan piawainya menceburkan diri dalam faktor-faktor etno-kultural masyarakat, sehingga mereka gampang diterima dan diberi kesempatan menyiarkan pandangannya.

Dalam film itu digambarkan bagaimana anggota tentara merah yang dikejar Koumintang mendapat perlindungan dari pemimpin Katolik dan Budha.

Pelajaran penting lainnya yang ditonjolkan oleh film Shangri-la ini adalah bagaimana orang-orang Tiongkok, khususnya di Zhongdian, yang masyarakatnya sangat beragam (agama, suku, dan ideologi), bisa membangun front persatuan yang kuat melawan invasi Jepang.

Zhaxi, yang diujung cerita diangkat sebagai kepala klan, berhasil membentuk sebuah milisi rakyat yang menggabungkan para Koumintang, tentara merah, suku-suku Tibet, perampok, orang-orang islam, dan lain sebagainya.

Ya, mungkin karena ini adalah sebuah film, sehingga kita nyaris tak melihat cacat di dalamnya. Tapi, terlepas dari semua itu, keberhasilan Tiongkok untuk berderap maju di tengah banyaknya terpaan badai telah membuktikan, bahwa bangsa ini sudah lama ditempa dan tidak mudah untuk retak.

Kusno, penikmat film dan anggota redaksi Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut