Harga Pangan Melonjak Pada Titik Berbahaya

Organisasi Bank Dunia mengatakan bahwa harga pangan dunia sedang melonjak pada titik sangat berbahaya dan akan berkontribusi pada ketidakstabilan politik lebih lanjut di sejumlah negara.

Selain itu, menurut perkiraan lembaga ini, kenaikan harga pangan akan mendorong jutaan orang jatuh dalam kemiskinan, setelah 44 juta orang sudah jatuh miskin semenjak bulan juni tahun lalu.

Bank Dunia menemukan bahwa harga pangan dunia sudah naik 29% sejak tahun lalu dan hanya 3% lebih rendah dibanding puncak kenaikan harga tahun 2008.

Organisasi yang berbasis di AS ini juga menyatakan bahwa kenaikan terutama terjadi pada jagung, gandum, dan minyak.

Presiden Bank Dunia menyatakan bahwa kenaikan harga paling banyak menghantam negara berkembang yang menghabiskan setengah pendapatannya untuk membeli bahan makanan.

“Harga pangan adalah tantangan kunci dan paling utama yang dihadapi di negara berkembang saat ini,” katanya kepada wartawan.

Indeks pangan Bank Dunia naik pesat sebesar 15% selama empat bulan terakhir ini saja, dan kini hanya sedikit di bawah tingkat ketika terjadi krisis pangan terakhir, tiga tahun lalu.

Kenaikan ini banyak didorong oleh aksi para investor yang melakukan spekulasi terhadap jagung, gandum, dan kedelai.

Harga jagung dunia naik dua kali lipat sejak musim panas yang lalu, dari $3.50 (£2.18) menjadi $7 (£4.36) per bushel, yang disebabkan sebagian besar karena permintaan negara berkembang dan permintaan untuk bio-fuel.

Harga lemak dan minyak dunia naik 22%, sedangkan gandum naik 20% sejak Oktober hingga Januari. Harga gula juga naik 20% pada saat yang sama.

Negara-negara kaya relatif bisa terhindar dari kenaikan harga bahan pokok dan makanan, yang hanya mewakili sebagian kecil dari pengeluaran mereka.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut