Tingkatkan Kesejahteraan Guru Honorer

Bertempat di Aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Forum Badan Ekesekutif Mahasiswa Pendidikan Yogyakarta menggelar acara diskusi bertema “Menyibak Masalah dunia Pendidikan dan Mahasiswa Pergerakan dengan Kontribusi Nyatanya”.

Dalam Diskusi yang dihadiri peserta dari berbagai kampus di Yogyakarta khususnya para mahasiswa fakultas keguruan ini mengemuka berbagai persoalan didunia pendidikan. Salah satu masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah infrastruktur/fasilitas pendidikan yang sangat minim.

Banyak sekolah-sekolah yang ruangnya di pakai secara bergiliran, bahkan di beberapa daerah kelas-kelasnya di gabung. Padahal, hal ini sangat tidak efektif untuk proses belajar mengajar. Selain itu keterbatasan infrastruktur ini semakin di perparah dengan kenyataan bahwa infrastruktur ini banyak yang ber-usia sudah tua dan tidak layak pakai.

“Kejadian gedung sekolah yang ambruk sering kali muncul di media masa, baik cetak maupun elektronik,” demikian dikatakan Moh Nurul Iksan, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang saat itu menjadi peserta diskusi.
Sementara itu, Edi Susilo, Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah DIY, yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut menyatakan bahwa saat ini masalah pendidikan di Indonesia, selain persoalan biaya pendidikan yang mahal, adalah infrastruktur yang kurang memadai, kurikulum yang berubah-ubah, dan kesejahteraan para tenaga pengajar.

“Kesejahteraan guru yang sangat minim, gaji seorang guru belum memenuhi standar hidup layak keluarganya, terutama para guru honorer, sehingga tidak jarang guru-guru terlibat kerja sampingan, dan ini sangat mengganggu konsentrasinya untuk mengajar. Tidak ada upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan para guru honorer,” kata Edi Susilo.

Gerakan Nasional Jangan Mencontek

Dalam diskusi tersebut juga mengemuka sebuah ajakan untuk berlaku jujur dalam memulai sebuah perubahan. “Sebuah ajakan sederhana namun berdampak sangat luar biasa untuk sebuah perubahan jika itu dilakukan oleh semua kalangan pendidikan,” demikian diungkapkan oleh Presiden Forum BEM Pendidikan Yogyakarta Galuh Wahyu Mustika di acara diskusi tersebut.

Gerakan yang dimaksud adalah “Gerakan Nasional Jangan Mencontek”, yakni sebuah gerakan sederhana tetapi berdampak sangat luar biasa. “Ini persoalan watak dari anak bangsa. Nyontek itu sama dengan korupsi kecil-kecilan,” katanya.

Lebih jauh, Galuh juga menyerukan agar sejak dini tidak mencontek. “Kawan-kawan yang suka mencontek agar tidak mencontek lagi demi masa depan bangsa. Ini adalah soal pembangunan mental sebuah bangsa. Dengan begitu, kita bisa membangun Indonesia yang mandiri dan berdaulat,” tegas Galuh.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • felice kania

    udah dikit masih sering dipotong ini itu duitx….hiks hiks