Hapuskan Kolonialisme!

17 Januari 1961: Patrice Lumumba, pemimpin pembebasan nasional rakyat Kongo, dieksekusi di tengah kesunyian oleh regu tembak. Mayatnya dipotong-potong dengan gergaji, lalu dibakar hingga tak berbekas. Semua itu dilakukan untuk menghilangkan jejak fisik, supaya tidak menciptakan kemarahan rakyat Kongo.

Ludo De Witte, seorang penulis Belgia yang banyak menulis soal ini, menggambarkan pembunuhan terhadap Lumumba sebagai “pembunuhan paling penting di abad ke-20”. Kejahatan ini sendiri merupakan puncak dari persekongkolan Amerika Serikat dan Belgia untuk menghentikan derap-langkah Lumumba dan rakyat Kongo dalam menentukan nasib bangsanya sendiri.

Kongo dijajah oleh Belgia selama ratusan tahun. Selama itu pula, rakyat Kongo diperlakukan seperti budak oleh Belgia. Tidak sedikit orang Belgia yang memanggil orang-orang Kongo dengan sebutan “babon” (kera besar). Bahkan panggilan “babon” juga berkali-kali dialamatkan kepada Patrice Lumumba.

Kejahatan Amerika dan negara-negara barat tidak hanya terjadi di Kongo. Sejak tahun 1945 hingga sekarang, Amerika serikat telah berpartisipasi dalam penggulingan sedikitnya 50 pemerintahan di negara-negara dunia ketiga. Kebanyakan pemerintahan yang terguling itu adalah pemerintahan demokratis dan dicintai rakyatnya.

Semua itu terjadi karena Amerika Serikat dan negara-negara barat tidak mau membuang nafsu kolonialnya. Mereka selama beratus-ratus tahun menjajah negeri-negeri di Asia, Afrika, dan Amerika latin. Nafsu kolonialisme-lah yang membuat mereka, seperti digambarkan Mumia Abu-jamal, seperti rombongan vampire keluar dari tempat persembunyian untuk mencari sesuatu untuk dimakan.

Libya adalah korban terbaru dari keserakahan kolonialis itu. Selama puluhan tahun Libya berusaha merumuskan jalan nasionalnya sendiri. Mereka membangun sebuah tipe demokrasi yang sama sekali berbeda dengan barat: Jamahiriya. Negeri pemilik 3,5% cadangan minyak dunia ini juga berusaha menggunakan kekayaan nasionalnya untuk memastikan rakyatnya bisa menikmati pendidikan gratis, kesehatan gratis, perumahan gratis, pinjaman bebas bunga, dan lain-lain.

Khadafi telah dibunuh oleh pasukan pemberontak dan NATO. Ia, seperti juga Patrice Lumumba dan banyak pejuang dunia ketiga lainnya, telah menjadi martir dari perjuangan bangsa-bangsa terjajah untuk menegakkan martabat dan kedauatannya.

Amerika Serikat, yang tidak pernah bercermin pada muka-buruknya, selalu menuding negeri-negeri yang mau “berjalan sendiri” sebagai negara totaliter. Negara-negara yang menolak prinsip dan nilai-nilai barat dianggap “barbar”. Amerika Serikat dan Eropa mungkin lupa bahwa penghapusan perbudakan pertama kali tidak terjadi di daratan mereka, melainkan terjadi di sebuah negara kecil di Karibia: Haiti.

Kita menjadi heran. Bukankah perikemanusiaan berarti penolakan terhadap perbudakan, penghisapan, dan berbagai tindakan yang merendahkan martabat manusia lainnya. Bukankah kolonialisme dan imperialisme adalah lawan dari semangat perikemanusiaan itu.

Bukankah persaudaran antar bangsa atau perikemanusiaan dunia hanya bisa terwujud jikalau kolonialisme dan imperiaisme bisa dihapuskan.

Ini adalah sebuah ironi memalukan: Amerika dan Eropa telah melakukan penyerbuan ke Libya atas nama kemanusiaan. Adakah kemanusiaan yang bisa ditegakkan dengan mengirimkan serangan bom, mempersenjatai bandit-bandit, dan melakukan pembantaian terhadap rakyat sipil.

Amerika Serikat, yang mengklaim sebagai pahlawan demokrasi di dunia, masih membiarkan ratusan ribu tentaranya menginjak kedaulatan dan martabat rakyat Afghanistan, Irak, Haiti, dan berbagai tempat lainnya.

Amerika Serikat, dan juga Eropa, juga masih membiarkan ratusan korporasinya menjarah kekayaan alam bangsa-bangsa lain dan meninggalkan kerusakan parah di sana. Kerakusan korporasi-korporasi mereka bahkan telah mengancam keselamatan dunia.

Karena itu, mengulang apa yang sudah diserukan para pendiri bangsa kita 60-an tahun yang lalu, bahwa “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • jovan

    hiduupp Republik Rakyat Indonesiaaaaaaaaaaa………..Merdeka sekali lagiiiiiiiiii……