Gerakan Rakyat Lampung Tolak Kenaikan Harga BBM

Sedikitnya 150-an massa aksi yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Lampung (GRL) menggelar aksi massa untuk menolak kebijakan rezim SBY menaikkan harga BBM, Senin (17/6/2013).

Sembari menenteng sejumlah spanduk dan poster, massa aksi GRL bergerak dari kantor Perpusatakaan Daerah Lampung menuju kantor DPRD Provinsi Lampung. Massa GRL memulai aksinya sekitar pukul 10.00 pagi.

“Aksi diarahkan ke kantor DPRD untuk menekan mereka agar bersikap menolak kenaikan harga BBM. Apalagi, di DPR-RI sedang berlangsung sidang paripurna membahas APBN-P, yang menentukan kenaikan harga BBM,” terang Rismayanti, salah seorang aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) yang turut dalam aksi ini.

Menurut Rismayanti, kebijakan kenaikan harga BBM tidak terlepas dari kesalahan kebijakan energi rezim SBY. Selain itu, kata dia, SBY tidak pernah jujur mengenai penyebab defisit APBN. Padahal, penyebab terbesar defisit APBN adalah pemborosan yang dilakukan oleh pemerintah.

Hal senada diungkapkan oleh Isnan Subkhi, Ketua Wilayah LMND Lampung, saat menyampaikan orasinya. Menurutnya, kenaikan harga BBM tidak lepas dari kegagalan rezim SBY mengelola kekayaan energi nasional yang sangat melimpah.

“Seharusnya kekayaan energi itu bisa dikelola sendiri, dengan prinsip berdikari, supaya kebutuhan nasional terpenuhi. Tetapi malah diserahkan kepada korporasi asing, yang menyebabkan kita tak lagi berdaulat di bidang energi,” ujarnya.

Sementara itu, aktivis dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Adi Riyanto, menyerukan agar rakyat tidak memilih Calon Legislatif, Gubernur, dan Calon Presiden dari partai Demokrat. “Partai Demokrat adalah sebagai biang kesengsaraan dan korupsi di Indonesia. Mereka sangat boros tapi rakyat dibebani gaya hidup birokrat,” katanya.

Aksi damai GRL ini sempat diwarnai bentrokan kecil. Hal itu terjadi saat massa aksi GRL dihadang oleh barikade kepolisian. Akibatnya, terjadi aksi saling dorong antara massa aksi GRL versus polisi. Pada saat itulah Ketua DPRD Lampung, Marwan Cik Asan, bersama sejumlah anggota DPRD lainya keluar menemui massa aksi.

Sayangnya, politisi dari Partai Demokrat tersebut menolak membubuhkan tanda-tangan untuk menolak kenaikan harga BBM. Ia pun langsung buru-buru masuk ke dalam kantor DPRD.

GRL sendiri merupakan gabungan dari sejumlah organisasi, seperti LMND, BEM Unila, SRMI, AGRA, KSN, FSBL, FMN, PMKRI, GMKI, GMNI, KAMMI, SMI dan PPI.

Saddam Cahyo

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut