‘Gerilya Kota’ Ala Baader Meinhof

THE BAADER MEINHOF COMPLEX

Sutradara:Uli Edel
Penulis cerita: Bernd Eichinger, dari novel karya Stefan Aust
Tahun Produksi: 2008
Pemain: Martina Gedeck (Ulrike Meinhof), Moritz Bleibtreu (Andreas Baader), Johanna Wokalek (Gudrun Ensslin)
Durasi: 2 Jam, 30 menit

Anda pernah mendengar tentang gerilya kota? Red Army Faction (RAF), sebuah kelompok mahasiswa kiri di Jerman, mempergunakan taktik perjuangan ini pada tahun 1960-an hingga 1970-an. Berbeda dengan strategi gerilya pada umumnya, gerilya kota ala RAF mengandalkan pengeboman, penyanderaan, dan perampokan bank.

Sutradara film Jerman, Uli Edel, berusaha mengangkat kisah RAF ini dalam sebuah film berjudul “Der Baader Meinhof Komplex (2008)”. Film ini berusaha mengadaftasi novel karya Stefan Aust dengan judul hampir sama: RAF & The Baader Meinhof Complex.

Andreas Baader dan Ulrike Meinhof adalah dua pentolan utama kelompok ini. Andreas Baader, anak tunggal seorang doktor sejarah, seorang pemuda bandel yang dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya. Sedangkan Ulrike Meinhof adalah seorang jurnalis kiri berbakat di koran “konkret”, sebuah majalah berhaluan kiri-tengah. Pentolah lainnya adalah Gudrun Ensslin, seorang mahasiswa filsafat dan anak seorang pendeta.

Film ini dimulai dengan kematian seorang mahasiswa, Benno Ohnesorg, saat protes menentang kedatangan diktator Iran, Reza Pahlevi. Kejadian itu segera memicu kemarahan gerakan mahasiswa. Ulrike Meinhoff, yang bersimpati dengan gerakan mahasiswa, mencela sikap pers kanan yang mendiskreditkan aksi mahasiswa.

Radikalisme mahasiswa makin meningkat tatkala Rudi Dutschke, pemimpin gerakan mahasiswa Jerman saat itu, hendak dibunuh oleh seorang fasis fanatik. Ia ditembak pada bagian kepala dan nyaris mati karena kejadian itu.

Pada tahun 1968, Baader dan Gudrun meledakkan pusat perbelanjaan Kaufhaus Schneider di pusat kota Frankfurt. Aksi itu merupakan balasan setimpal atas serangan AS terhadap Vietnam. Baader dan Gudrun ditangkap karena aksi itu.

Keterlibatan Ulrike Meinhof dimulai tatkala ia membantu pembebasan Baader. Akhirnya, setelah melalui proses perdebatan panjang, Ulrike memutuskan ikut pelatihan militer di sebuah kamp militan kiri di Yordania.

Pada tahun 1970, sebuah manifesto yang dibuat oleh Ulrike mengukuhkan berdirinya  Rote Armee Fraktion (RAF) atau Faksi Tentara Merah. Baader, juga sebagian besar anggota RAF, sangat terpengaruh oleh Carlos Marighella, seorang marxist Brazil. Salah satu tulisan Carlos Marighella, Minimanual of the Urban Guerrilla (1969), menjadi petunjuk bagaimana gerilya kota dijalankan: “Gerilya kota harus mengikuti tujuan politik, dan hanya menyerang pemerintah, bisnis besar, dan imperialis asing”.

RAF segera menerapkan teori itu: melakukan pengeboman terhadap kantor-kantor pemerintah dan markas militer; melakukan perampokan untuk membiayai perjuangan di berbagai tempat; melakukan penyanderaan sebagai alat negosiasi dengan penguasa; melakukan pembajakan pesawat untuk tujuan politik.

RAF juga menjalankan sejumlah pembunuhan politik terhadap sejumlah pengusaha dan tokoh politik, diantaranya: Jürgen Ponto (bankir), Hanns-Martin Schleyer (pemimpin federasi pengusaha), dan Siegfried Buback (seorang jaksa).

RAF, melalui Ulrike Meihof, membuat statemen politis untuk membenarkan aksi-aksinya. Ketika merampok bank, misalnya, dijelaskan bahwa mereka hanya merampok uang dari kaum kapitalis—sesuatu yang bisa dibenarkan dalam moral politik.

Banyak rakyat Jerman yang bersimpati dengan RAF. Akan tetapi, penggunaan kekerasan telah menjadi ‘pembenaran’ bagi media borjuis dan kelas penguasa untuk mendiskreditkan gerakan ini. Akhirnya, berbeda dengan mimpi RAF mengenai ‘segelintir gerilya yang memicu pemberontakan’, gerakan RAF gagal meraih dukungan luas dan memicu pemberontakan massa.

Masalah pun mulai muncul: satu persatu anggota RAF berhasil ditangkap atau dibunuh oleh Polisi. Sampai akhirnya tiga pentolan utamanya, Baader, Ulrike, dan Gudrun, ditangkap oleh polisi. Mereka dipenjara dalam ruang isolasi.

Ulrike, yang sering mengutip drama Bertolt Brecht, Die Massnahme, gantung diri di selnya pada tahun 1976. Sementara Baader, Gudrun,  Jan-Carl Raspe, Irmgard Moller juga melakukan aksi bunuh diri di sel masing-masing tak lama kemudian.

Sementara generasi penerus RAF di luar penjara makin tidak terkendali: mereka makin terperosok pada aksi terorisme individual, sesuatu yang sangat ditentang oleh penganut marxisme pada umumnya. Aktivis RAF generasi kedua berusaha menyandera pesawat Lufthansa, sebagai alat tukar-menukar antara tawanan dan kawan mereka di penjara, juga menemui kegagalan.

Bagi saya, kualitas teknik film ini cukup bagus. Hanya saja, sepanjang 2 jam 30 menit itu kita benar-benar disuguhi adegan kekerasan. Kita hanya memukan sekali pertemuan akbar dalam ruangan; saat Rudi Dutschke berpidato di tengah aksi solidaritas untuk Vietnam.

Selain itu, sebagai bumbu-bumbunya, film ini memperlihatkan bagaimana kehidupan anggota RAF: pesta, seks, dan revolusi. RAF sendiri menerapkan kesetaraan seksual di kalangan anggotanya. Gudrun, seorang yang digambarkan suka bermasturbasi dengan teori, mengatakan: No liberation without sexual liberation!

Sebagai sebuah film tentang kisah nyata, Der Baader Meinhof Komplex sangat sulit untuk ditonton oleh mereka-mereka yang tidak mengenal RAF atau kelompok militant sejenis. Film ini sangat sedikit menggambarkan latar-belakang sosial-politik Jerman Barat saat itu.

Selain itu, film ini sangat minim mengangkat perdebatan teoritik di kalangan aktivis gerakan mahasiswa perihal mengapa mereka mengambil metode perjuangan kekerasan. Sangat berbeda dengan, misalnya, film karya Ken Loach; Land and Freedom, yang menyuguhi kita dialog-dialog yang kaya dengan pengetahuan politik dan teori-teori marxisme.

Gudrun Ensslin, misalnya, yang sejatinya adalah penggemar teori, diperlihatkan sedang membaca buku Leon Trotsky dalam bak mandi. Padahal, kita tahu, Trotsky adalah seorang penentang metode ‘terorisme individual’ dalam perjuangan.

Lebih parah lagi penggambaran Andreas Baader, orang yang memimpin gerakan ini, yang ditonjolkan adalah “keberandalan”-nya. Ia seperti manusia tolol yang tidak memahami teori-teori perjuangan. Yang terlihat teoritis hanya Ulrike Meinhoff.

Karena minimnya dialog politik, juga penggambaran soal kondisi sosial-ekonomi Jerman saat itu—semisal kondisi klas pekerja dan rakyat pada umumnya, maka orang-orang awam bisa menafsirkan RAF sebagai organisasi teroris yang tidak berbeda jauh dengan kelompok Al-Qaida. Padahal, RAF dengan Al-Qaida jelas berbeda: RAF tidak pernah menyerang dan mengorbankan rakyat sipil. Sasaran serangan RAF juga punya target-target yang jelas: simbol-simbol kekuasaan dan militer.

Ada satu hal yang tidak bisa ditutupi: RAF punya cita-cita besar untuk menghancurkan sistem ekonomi politik yang menindas rakyat. Hanya saja, pilihan metode perjuangannya kurang disetujui banyak orang. Seperti dituturkan oleh Jean-Paul Sartre dalam The Slow Death of Andreas Baader: “Baader berharap saya mendukungnya, tapi ia tahu saya tidak sepakat dengannya”.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Anti Imperialista

    Ini udah ada filmya, silahkan download di torrent piratebay: http://bit.ly/xrVniR