SBY Tidak Menggunakan APBN Untuk Rakyat

Di bawah era kepemimpinan SBY, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memang meningkat sangat pesat. Namun, peningkatan tersebut tidak disertai dengan perbaikan kesejahteraan rakyat.

Pada tahun 2005, ketika SBY baru berkuasa,  APBN kita masih Rp 509 triliun. Tahun ini APBN kita sudah mencapai Rp 1,683 triliun. Kemudian tahun depan sudah mencapai Rp 1,900 triliun. Artinya, selama SBY berkuasa APBN naik sebesar 273%.

Namun, bagi Salamuddin Daeng, peningkatan APBN di era SBY tersebut merupakan hasil pemerasan terhadap rakyat dan mengobral kekayaan nasional kepada pihak asing.

Daeng pun menyebut tiga faktor yang menyebabkan APBN meningkat pesat. Satu, pemerintah mencekik rakyat dengan memungut pajak dan cukai tinggi. Dua, pemerintah menjual negara kepada asing dengan mengemis utang luar negeri. Tiga, pemerintah menggadaikan aset negara sebagai jaminan utang dari pasar keuangan.

Sudah begitu, kata Daeng, APBN di era SBY tidak dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Ia pun membeberkan tiga buktinya. Pertama, APBN tidak boleh digunakan untuk subsidi BBM, atau membiayai kebutahan dasar rakyat yang lain seperti pendidikan, kesehatan, dan lain-lain, karena akan mengganggu kepentingan bisnis di sektor tersebut.

Kedua, APBN tidak boleh digunakan untuk menjaga stabilitas harga sembako dan kebutuhan dasar lainnya karena menggangu mekanisme pasar bebas.

Ketiga, APBN tidak boleh dialoksikan untuk membangun infrastruktur karena infrastuktur telah menjadi tujuan investasi swasta melalui Public Private Partnership (PPP).

Daeng juga mengungkapkan, rezim SBY juga menggunkan APBN untuk membiayai hal-hal yang jauh dari kepentingan rakyat. Satu, membiayai Pemerintah dan DPR dalam bentuk gaji dan belanja rutin lainnya. Dua, membayar bunga utang dan cicilan utang pokok dalam dan luar negeri. Tiga, APBN digunakan semaksimal mungkin sebagai stimulus fiskal kepada perusahaan besar.

“Inilah ciri APBN berwatak neoliberal. Kalau dipakai untuk membayar utang luar negeri, dikatakan aman-aman saja. Tapi kalau dipakai mensubsidi kebutuhan rakyat, dikatakan APBN jebol,” ujar Daeng.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut