Front Rakyat Advokasi Sawit Tuntut Direktur PT. KLS Diadili

Sejumlah organisasi rakyat dan LSM yang tergabung dalam Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS-Sulteng) mendesak aparat penegak hukum untuk segera menangkap dan mengadili Direktur PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS), Murad Husain, terkait kasus kepemilikan perkebunan sawit secara ilegal dan kejahatan dalam menjalankan bisnis perkebunan sawit.

Menurut Syahrudin Ariestal, humas FRAS Sulteng, pada bulan Desember 2009, Polres Banggai sudah pernah menetapkan Murad Husain sebagai tersangka. “Penetapan Murad Husain sebagai tersangka ini berdasarkan laporan FRAS Sulteng yang menemukan banyak kejahatan hukum terhadap perkebunan di Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah,” kata Ariestal.

Ariestal pun membebarkan beberapa bukti kejahatan PT. KLS selama menjalankan bisnis perkebunan. Pertama, melakukan penggusuran dan mengambil alih lahan masyarakat Transmigran Agro Estate secara paksa.

“HGU PT.KLS sebetulnya seluas 6010 ha. Tetapi disepakati pelepasan lahan dari HGU itu seluas 275 ha untuk keperluan transmigrasi. Pemerintah sudah mengganti-ruginya. Belakangan, lahan itu dirampas dan ditanami sawit oleh PT. KLS,” ungkap Ariestal.

Kedua, berdasarkan hasil pengukuran FRAS Sulteng, HGU PT. KLS sudah bertambah dari 6010 ha menjadi 13.000 ha. Ironisnya, penambahan luas itu terjadi karena PT. KLS merampas hutan adat milik masyarakat Tau Ta’a Wana dan merampas lahan-lahan bersertifikat milik masyarakat desa Moilong, desa Toili dan desa Tou seluas ±1.500 Ha.

Ketiga, PT. KLS merambah kawasan Suaka Margasatwa Bangkiriang seluas ±500 Ha dengan cara menyuruh masyarakat setempat melakukan penebangan hutan dan kemudian mengganti rugi lahan hasil tebangan masyarakat dan ditanami sawit.

Keempat, PT. KLS membangun Join Venture dengan PT. Inhutani 1 untuk mendapatkan izin pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan nama PT. Berkat Hutan Persada (BHP) seluas 13.000 Ha.

“Izin ini menyalahi aturan, karena peraturan pemerintah memberikan syarat pemberian izin Hutan Tanaman Industri harus berada dalam kawasan hutan kritis. Faktanya, ternyata PT. BHP berada di atas kawasan hutan yang memiliki tegakan (hutan alam),” ungkap Ariestal.

Kelima, PT. KLS/BHP mendapatkan bantuan dana Reboisasi sebesar 11 Milyar dari pemerintah untuk menanam sengon, akasia dan jenis-jenis pohon lainnya. Kini dialih-fungsikan dengan menanam sawit didalam areal Hutan Tanaman Industri, sementara dana Reboisasi tidak di kembalikan kepada pemerintah.

Keenam, PT. KLS juga menanam sawit secara paksa diatas lahan masyarakat transmigrasi desa Piondo, desa Bukit Jaya, dan desa karya Makmur, di Kecamatan Toili Barat. Akibatnya, masyarakat melakukan perlawanan yang selauas-luasnya untuk mengecam perampasan lahan-lahan petani yang dilakukan oleh PT. KLS.

Ironisnya, kata Ariestal, kendati sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Banggai dan kasusnya telah di limpahkan ke Kejaksaan Negeri Banggai di Luwuk pada Mei 2010, tetapi hingga kini Murad Husein belum pernah diajukan ke pengadilan.

Lebih parah lagi, ungkap Ariestal, kendati Direkturnya sudah ditetapkan sebagai tersangka, PT. KLS masih melakukan penggusuran lahan warga dan pengrusakan sarana jalan transportasi menuju perkebunan warga desa Piondo. Hal itulah yang memicu amarah rakyat di desa Piondo, sehingga membakar alat berat dan kantor PT. KLS.

“23 orang petani ditangkap dan 1 orang aktivis FRAS (Eva Bande) ditangkap. 16 petani divonis 6-8 tahun penjara, 2 orang petani dihukum 3,6 tahun penjara, dan Eva Bande divonis 4 tahun penjara,” kata Ariestal.

Karena itu, Ariestal mewakili FRAS Sulteng mendesak aparat penegak hukum untuk segera menangkap dan mengadili Murad Husein. Selain itu, FRAS Sulteng juga mendesak Polres Banggai untuk menghentikan kriminalisasi terhadap petani. FRAS Sulteng juga mendesak pembebasan petani dan aktivis FRAS yang dikriminalisasi.

Untuk diketahui, FRAS Sulteng merupakan gabungan dari Serikat Tani Nasional (STN), WALHI-Sulteng, JATAM-Sulteng, YMP-Palu, Yayasan Tanah Merdeka, Yayasan Pendidikan Rakyat, Solidaritas Perempuan-Palu (SP-Palu), Analisis untuk Transformasi Sosial (ANSOS-Sulteng) dan Mahasiswa.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut