FPKR Sulteng Gelar Aksi Solidaritas Untuk Eva Bande

Eva.jpg

Puluhan massa aksi yang tergabung dalam Front Penyelamat Kedaulatan Rakyat (FPKR) Sulawesi Tengah menggelar aksi solidaritas di depan Markas Polda Sulawesi Tengah, Selasa (3/6/2014).

Aksi solidaritas tersebut menuntut pembebasan pejuang agraria, Eva Bande, yang saat ini mendekam di LP Luwuk. Selain itu, massa aksi juga mendesak agar pengusaha PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS), Murad Husain, segera ditangkap dan diadili.

“Eva Bande adalah aktivis yang memperjuangkan hak petani, yakni tanah,  yang dirampas oleh PT. KLS. Ini membuktikan bahwa hukum di Indonesia tidak berpihak kepada rakyat,” ujar koordinator aksi, Ariestal Douw.

Menurut Ariestal, jika hukum memihak pada kebenaran dan keadilan, maka yang ditangkap mestinya Murad Husain. Sebab, justru Murad Husain dan PT. KLS-nya telah merampas lahan milik petani dan membuka lahan perkebunan sawit ilegal.

“Pada tahun 2010, Murad Husain sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Banggai. Saat itu kasusnya adalah pengrusakan Suaka Marga Satwa Bangki Riang,” ungkap Ariestal.

Ironisnya, kata Ariestal, dalam perjalanan proses hukumnya, status Murad Husain berubah dari tersangka menjadi saksi. Malahan kemudian, Polres Banggai menerbitkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) karena alasan tidak cukup bukti.

Dalam aksinya, massa aksi tidak henti-hentinya meneriakkan yel-yel ‘Bebaskan Eva Bande” dan “Tangkap Murad Husain”. Tak hanya itu, massa juga membentangkan poster bergambar wajah Eva Bande.

Untuk diketahui, Eva Bande adalah aktivis Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS). Dia aktif memperjuangkan hak-hak petani yang dirampas oleh para pengusaha, termasuk para petani desa Piondo yang tanahnya dirampas oleh PT. KLS.

Pada bulan Mei 2010, PT. KLS merusak jalan yang selama ini dipergunakan oleh petani menuju sawah atau kebunnya. Karena tidak terima, warga pun menggelar protes. Saat itu warga tersulut emosi akibat tindakan perusahaan yang mengabaikan tuntutan mereka. Saat itu Eva ada di tempat kejadian. Ia tak punya kuasa membendung emosi massa yang sudah tidak terkendali. Terjadilah pengrusakan terhadap sejumlah aset perusahaan kala itu.

Kejadian itulah yang menjadi dalih bagi polisi untuk menangkap Eva Bande. Polisi menggunakan pasal 160 KUHP untuk menjerat dan menghentikan langkah perjuangan Eva Bande.

Dalam proses peradilan, Eva dijatuhi vonis 4 tahun penjara. Sementara aktivis petani lainnya yang juga ditangkap dijatuhi hukuman rata-rata di atas 3 (tiga) tahun: Nyoman Suwarna (3 tahun 6 bulan), Nasrun Mbau (diputus bebas tapi kemudian dikasasi oleh Jaksa), dan Moh. Arif (tahun 6 bulan).

FPKR merupakan gabungan dari beberapa organisasi yaitu: PRD ,JATAM, Sulteng, WALHI, STN, LMND, FNPBI, YTM, Komunitas EKOPOL, JAKER, PBHR, KPKP ST, Solidaritas Perempuan.

Yuspan Lasama

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut