Evo Morales: Amerika Serikat Merupakan Ancaman Terbesar terhadap Demokrasi

Presiden Bolivia Evo Morales kembali melontarkan kritikan keras terhadap Amerika Serikat. Menurutnya, negeri Paman Sam itu merupakan ancaman terbesar bagi kebebasan dan demokrasi.

“Ancaman terbesar terhadap kebebasan, demokrasi, bumi dan multilateralisme adalah Amerika Serikat. Aku tidak takut untuk mengatakan ini secara terbuka,” kata Morales saat menghadiri pertemuan Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) di Lima, Peru, Sabtu (14/4/2018).

Komentar keras Presiden Bolivia itu merupakan reaksi terhadap agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Suriah. Serangan tersebut belum mendapat restu dari Dewan Keamanan PBB dan melanggar prinsip PBB.

“Mereka (Washingtong) menganggarkan jutaan dollar untuk senjata pemusnah massal,” jelasnya.

Morales mengeritik Sekretaris Jenderal OAS, Luis Almagro, karena mengambil sikap diam atas agresi militer AS dan sekutunya terhadap bangsa Suriah.

“Amerika latin butuh OAS yang terbebas dari antek-antek imperialis,” tegasnya.

Lebih lanjut, Morales menceritakan bagaimana negerinya terbebas dari kungkungan imperialisme Amerika Serikat, setelah menendang keluar badan anti narkoba AS (DEA/Drug Enforcement Administration), USAID, dan Dana Moneter Internasional (IMF).

“Bolivia tidak jadi halaman belakang Amerika lagi,” tegasnya.

Menurutnya, sekarang ini bukan lagi saatnya membangun tembok pemisah, melainkan jembatan saling pengertian. Ia menyindir kebijakan Trump yang ingin membangun tembok pemisah sepanjang perbatasan Meksiko guna membendung arus imigran dari Amerika selatan.

Dia juga mengeritik tindakan Amerika Serikat yang berusaha menendang Venezuela dan Kuba dari perkumpulan negara-negara benua Amerika.

Di pertemuan itu, Morales juga membongkar kepalsuan pendekatan anti-korupsi yang disetir oleh negara-negara imperialis.

“Kami memperingatkan bahaya perjuangan anti-korupsi yang disetir negara imperialis untuk menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis,” ujarnya.

Dia merujuk pada kasus penggulingan Presiden Brazil Dilma Rousseff dan persekusi politik terhadap Lula da Silva oleh politisi sayap kanan dengan menggunana isu korupsi.

Menurutnya, defenisi yang dangkal dan kurang tepat soal korupsi sebagai penyalahgunaan uang publik seringkali dimanfaatkan oleh politisi kanan untuk menjatuhkan lawan politik.

“Kapitalisme, perusahaan multinasional dan spekulasi adalah biang kerok dari korupsi, karena hanya menempatkan penumpukan kekayaan sebagai tujuan utama,” paparnya.

Dia menegaskan, jika perjuangan anti-korupsi tidak berupaya mengubah atau mendemokratiskan lembaga semacam IMF dan Bank Dunia menjadi hamba pelayan publik, maka semuanya akan sia-sia.

Untuk diketahui, pertemuan negara-negara benua Amerika yang tergabung dalam OAS berlangsung sejak 12 April lalu di kota Lima, Peru. Selain dihadiri oleh wakil dari Negara Amerika latin dan Karibia, pertemuan ini dihadiri juga oleh Wakil Presiden AS, Mike Pence.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut