Ini 5 Kebiasaan Politisi Indonesia Jelang Pemilu atau Pilkada

Ajang politik, seperti pemilu dan Pilkada, seharusnya mempertontokan perbenturan gagasan dan program-program politik. Sehingga calon pemilih bisa memutuskan dari dasar sanubarinya pada program politik mana ia pantas menjatuhkan pilihan dan melabuhkan harapan.

Tetapi pemilu dan Pilkada sangat jarang menyajikan tontotan yang demikian. Yang paling banyak adalah menyuguhkan dangdutan. Atau tingkah laku para politisi yang kadang menggelikan.

Nah, biacara tingkah laku politisi, berikut ini 5 kebiasaan politisi di Indonesia jelang Pemilu maupun Pilkada.

  1. Makan di Warung Pinggir Jalan

Bukan hanya poster dan baliho kandidat yang bertaburan di pinggir jalan. Sudah seperti musim, setiap jelang pemilu atau Pilkada, calon-calon rajin mampir di warung-warung di pinggir jalan.

Mereka bukan berteduh dari panas atau hujan. Tetapi sambil menyantap makanan dan meneguk secangkir kopi. Dan disela-sela aksi itu, biasanya langsung cekrek..cekrek. Tak lama kemudian, hasilnya diunggah ke media sosial.

Tak jarang juga, calon-calon itu membawa awak media, agar kejadian di warung makan itu bisa diwartakan ke khalayak ramai. Dan tentu saja, harapannya agar si calon mendapat beribu apresiasi, lalu berbuah dukungan suara.

Tetapi pesan apa yang hendak ditunjukkan oleh politisi ketika makan di warung kecil di pinggir jalan? Saya menduga, mereka mau menampilkan kesan merakyat.

Seperti kita ketahui, selama ini rakyat sudah muak dengan gaya politisi yang elitis. Mereka enggan dirangkul oleh politisi yang sengaja membentangkan jarak. Karena itu, rakyat rindu dengan politisi yang merakyat. Jadi jangan heran, menjelang pemilu atau Pilkada, banyak politisi yang mendadak merakyat.

  1. Rajin Bersalaman dengan Rakyat Biasa

Sering juga, kalau sudah mendekati pemilu atau pilkada, calon-calon akan rajin kunjungan ke bawah, ke kampung-kampung, pasar-pasar, atau pelosok desa, untuk menjumpai rakyat banyak.

Padahal, kalau tidak ada pemilu atau pilkada, tidak sedikit diantara mereka yang hidup berjarak dengan rakyat. Jangankan dengan rakyat pelosok desa, dengan rakyat jelata di sekitar tempat tinggalnya belum tentu diajak akrab.

Tetapi, alhamdulillah, pemilu dan pilkada telah membuat politisi-politisi itu mengingat rakyat. Bahkan, ketika sudah berkunjung ke tengah rakyat, mereka tak pelik untuk mengumbar senyum dan mengajak salaman. Mereka juga begitu sabar mendengar keluhan rakyat.

  1. Mendadak Saleh/Religius

Mungkin karena mayoritas rakyat Indonesia masih melihat kesalehan sebagai ukuran penting terhadap kualitas kepribadian seseorang, maka jualan kesalehan atau religiusitas itu sangat laku dalam pasar politik Indonesia.

Dan menjelang pemilu atau pilkada, banyak calon yang mendadak saleh. Dan ukuran pertama, kesalehan itu ditunjukan lewat kostum. Kalau perempuan, biasanya langsung berkerudung. Kalau laki-laki, mereka mengenakan kopiah.

Selain itu, mereka juga rajin mengunjungi tempat-tempat ibadah. Kadang mereka tiba-tiba pemurah: suka menyumbang ke tempat ibadah. Kalau calon yang beragama Islam, mereka juga rajin datang ke pesantren dan mengunjungi kyiai.

  1. Mendadak Populis

Populisme adalah kecenderungan politik yang didasari oleh ide bahwa masyarakat bisa dibagi antara “mayoritas rakyat yang tertindas” versus “segelintir elit yang menindas”. Populisme adalah reaksi atas ketidakadilan sosial dan tersumbatnya suara rakyat.

Di Indonesia, pengertian populisme sering dikaitkan dengan politik yang merangkul atau mengutamakan rakyat kecil. Biasanya lewat program atau kampanye politik yang menyentuh kepentingan rakyat kecil.

Nah, setiap menjelang pilkada atau pemilu, politisi di Indonesia akan berlomba-lomba menjadi populis. Mereka akan menyusun program yang benar-benar memihak rakyat kecil. Sayangnya, itu hanya trik untuk meraih dukungan politik.

  1. Menziarahi Makam Tokoh Besar

Sudah lazim dalam politik, setiap calon meminta restu. Tidak hanya kepada orang yang masih hidup, tetapi juga yang sudah meninggal dunia.

Ada yang ziarah ke makam leluhur, ada juga yang ke makam tokoh besar maupun ulama berpengaruh. Makam pendiri bangsa, seperti Sukarno, ramai diziarahi oleh calon yang menginginkan dukungan keluarga Banteng dan marhaenis.

Tidak sedikit juga yang menziarahi makam KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman wahid, untuk mendapatkan dukungan dari keluarga Nahdliyin.

Di Pilkada 2015 lalu, ada 16 calon kepala daerah secara berombongan mendatangi makam mantan penguasa Orde Baru, Suharto, di Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah.

Risal Kurnia

Foto: kampanye pilkada (sumber: inibaru.id)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut