Eva Sundari: Kampanye Anti-Tembakau Dan Kolonialisasi Imajinasi

Eva-Sundari

Kalau dulu kolonialisme dijalankan melalui aksi militer langsung, maka kolonialisme baru sekarang ini lebih banyak berjalan melalui konstruksi pikiran. Konstruksi fikiran ini biasanya disusun melalui penciptaan mitos-mitos.

“Dulu, pada tahun 1970-an, ada kampanye susu formula secara besar-besaran untuk menggantikan ASI (air susu Ibu). Ini disokong oleh Organisasi Kesehatan Dunia, Ikatan Dokter Indonesia, dan para bidan. Belakangan diketahui, ini tidak lepas dari kepentingan pabrik susu formula dunia,” ungkap anggota DPR dari PDI Perjuangan, Eva Sundari, dalam diskusi bedah buku “Muslihat Kapitalis Global” di gedung Trisula Perwari, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

Eva menjelaskan, model-model kolonialisme yang dikonstruksi melalui fikiran inilah yang disebut “kolonialisasi imajinasi”. Pada prakteknya, kepala kita dikonstruksi untuk menerima agenda-agenda yang dikehendaki oleh neokolonialisme.

Lebih jauh, Eva mengungkapkan, kolonialisme lewat imajinasi ini menciptakan pasukan-pasukannya di dalam negeri, termasuk para intelektual dan pengambil kebijakan, agar mereka membela habis-habisan kepentingan ekonomi neokolonialis.

“Itulah mengapa sebagian besar ekonom kita tidak pernah merujuk pada konstitusi kita, melainkan kepada ketentuan yang dibuat oleh masyarakat kapitalis, seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO),” paparnya.

Dalam kampanye anti-tembakau, Eva mengungkapkan, kapitalis global juga menciptakan pasukannya di dalam negeri. “Ada sejumlah intelektual, kemudian Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Muhammadiyah, dan sejumlah partai politk, dan lain-lain,” ungkapnya.

Ironisnya, lanjut Eva, kampanye anti-tembakau tidak pernah memperhatikan nasib jutaan petani tembakau. Eva sendiri mengaku, sebagian besar konstituennya adalah petani tembakau yang terancam nasibnya oleh kampanye anti-tembakau.

“IDI tidak pernah memperhitungkan nasib petani itu. WHO juga tidak pernah memikirkan masa depan petani,” kata Eva Sundari.

Eva juga mengungkapkan, ada beberapa temuan terkait manfaat tembakau dalam pengobatan kanker. “Terapi rokok, yang menggunakan nano-energi, ternyata justru bisa menyembuhkan kanker,” ungkapnya.

Menghadapi berbagai bentuk kolonialisasi imajinasi ini, Eva menganjurkan perlunya dekonstruksi terhadap berbagai mitos-mitos yang sengaja dikonstruksikan oleh sistim kapitalisme global. “Dalam ekonomi, misalnya, ada mitos pertumbuhan, utang luar negeri, developmentalisme, dan lain-lain,” tambahnya.

Dalam kerangka melawan kolonialisme itu, Eva beranggapan, pancasila sebagai kompas dan konsesus nasional harus dibangkitkan kembali. “Pancasila itu sangat memihak kepada rakyat. Ini merupakan senjata efektif untuk melawan agenda kolonialisasi,” tegasnya.

Kusno

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut