Ada Muslihat Kapitalis Global Di Balik Kampanye Anti-Tembakau

SelamatkanKretek

Traktat Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), yang berusaha membatasi produksi, perdagangan, maupun konsumsi rokok, dianggap membawa agenda terselubung para kapitalis global.

“Asumsi mengenai konsumsi rokok sebagai penyebab degenerasi tubuh masyarakat itu masih debatable,” kata Waskito Giri Sasongko saat diskusi bedah buku “Muslihat Kapitalis Global: Selingkuh Industri Farmasi dan Perusahaan Rokok AS” di gedung Trisula Perwari, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

Waskito, yang juga penulis buku ini, menjelaskan, ada banyak riset mengenai tembakau sebagai senyawa obat telah membantah asumsi di atas. Ia merujuk pada hasil riset Dr Arief Budi Witarto, seorang peneliti LIPI, yang menemukan fakta bahwa tembakau bisa menghasilkan protein anti-kanker.

Bagi Waskito, FCTC hanya menjadi senjata bagi korporasi rokok negara-negara maju untuk menyingkirkan kompetitor lokal di negara-negara berkembang dan miskin. Dengan demikian, perusahaan rokok multi-nasional bisa melakukan ekspansi di negara-negara tersebut.

Waskito juga mengungkap sejumlah fakta-fakta bersifat kontradiktif dibalik kampanye pembatasan tembakau. Pertama, meskipun kampanye anti tembakau secara global sudah berlangsung cukup lama, bahkan sebelum lahirnya traktak FCTC di tahun 2003, tetapi tingkat konsumsi tembakau dunia terus meningkat tiap tahunnya.

Kedua, di tengah massifnya kampanye anti-tembakau secara global, perusahaan-perusahaan rokok dari negeri-negeri imperialis justru sangat agressif melakukan akuisisi terhadap perusahaan-perusahaan rokok nasional.

Ketiga, Amerika Serikat, salah satu negara produsen tembakau terbesar di dunia, sampai sekarang masih menerapkan kebijakan protektif terhadap industri rokoknya, termasuk memberi subsidi kepada petani tembakau-nya.

Keempat, Amerika Serikat, negara yang menjadi markas-nya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berada di garis depan kampanye anti-tembakau global, ternyata belum meratifikasi traktak FCTC.

Waskito juga mengungkapkan bahwa kampanye anti-tembakau, termasuk pendanaan berbagai regulasi anti-tembakau di Indonesia, banyak disokong oleh kapitalis negara maju, seperti Michael Bloomberg, dan korporasi-korporasi raksasa dunia.

“Di sini Bloomberg merepresentasikan jejaring dan struktur kepentingan kapitalisme global. Pada titik ini, kepentingan industry farmasi global dan perusahaan rokok negara-negara maju saling bersinergi,” ungkapnya.

Waskito kemudian menegaskan, isu kesehatan hanyalah sekedar alat dan sekaligus muslihat dari korporasi raksasa dunia, terutama perusahaan farmasi dan rokok, untuk melakukan ekspansi ke negeri-negeri berkembang.

Kusno

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut