Esai Sang Kolonel

Saat sebagian besar orang sedang berfikir tentang THR dan lebaran, tiba-tiba saja seorang Kolonel membuat “kegemparan”. Benar-benar sebuah kegemparan, karena bukan hanya petinggi TNI yang kebakaran jenggot, tetapi orang nomor satu di Istana, Presiden SBY, seperti “jerit kegemparan”. Sang Kolonel itu bernama Adjie Suradji, seorang perwira menengah di TNI AU, yang punya kegemaran menyampaikan kegelisahannya melalui tulisan.

Namun, meskipun tulisannya tergolong kritik umum dan sudah biasa, tetapi pencantuman statusnya sebagai anggota aktif TNI telah menciptakan kegemparan. Pasalnya, semenjak Orde Baru hingga sekarang, baru Kolonel Suradji yang berani menulis secara terbuka seperti sekarang ini.

Dalam tulisannya yang berjudul “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan”, Kolonel Adjie Suradji mengulas soal kepemimpinan nasional, dan pentingnya “keberanian” sebagai modal dasar seorang pemimpin negara.

Sayang sekali, alih-alih menempatkan tulisan sang Kolonel sebagai masukan dalam membangun bangsa, pihak petinggi TNI dan pemerintah justru menuding artikel ilmiah itu sebagai “pembangkangan”. Dan, lantaran opini kritisnya itu, sang Kolonel kini diperhadapkan dengan ancaman sanksi dan teguran dari pimpinannya, bahkan sang Kolonel dipersangkutkan pada masalah lain; dugaan korupsi. “Ini adalah suatu pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh seorang anggota TNI,” demikian dikatakan Ahmad Mobarok, salah satu dewan Pembina Partai Demokrat.

Namun, kita sebaiknya menempatkan tulisan ini kepada tempatnya. Ada dua hal penting yang diurai dalam tulisan tersebut, yaitu soal keberanian seorang pemimpin dan soal konsistensi dalam pemberantasan korupsi. Terkait keberanian seorang pemimpin, apa yang dituliskan oleh Sang Kolonel sangat sesuai dengan kenyataan. Bukan akhir-akhir ini saja presiden SBY menuai kecaman karena kelambanan dan sikap “abu-abunya”. Jauh sebelum ini, misalnya dalam kasus Century dan kriminalisasi KPK, rakyat sudah merasa “gregetan” melihat kelambanan Presiden SBY mengatasi persoalan.

Terkait persoalan ketegangan dengan Malaysia, pernyataan Presiden di depan publik malahan dianggap seperti “jubir Malaysia”, dan mengundang kekecewaan masyarakat yang sangat luas. Artinya, berbicara soal kepemimpinan nasional, tulisan sang Kolonel mewakili kekecewaan umum rakyat Indonesia.

Lalu, soal pemberantasan korupsi, yang disodorkan jadi “jualan” utama SBY saat kampanye pemilu 2004 dan 2009, sampai sekarang pun belum memperlihatkan titik terang. Ketika publik berharap hukuman yang berat bagi koruptor, Presiden SBY malah membiarkan aparaturnya memberi remisi besar-besaran kepada koruptor “kakap”, termasuk remisi bebas bersyarat pada besan Presiden SBY, Aulia Pohan.

Maka, tulisan Kolonel Adjie Suradji sesuai dengan fakta yang terang benderang, dan mewakili penilaian umum rakyat Indonesia. Sehingga, terkait substansi opini tersebut, Kolonel Adji hanya mewakili pendapat umum.

Lantas, apa yang membuat pemerintah jerit kegemparan? Jawabnya: Karena yang menyampaikan adalah seorang militer aktif dan saluran menyampaikan pendapatnya adalah ruang publik. Ini dianggap sebagai pembangkangan, sebab bisa menginspirasi seorang prajurit rendahan melawan perintah sang komandan.

Pertanyaannya: Apakah loyalitas seorang prajurit diukur dari kesetiaan buta terhadap komandannya atau terhadap negara? Bukankah saptamarga, sumpah prajurit, dan delapan wajib TNI telah menggariskan kesetiaan kepada negara sebagai kewajiban nomor pertama. “Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” demikian point pertama sumpah prajurit.

“Loyalitas” terhadap komandan seharusnya tidak menjadi “tembok Tiongkok”, yang menghalangi pandangan kritis setiap prajarit rendahan terhadap komandan, sepanjang itu dilakukan dalam koridor “pengabdian dan kesetiaan” kepada NKRI. Karena sejarah telah membuktikan, bahwa tidak semua ucapan pemimpin tertinggi adalah kebenaran mutlak, sebab yang mutlak hanya milik tuhan. “Para tentara kamu kan manusia, bukan robot apalagi boneka,” begitu lirik lagu Iwan Fals untuk menutup editorial ini.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut