Pemogokan Di Perancis: 2 Juta Pekerja Dan Rakyat Melawan Reformasi Pensiun

PARIS: Berbagai serikat buruh utama di Perancis, hari ini (7/9) menggelar pemogokan nasional serentak untuk memprotes rencana pemerintahan, yang berencana menaikkan usia pensiun dan mengubah sistim pensiun.

Bernard Thibault, pimpinan CGT, serikat buruh terbesar di Perancis, menyebutkan bahwa sedikitnya 800 ribu anggotanya akan berpartisipasi dalam pemogokan itu, dan akan melumpuhkan seluruh Perancis.

Para aktivis buruh memperkirakan bahwa sedikitnya 2 juta orang pekerja dan rakyat Perancis berpartisipasi dalam pemogokan ini, dan tersebar di berbagai kota-kota besar di seluruh negeri ini. Sementara sindikat SUD memperkirakan sedikitnya 2,5 juta hingga 3 juta orang berpartisipasi dalam pemogokan.

Di kota Toulouse, media setempat melaporkan bahwa 110.000 orang pekerja berbaris di jalan-jalan, membawa poster, dan meneriakkan kecaman kepada Presiden Sarkozy.

Selain itu, di Paris, ibukota negara, sekitar 270.000 orang diperkirakan berpartisipasi dalam aksi pemogokan. Sementara kota-kota lain menunjukkan situasi yang sama; 200.000 di Marseilles, 160.000 di Lyon, 110.000 di Bordeaux, 65.000 di Grenoble, dan 22.000 di Toulon.

Pemogokan besar-besaran sudah dimulai oleh para guru sejak hari Senin (5/9), yang memprotes keputusan melakukan PHK. Serikat guru telah menyatakan bahwa 60% guru di seluruh Perancis akan berpartisipasi dalam pemogokan hari Selasa (6/9).

Transportasi Umum Terhenti

Akibat dari pemogokan besar ini, sebagian besar transportasi umum di berbagai kota di Perancis mengalami gangguan besar-besaran.

Menurut pernyataan perusahaan nasional kereta api Perancis (SNCF), para pekerja memulai pemogokan pada senin malam, sekitar pukul 20.00 waktu setempat dan berlangsung hingga rabu pagi, pukul 08.00 waktu setempat. Akibatnya, sekitar 50% kereta tidak dioperasikan dan hampir seluruh layanan kereta api di Perancis mengalami gangguan.

Maskapai penerbangan Perancis, Air France, melaporkan bahwa 90% jadwal penerbangan jarak pendek dan menengah, dari dan menuju Paris, turut dibatalkan.

Layanan transportasi lainnya, seperti bus dan pelabuhan, juga mengalami gangguan yang sama. “Kita semua dalam perahu yang sama,” kata Jean-Luc Mariano, seorang buruh pelabuhan yang bergabung dengan massa pekerja di kota pelabuhan Marseille.

Serangan Terhadap Kebijakan Sarkozy

Pemerintahan Sarkozy berusaha menaikkan usia pensiun dari 60 menjadi 62 tahun, dan akan mengubah sistim pensiun guna menghemat anggaran. Pemerintah berharap berbagai upaya yang diambil bisa menghemat anggaran sebesar 100 miliar Ero dalam kurun tiga tahun ke depan.

Meskipun batas usia pensiun 62 tahun adalah terendah dibanding negara tetangga Perancis, namun ini dianggap sangat tabu di sebuah negara yang sudah mematok batas usia pensiuan 60 tahun—diperkenalkan oleh Partai Sosialis pada tahun 1983—sebagai hak mereka.

Sarkozi jelas akan menghadapi sebuah masalah besar, sebab, menurut sebuah jajak pendapat, sekitar 70% responden menganggap reformasi itu tidak dapat dibenarkan, sementara 30% yang melihat reformasi pensiun sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.

Jean-Louis Chambernaud, presiden nasional serikat dokter anak, mengatakan, “pemerintah tidak pernah mempertimbangkan kerja profesi kami. Bagaimana kami bekerja siang-malam tanpa tidur selama 60 tahun.”

Sebagian analis memperkirakan, jika Sarkozy tetap “berdiri’ pada pendirian semula mengenai rencana reformasi, maka dia akan berhadapan dengan ancaman pada pemilu tahun 2012.

Roland Muzeau, jurubicara Partai Komunis di Majelis Nasional, mengatakan, “pemerintah telah berusaha melakukan kudeta. Pertama, menerapkan kebijakan tanpa konsultasi dengan kaum pekerja. Kedua, memaksakan untuk menghentikan perdebatan di parlemen dalam lima-puluh jam dan memaksakan keputusan tunggal.”

Dengan pemogokan besar dan perlawanan di seluruh negeri, partai-partai kiri, sosialis dan komunis berkeyakinan bahwa pemerintah tidak lagi punya kekuatan politik untuk melanjutkan pembicaraan soal reformasi.

Antusiasme Partai Kiri

Pemogokan besar di perancis telah meniupkan udara yang baik bagi partai-partai kiri, termasuk Partai Anti-Kapitalis (NPA), partai Komunis, Partai Sosialis, dan grup-grup kiri lainnya, yang segera menganggap ini sebagai pertanda ‘kekuatan baru”.

Olivier Besancenot, pimpinan Partai Anti-Kapitalis (NPA), menyatakan optimisme bahwa protes ini akan semakin membesar dan akan memaksa pemerintah untuk membuka kedoknya.

Sementara Partai Komunis Perancis (PCF), yang telah mengajukan petisi di parlemen terkait reformasi ini, menegaskan bahwa wakil-wakil mereka sedang berbicara persoalan-persoalan yang lebih mendasar, terutama soal perempuan dan hak pekerja.

Adapun Partai Sosialis, yang kandidatnya dikalahkan oleh Sarkozy, telah melihat mobilisasi ini sebagai kekuatan baru. Apalagi, ketentuan batas usia pensiun 80 tahun yang diperjuangkan oleh pekerja, adalah buah tangan Partai Sosialis. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut