Kritik Kolonel Adjie Suradji, Harga Mahal Sebuah Demokrasi

Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela). Demikian penggalan kalimat di bagian akhir tulisan Kolonel Adjie Suradji di kolom opini kompas, Senin 6 September 2010.

Seperti diberitakan, Kolonel (Pnb) Adjie Suradji mengkritik Presiden SBY lewat artikelnya di kolom Opini harian Kompas, senin 6 September 2010 lalu. Adjie Suradji memberikan catatan kepemimpinan SBY lewat tulisan yang bertajuk “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan”. Selain mengkritik kepemimpinan SBY, Adjie Suradji juga mempertanyakan keberanian SBY sebagai panglima tertinggi TNI.

Kritik Adjie Suradji terhadap Pemerintahan SBY ini, mendapatkan respon dan kecaman dari berbagai pihak, khususnya dari petinggi TNI dan lingkaran Istana. Kritik terbuka Adjie Suradji ini, dianggap melanggar kode etik sebagai perwira militer yang tidak sepantasnya dilontarkan kepada Presiden, yang notabene adalah pimpinan tertinggi TNI. Walau demikian, opini perwira menengah di TNI Angkatan Udara tersebut, juga mendapatkan acungan jempol dari berbagai kalangan pula, mulai dari politisi hingga akademisi.

Membongkar Tradisi

Keberanian Adjie Suradji dalam melancarkan kritik terbuka terhadap Pemerintahan SBY, harus diapresiasi sebagai salah satu bentuk upaya membongkar tradisi kepemimpinan di tubuh TNI selama ini. TNI sebagai kekuatan pertahanan, dikenal dengan praktek garis komando yang memiliki hubungan hierarkis yang sangat kuat. Bawahan ditakdirkan akan selalu tunduk dan patuh terhadap atasan. Kritik dan berbeda pendapat, adalah hal yang tabukan.

Secara prinsip, system komando dalam tubuh TNI, memang menjadi sesuatu yang mutlak dalam upaya menjaga pertahanan Negara. Namun kritik dan perbedaan pandangan, sesungguhnya menjadi hak dasar bagi setiap warga Negara, termasuk bagi prajurit-prajurit TNI. Bahkan tradisi oto kritik ini, bisa menjadi bahan masukan penting yang membangun bagi kemajuan institusi TNI sendiri. Menguti kata Voltaire, “Saya tidak sependapat dengan Anda. Tapi saya menjamin, akan berusaha mati-matian agar Anda dapat mempertahankan pendapat Anda”.

Kritik Adjie Suradji ini, seharusnya tidak ditanggapi secara reaksioner dan terlalu berlebihan dari berbagai pihak. Sebaliknya, apa yang dilakukan oleh Adjie Suradji harusnya menjadi bahan evaluasi atau cermin dari kondisi TNI dan Pemerintahan SBY saat ini. Karena seseorang ataupun isntitusi, apalagi sebuah Pemerintahan yang anti kritik, justru akan membangun system otoritarian baru yang jauh dari perbaikan.

Harga Mahal Demokrasi

Reaksi atas aksi Adjie Suradji, tentu saja menuai harga mahal. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengaku telah menginstruksikan Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal Imam Sufa’at untuk memeriksa dan meminta pertanggungjawaban Kol (Prb) Adjie Suradji[1]. Bahkan Pihak Korps TNI AU melalui Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Bambang Samoedro, menyebutkan bahwa Adjie Suradji telah melanggar kode etik seorang prajurit. Lebih lanjut Bambang menyebutkan bahwa yang bersangkutan tengah menjadi terdakwa terkait kasus korupsi yang dihadapinya.  Kolonel Adjie yang bertugas dibagian koperasi Mabes TNI juga disebutkan jarang masuk kerja. Dia hanya datang waktu mengambil gaji[2].

Meski penjelasan Kadispen TNI AU ini, belum jelas kebenarannya, namun ini tentu saja sudah diluar konteks, sangat diluar konteks. Substansi persoalan yang dolontarkan oleh Adjie Suradjie, harusnya juga dijawab sesuai dengan proporsinya, bukan malah menyerang pribadi yang bersangkutan. Ini jelas merupakan tradisi buruk yang sedang dipertontonkan, dimana kritikan dijawab dengan pembelaan diri demi upaya pencitraan.

Ini bukanlah kali pertama Adjie Suradji mendapat kecaman dan teguran dari institusinya. Sebelumnya di Harian yang sama, tulisan Adjie juga pernah dimuat pada Hari rabu tanggal 27 Mei 2009 dengan tajuk, “Hercules, Peti Mati Terbang”. Tulisan itu menyusul kecelakaan pesawat Hercules C-130 di Madiun yang menewaskan lebih dari 100 orang. Akibatnya, Adjie Suradjie ditegur oleh Pimpinannya.

Namun pada intinya, konsekuensi keberanian memang harus dihadapi demi mempertahankan prinsip. Sebab sejelek-jeleknya manusia, jauh lebih jelek manusia yang mengingkari hati nuraninya sendiri. Demikian pula dengan apa yang dihadapi oleh Adjie Suradji. Kririkan itu datang dari realita yang dihadapinya, bahkan lebih layak disebut sebagai cerminan hati nurani Rakyat Indonesia.

Penulis adalah pengajar di salah satu perguruan Tinggi Negeri di Samarinda, anggota Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) Kota Samarinda.


[1] Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2010/09/07/12485495/Panglima.TNI.Adjie.Langgar.Kode.Etik. Diunduh tanggal 7 September 2010.

[2] Sumber ; http://news.okezone.com/read/2010/09/07/337/370845/337/perwira-tni-au-pengkritik-sby-terbelit-kasus-korupsi. Diunggah tanggal 7 September 2010.

[3] Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2010/09/07/17560835/Adjie..Dua.Kali.Menulis.Dua.Kali.Ditegur. Diunduh tanggal 7 September 2010.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut