Dua Tahun Tidak Berobat Karena Miskin

JAKARTA (BO): Dua tahun lebih ibu Yanti, 48 tahun, menahan penyakit tuberkulosis (TBC) yang makin bertambah parah. Warga RW 5, Cakung Barat, Jakarta Timur, ini mengaku tidak punya uang untuk berobat di rumah sakit.

Suaminya, Subur, 50 tahun, bekerja sebagai anggota Hansip. Gajinya hanya sanggup menutupi kebutuhan makan sehari-hari saja. Akhirnya, sejak dua tahun lalu, Ibu Yanti hanya tergeletak di tempat tidur tanpa pengobatan.

Ibu Yanti adalah contoh rakyat miskin di Jakarta yang tidak tersentuh oleh program kesehatan gratis pemerintah. Meski dikategorikan miskin, bahkan sangat miskin, tetapi keluarga ini tidak punya kartu JPK-Gakin.

Selain itu, keluarga miskin ini juga mengaku tidak mengetahui cara mengakses program kesehatan gratis Pemda DKI Jakarta. “Saya takutnya dipersulit dan dikenakan biaya pengobatan,” kata Subur.

Ketua RW setempat, Saleh Rahmad, mengaku kebingungan untuk mengadvokasi warganya tersebut. “Kami tidak tahu prosedur mendapatkan layanan kesehatan gratis itu. Takutnya, kita berurusan dengan birokrasi yang berbelit-belit,” katanya.

Menurut Saleh, kondisi semacam ini banyak dialami oleh warganya. Bahkan, kata dia, di wilayahnya masih banyak keluarga miskin yang belum mendapat kartu JPK-gakin.

Akhirnya, tadi malam (11/2/2012), berkat bantuan aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Ibu Yanti berhasil dibawa ke RS Harapan Jayakarta.

Akan tetapi, karena tidak mengantongi kartu JPK-Gakin, maka ibu dua anak ini menggunakan layanan ‘Orang Terlantar’ (OT). “Di sini, banyak sekali warga miskin yang tidak punya kartu JPK-Gakin,” kata Arif, aktivis SRMI Jakarta Timur.

ANDI NURSAL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut