Diskon Bea Keluar Dari  Jero Wacik

Freeport dan Newmont sepertinya akan mendapatkan perlakuan istimewa lagi dari pemerintah. Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini mengusulkan pengurangan bea keluar bagi beberapa perusahaan tambang. Disamping kedua korporasi asal Amerika Serikat itu, perusahaan lainnya yang juga direkomendasikan mendapatkan ‘diskon’ bea keluar adalah PT Sebuku Iron Lateristic Ores, PT Sumber Suryadaya Prima, dan PT Lumbung Mineral Sentosa.

Alasan kementrian yang dipimpin Jero Wacik, yang juga kader Partai Demokrat itu, dalam merekomendasikan pengurangan bea keluar bagi perusahaan tersebut, antara lain: sudah adanya peta jalan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter dari lima perusahaan itu. Disamping itu, perusahaan-perusahan tersebut juga sudah bersedia menyetor 5% dari dana investasi pembangunan smelter ke bank nasional. Freeport, misalnya, telah bersedia menyetor dana sebesar US$ 100 juta. Sedangkan Newmont dikabarkan bersedia menyetor uang sebesar US$ 25 juta.

Untuk diketahui, pemberlakuan bea keluar ini punya ‘kisah’ tersendiri. Sejak12 Januari lalu, pemerintah memang melarang ekspor bijih mineral guna menjalankan titah Undang-undang No.4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara yang mengamanatkan dilakukannya pengolahan dan pemurnian bijih mineral di dalam negeri. Larangan ini termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.1 tahun 2014. Namun, pemerintah rupanya tidak menutup total peluang ekspor mineral.

Melalui Peraturan Menteri  (Permen) ESDM No.1/2014, pemerintah masih memberikan peluang ekspor beberapa komoditas mineral yang diolah hingga kadar tertentu menjadi konsentrat, seperti tembaga dan mangan. Tapi pemerintah juga tidak ingin membiarkan ekspor melenggang bebas tanpa hambatan. Tak lama setelah Permen ESDM No.1/2014 terbit, pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan mengeluarkan Permen Keuangan No.6/2014 yang ‘memagari’ ekspor komoditas mineral tersebut dengan bea keluar.

Dalam Permen itu, Pemerintah memberlakukan bea keluar sebesar 20% hingga 60% secara bertahap mulai dari  tahun 2014 hingga 2016. Tujuan Permen ini adalah ‘memaksa’ perusahaan tambang membangun smelter. Target pemerintah: tahun 2017 telah banyak smelter yang beroperasi.

Pemberlakuan bea keluar ini segera mengundang reaksi negatif dari berbagai perusahaan tambang, terutama Freeport dan Newmont. Tak lama setelah pemberlakuan Permen Keuangan ini, Freeport Indonesia bahkan mendatangkan CEO Freeport McMoran Copper & Gold Inc, Richard C Adkerson, ke Indonesia guna melobi pemerintah Indonesia untuk menghapus atau minimal mengurangi bea keluar. Tidak tanggung-tanggung, empat menteri ditemui oleh sang CEO demi mencapai tujuannya.

Newmont Nusa enggara pun tak kalah gerah dengan penerapan bea keluar ini. Perusahaan tersebut mengancam akan mengadukan pemberlakuan bea keluar itu ke aribtrase internasional. Kini, tampaknya lobi dan ancaman itu hampir berhasil. Hasilnya, Kementrian ESDM merekomendasikan diskon bea keluar menjadi 10%.

Kejanggalan kembali terlihat dari kebijakan Kementrian ESDM ini. Freeport dan  Newmont sejatinya sama sekali tidak layak memperoleh keringanan semacam itu sebab mereka hingga kini belum jelasnya komitmennya dalam membangun smelter, bahkan seringkali mengatakan tidak mau. Mereka juga tidak melakukan pengelolaan lingkungan secara baik sesuai dengan amanat Pasal 8 ayat c Permen ESDM No.1/2014 sebagai syarat untuk memperoleh persetujuan ekspor.

Untungnya, Freeport dan Newmont  belum bisa sepenuhnya berlega hati. Rupanya pemerintah belum satu suara dalam hal ini. Kementrian Keuangan ternyata masih belum merestui diskon bea keluar ini. Menteri Keuangan Chatib Basri berulangkali mengatakan tidak akan merevisi Permen Keuangan No.6/2014 sebelum Freeport dan Newmont menunjukkan keseriusan membangun smelter.

Ternyata, lobi dan ancaman kedua kapitalis tambang multinasional ini belum sepenuhnya berhasil. Semoga seterusnya seperti itu.

Hiski Darmayana, Jurnalis Pertambangan dan Energi

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut