Dilma Rousseff, Kandidat Partai Buruh, Terpilih Sebagai Presiden Baru Brazil

Dilma Rousseff, kandidat dari Partai Buruh (PT), terpilih sebagai presiden baru Brazil, menggantikan pendahulunya, Luiz Inacio Lula da Silva, setelah melalui pemilu putaran kedua.

Dengan 93.25 suara yang sudah terhitung secara resmi, Rousseff memenangkan 55,43% suara sah, atau 51,59 juta suara. Pesaingnya dari sayap kanan, Jose Serra, hanya mengumpulkan 41.48 juta, atau 44,7% suara, demikian dilaporkan Superior Electoral Tribunal (SET).

Dilma Rousseff, yang bekas gerilyawan kiri semasa rejim militer, tercatat sebagai Presiden ke-40 Brazil dan sekaligus perempuan pertama yang menjadi Presiden di negeri samba itu.

Para pendukung partai buruh dilaporkan turun ke jalan-jalan seluruh Brazil untuk merayakan kemenangan ini.

Penghapusan Kemiskinan

Berbicara dalam sebuah rapat akbar setelah kemenangannya, di Brazilia, Roussef mengatakan kepada para pendukungnya: “Kami tidak bisa beristirahat ketika rakyat Brazil masih ada yang lapar, ketika banyak keluarga hidup di jalanan, ketika anak-anak miskin dibiarkan dengan nasib mereka sendiri..”

“Menghapus kemiskinan adalah target saya. Tapi saya dengan rendah hati meminta dukungan kepada semua yang dapat membantu negeri menjembatani kesenjangan yang membagi kami dan membuat bangsa kami lebih maju,” ujarnya.

Dia berjanji akan melanjutkan kebijakan kiri presiden Lula, yakni dengan mendorong peran negara ke beberapa sektor, terutama tambang, dan memperbaiki infrastruktur negeri itu.

Selain itu, dia berjanji untuk memperkuat demokrasi politik, ekonomi, dan politik. Mendorong pertumbuhan dengan menciptakan lebih banyak pekerjaan dan menaikkan pendapatan.

Dia juga menjanjikan sebuah pembangunan makro ekonomi yang tidak terganggu oleh kerentanan dari luar dan ketidakadilan regional, dan pelestarian lingkungan dengan pembangunan berkelanjutan.

Faktor Lulismo

Luiz Inacio Lula da Silva, menjabat dua periode sebagai presiden Brazil, dianggap sejumlah analis politik sebagai orang yang menaikkan dan memenangkan Dilma Rousseff.

Selama musim kampanye, Lula sangat aktif menemani Rousseff berkampanye di tengah-tengah rakyat.

Pada tahun 2006, ketika terpilih kembali menjadi Presiden Brazil untuk kedua kalinya, lulismo lahir diantara kebijakan publik yang dimodifikasi menurut geografi sosial Brazil.

Selama delapan tahun memerintah, seperti direlease oleh Center of Social Policy at the Getulio Vargas Foundation (CPS-FGV), sedikitnya 30 juta orang masuk dalam jajaran kelas menengah (middle class) dan 19 juta rakyat berhasil keluar dari kemiskinan.

Ini menjadi salah satu penjelasan mengapa pendukung Lula tetap konsisten dan ia meninggalkan pemerintahan dengan tingkat penerimaan 80% dari seluruh rakyatnya. Banyak sekali pendukung lulismo mengharapkan agar Lula kembali untuk berkuasa, namun konstitusi negara itu mengatur maksimal dua periode jabatan seorang presiden.

Sehingga, ketika Lula berusaha menampilkan Dilma sebagai penerus kebijakan-kebijakan sosialnya, maka rakyat Brazil pun menyambutnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut