Di Persimpangan Jalan Antara “Ekonomi Hijau” Dan Hak Alam

Hampir seribu lumba-lumba tergeletak mati di pantai. Lima ribuan pelikan juga ditemukan mati. Apa penyebab pembantaian ini? Di sini ada penjelasan berbeda. Beberapa berpendapat bahwa eksplorasi minyak lepas pantai menjadi penyebabnya. Sedangkan yang lain berpendapat, burung-burung ini mati karena ikan teri—makanan utama mereka—sudah menghilang akibat pemanasan mendadak pesisir pantai oleh pemanasan global.

Apapun penjelasannya, faktanya dalam beberapa bulan terakhir, pantai di peru telah menjadi saksi bisu tentang apa yang dilakukan oleh kapitalisme terhadap alam.

Pada periode dari 1970-2008, sistem bumi telah kehilangan 30% keanekaragaman hayatinya. Di daerah tropis, kerugian bahkan sudah mencapai 60%. Ini tidak terjadi secara kebetulan. Ini akibat sebuah sistem ekonomi yang hanya memperlakukan alam tak lebih dari sumber daya. Bagi kapitalis, alam merupakan objek utama untuk dimiliki, dieksploitasi, diubah dan, terutama sekali, untuk mendapatkan keuntungan.

Ekonomi hijau adalah tentang mencurangi alam sambil membuat keuntungan dari itu

Umat manusia berada di tepi tebing. Alih-alih mengaku alam sebagai rumah kita dan kami harus menghargai hak seluruh anggota masyarakat bumi, perusahaan multinasional justru mempromosikan lebih banyak kapitalisme di bawah kampanye menyesatkan “ekonomi hijau”.

Menurut mereka, kesalahan kapitalisme yang membawa kami pada berbagai krisis saat ini adalah pasar bebas. Dan, dengan “ekonomi hijau”, kapitalisme menyertakan alam sepenuhnya sebagai bagian dari kapital. Mereka mengidentifikasi fungsi tertentu ekosistem dan keanekaragaman hayati yang punya harga jual dan kemudian dibawa ke dalam pasar global sebagai “Kapital Alam.”

Dalam sebuah laporan EcosystemMarketplace.com, kita dapat membaca penjelasan brutal yang jujur ketika berbicara “ekonomi hijau”.

Mengingat dampaknya yang sangat besar terhadap kehidupan kita sehari-hari, ini mengejutkan bahwa kami tidak memberi perhatian yang lebih besar, atau dollar, untuk layanan ekosistem. Ekosistem memberikan triliunan dollar pada air bersih, perlindungan banjir, tanah subur, udara bersih, penyerbukan, pengendalian penyakit—untuk menyebutkan contoh saja. Layanan ini sangat penting untuk menjaga kondisi layak-huni dan membawa kegunaan sangat besar bagi dunia. Jauh lebih besar dari nilai dan skalanya dibanding nilai listrik, gas dan air. Dan, infrastruktur, atau aset, untuk menghasilkan layanan ini hanya: ekosistem sehat.

Jadi, bagaimana kami mengamankan infrastruktur yang sangat berharga ini dan layanannya? Cara yang sama kita perlakukan terhadap listrik, air minum, atau gas alam. Kita harus membelinya.”

Sederhananya, mereka tidak hanya akan memprivatisasi barang-barang material yang didapat dari alam, seperti kayu dari hutan. Akan tetapi, sebaliknya, mereka ingin melampaui itu dan memprivatisasi fungsi dan proses alam. Label mereka jasa lingkungan: memberinya harga dan membawanya ke pasar. Juga pada laporan yang sama, mereka sudah menghitung nilai dari layanan lingkungan ini untuk tahun 2012, 2020, dan seterusnya.

Sebagai ilustrasi, lihat contoh terbaik dari ekonomi hijau, yakni program REDD (Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan). Tujuan REDD adalah untuk mengisolasi satu fungsi hutan, yaitu kemampuannya menangkap dan menyimpan karbon, dan kemudian mengukur berapa banyak CO2 yang bisa tertangkap. Begitu mereka bisa memperkirakan nilai potensial penyimpanan karbon hutan, kredit karbon akan dikeluarkan dan dijual kepada negara maju dan korporasi besar yang akan menggunakannya sebagai offset, untuk membeli dan menjual izin polusi di pasar karbon. (Kredit offset karbon dijual melalui Chicago Climate Exchange (CCX), yang beroperasi layaknya pasar bursa)

Komoditi baru dari pasar REDD akan berupa kertas finansial atau kredit karbon, yang akan menghitung berapa jumlah CO2 yang tidak turun dalam penyimpanan itu. Sebagai contoh, jika indonesia punya tingkat penggundulan hutan 1.700 juta hektar pertahun dan pada tahun berikutnya mereka tidak melampaui ini, misalnya, tingkat penggundulan hutan (deforestasi) hanya 1.500 juta hektar, maka mereka bisa menjual di pasar REDD berupa kredit karbon untuk jumlah CO2 yang tersimpan oleh 200.000 hektar yang tak mengalami penggundulan hutan.

Intinya, REDD menyiapkan insentif moneter agar tidak terjadi deforestasi. Akan tetapi, insentif ini punya efek ganda yang menyesatkan.

Pertama, perusahaan dari negara yang membeli kredit karbon akan terus mencemari dan terus melepasnya ke atmosfer sesuai jumlah CO2 yang mereka bayar. Dengan kata lain, kredit karbon adalah ijin polusi bagi kaum kaya.

Kedua, hanya negara-negara yang sanggup  mencegah penggundulan hutan yang dapat menjual kredit karbon ke pasar REDD. Sehingga, wilayah yang tidak mengalami penggundulan hutan, atau negara yang selalu terjaga kelestarian hutannya, tidak akan menjual kredit karbon apapun dari pengurangan deforestasinya. Sehingga apa yang terjadi sekarang, sebagai contoh, di sejumlah tempat di Brazil, adalah untuk persiapan atau kepentingan RED: pohon-pohon ditebang dengan tujuan meningkatkan deforestasi, sehingga, di kemudian hari, tingkat pengurangan deforestasinya bisa tinggi dan jumlah kredit karbon yang akan dibawa ke pasar juga besar.

Ini hanyalah salah satu wajah “ekonomi hijau” di bidang kehutanan. Bayangkan apa yang akan terjadi jika dan ketika logika yang sama diterapkan pada keanekaragaman hayati, air, tanah, pertanian, laut, perikanan dan sebagainya. Tambahkan pula proposal untuk pengadaan geo-teknik dan teknologi baru lainnya dalam rangka melanjutkan eksploitasi, sabotase dan gangguan alam.

Ini akan membuka pintu untuk pengembangan pasar spekulasi yang baru.

Ini akan memungkinkan sejumlah bank, perusahaan, broker, dan perantara untuk menciptakan keuntungan dalam beberapa tahun hingga terjadi ledakan gelembung finansial, seperti yang terjadi pada pasar spekulatif saat ini. Yang lebih penting lagi, bagaimanapun, pasar ini punya batas waktu yang nyata, karena ada batasan untuk mengeksploitasi sistim bumi: melewati batas-batas tersebut berarti menghancurkan rumah kami.

Dalam rangka mempromosikan serangan terhadap alam, (1) para kapitalis melabeli keserakahan mereka dengan “ekonomi hijau”, (2) mereka mempromosikan pandangan bahwa karena berbagai krisis global, dan kas pemerintah kekurangan untuk mengurusi alam, dan satu-satunya cara untuk mendapatkan miliaran dollar yang dibutuhkan untuk pelestarian air, hutan, keanekaragaman hayati, pertanian dan lain-lain adalah melalui investasi swasta.

Masa depan alam bergantung pada sektor swasta, tetapi sektor swasta tidak akan berinvestasi miliaran dollar—yang akan mereka akumulasikan dengan mengeksploitasi tenaga kerja dan kekayaan alam—tanpa insentif. Dan, karena itu, pemerintah perlu menawari mereka bisnis baru untuk membuat keuntungan dari proses dan fungsi alam.

Sebagian besar pengusung ‘ekonomi hijau’ sangat lugas untuk hal ini: jika di sini tidak ada harga dari beberapa fungsi alam, mekanisme pasar baru dan jaminan akan keuntungan mereka, sektor swasta tidak akan berinvestasi dalam ekosistem dan keanekaragaman hayati.

“Kami tidak dapat memerintah alam kecuali menaatinya”

“ekonomi hijau” benar-benar akan merusak karena didasarkan pada prinsip: transfusi aturan pasar untuk menjaga alam. Sebagaimana dikatakan filsuf Francis Bacon, “kami tidak dapat memerintah alam kecuali mentaatinya.”

Daripada menempatkan harga pada alam, kita perlu mengakui bahwa manusia adalah bagian dari alam dan alam bukan sesuatu yang mesti dimiliki atau sekedar pemasok sumber daya. Bumi adalah sistim kehidupan, ini adalah rumah kita dan ini adalah komunitas makhluk yang saling bergantung dan bagian dari keseluruhan sistim.

Alam memiliki aturan sendiri yang mengatur integritas, keterkaitan, reproduksi dan transformasi, dan aturan-aturan ini telah bekerja selama jutaan tahun. Negara dan masyarakat harus menghormati dan menjamin bahwa aturan-aturan alam berlaku dan tidak terganggu. Ini berarti kami perlu mengakui bahwa ibu bumi juga punya hak.

Para ilmuwan telah memberitahu kita bahwa kita semua adalah bagian dari Sistem Bumi yang meliputi atmosfer, biosfer, lithosfer, dan hidrosfer. Kita manusia adalah salah satu elemen dari biosfer. Jadi, mengapa itu yang hanya kita manusia memiliki hak dan sedangkan elemen lainnya hanya bahan untuk kehidupan manusia?

Berbicara tentang keseimbangan dalam sistem bumi adalah berbicara tentang hak dari semua bagian dari sistim bumi itu sendiri. Hak-hak ini tidak identik untuk semua makhluk atau bagian dari Sistem Bumi, karena tidak semua unsur-unsur adalah identik. Namun, menganggap bahwa manusia hanya harus menikmati hak istimewa sedangkan makhluk hidup lainnya hanya objek adalah kesalahan terburuk.

Mengapa kita hanya menghormati hukum manusia dan bukan dari alam? Mengapa kita menyebut orang yang membunuh tetangganya kriminal, tapi bukan mereka yang membunuh spesies atau mencemari sungai? Mengapa kita menilai kehidupan manusia dengan parameter yang berbeda dari semua yang memandu kehidupan sistem secara keseluruhan jika kita semua, benar-benar kita semua, menyandarkan hidup dari Sistem Bumi?

Di sini muncul kontradiksi dalam penghargaan hanya kepada hak-hak manusia, sedangkan hak-hak lainnya dari sistem bumi direduksi sekedar sebagai kesempatan bisnis dalam apa yang disebut ‘ekonomi hijau’.

Beberapa dekade yang lalu, berbicara tentang budak yang memiliki hak yang sama seperti orang lain tampak seperti sesat, sama halnya dengan ketika sekarang orang berbicara tentang gletser, atau lumba-lumba, atau sungai, atau pohon-pohon, atau orang utan juga punya hak.

Dalam sistem yang saling bergantung di mana manusia adalah hanya satu komponen dari keseluruhan, tidaklah mungkin untuk hanya mengakui hak-hak bagian manusia tanpa membicarakan ketidakseimbangan dalam sistem. Untuk menjamin hak asasi manusia dan pemulihan keselarasan dengan alam, diperlukan untuk secara efektif mengenali dan menerapkan hak alam.

Alam tidak bisa diserahkan kepada kehendak pasar atau laboratorium. Jawaban untuk masa depan tidak terletak pada penemuan ilmiah yang mencoba untuk menipu alam, tetapi dalam kapasitas kita untuk mendengarkan alam. Ilmu dan teknologi mampu menghancurkan segala sesuatu termasuk dunia itu sendiri. Ini adalah waktu untuk menghentikan geo-engineering dan semua manipulasi buatan dari iklim, keanekaragaman hayati, dan benih. Manusia bukanlah dewa.

Sistem kapitalis berada di luar kendali. Seperti virus ini akan membunuh tubuh yang memberi makan itu. Itu merusak sistem bumi dalam cara yang akan membuat kehidupan manusia seperti yang kita tahu tidak mungkin.

Kita perlu untuk menggulingkan kapitalisme dan mengembangkan sistem yang didasarkan pada masyarakat Bumi.

PABLO SOLON, duta besar Bolivia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut