Pelajaran Dari Venezuela: Dewan Komunal Mengelola Keuangan Mereka Sendiri

Untuk asosiasi kehidupan: Begitu juru bicara dewan komunal menggambarkan asosiasi lingkungan sebelumnya. Organisasi ini seharusnya menjadi representasi komunitas namun sebaliknya justru tidak membuka ruang bagi keragaman. Namun akhirnya, kehendak masyarakat lah yang menjadi pemenang.

Cerita ini berkisah tentang bagaimana komune Antonio Jose de Sucre di lingkungan (barrio) Petare bermula; Setelah 20 tahun berjuang agar suara mereka didengar dan menemukan jawaban atas masalah-masalah yang dihadapi komunitas, khususnya bagi anak-anak, sebuah kelompok lingkungan (semacam RT) di sektor Antonio Jose de Sucre akhirnya mendirikan Dewan Komunal Tia Elena.

Sebagai upaya untuk mengembangkan dewan komunal tersebut, para anggota mendapatkan suntikan pengetahuan oleh para professional dari berbagai disiplin seperti manajemen sosial dan hak-hak anak. Enam orang dari anggota pendiri komune ini mengambil studi manajemen sosial, dan lima orang mengambil studi hukum.

Pada tahun 2005, kelompok ini memulai aktivitas kultural, pendidikan, dan hiburan yang didesain khususnya untuk anak-anak, yang menurut juru bicara komune Mariela Castillo, “merupakan sumber nilai (values) dari sebuah visi dan kehidupan baru.”

Permulaan

Sebelum komunitas ini melakukan perbaikan terhadap lingkungannya, daerah tersebut dikuasai oleh pengedar narkoba dan para pelaku kriminal yang praktis tidak bisa melakukan apa-apa terhadap komunitas tersebut. Namun kondisi ini perlahan-lahan mulai berubah setelah pada tahun 2007 didirikan sebuah komunitas yang didaftarkan sebagai Dewan Komunal Antonio Jose de Sucre, yang juga merupakan bentuk baru partisipasi anggota masyarakat di lingkungan tersebut.

Dewan Komunal ini pada awalnya mendapatkan hibah sebesar 2 juta BsF (sekitar 400,000 US$) dari program yang bertajuk Rencana Transformasi Komprehensif Habitat pada tahun 2009. Hibah ini kemudian digunakan untuk memperbaiki 120 unit rumah, yang menurut Castillo: “begitu banyak keluarga yang menggunakan satu kamar untuk semua anggota keluarganya. Namun sekarang tiap anggota keluarga bisa menikmati kondisi hidup yang jauh lebih baik.”

Salah satunya adalah keluarga Judith Farray. Dia bercerita tentang kondisi kehidupannya kini dari dapurnya yang baru saja diperbaiki. 17 tahun yang lalu, dia pindah dan mendirikan sebuah rumah beratap yang berdinding terbuat dari seng. Namun kini rumah yang ditempatinya bersama 9 anggota keluarganya tidak nampak seperti dulu lagi.

“Saya bekerja begitu lama untuk komunitas ini namun tidak pernah mendapatkan apa-apa, bahkan untuk sebuah batu bata, sama sekali tidak pernah. Bukan untuk saya dan bukan untuk siapa-siapa. Namun setelah terlibat dalam dewan komunal, saya kembali didekati oleh mereka yang sebelumnya mengurus komunitas ini dan saya berkata kepada mereka: bekerja bersama anda selama 30 tahun sangat sia-sia, tak satu pun yang dilakukan. Tapi sekarang dengan pemerintahan ini saya akhirnya bisa melakukan sesuatu untuk keluarga dan komunitas saya. Kami telah mendirikan dinding saran (semacam papan saran), tangga, dan pasar. Apa yang belum kami capai?”

Pengalaman Judith juga dibenarkan oleh Fatima Tous Arteaga, yang mengkoordinasi Wadah Perjuangan Komune. Dia menyoroti beberapa capaian-capaian pembangunan lainnya seperti Pusat Perawatan Gigi dan Ruang Komputer dengan teknologi maju.

Kerja-kerja komunitas terus berlanjut dalam merespon berbagai persoalan yang dihadapi komunitas dan selanjutnya melibatkan semakin banyak rukun tetangga . Saat proses legalisasi dewan komunal tealh selesai pada tahun 2010, dewan ini bergabung dengan 6 dewan komunal lainnya dan komune yang dihasilkan kemudian dibagi kedalam 7 komite kesehatan, 6 komite lahan perkotaan, 7 komite perumahan, 1 jaringan kerja penyewa, 7 komite olah raga, 1 komite transportasi, 1 komite pelajar, 1 komite telekomunikasi dan 1 komite energi. Tiap komite memiliki juru bicara yang diberi pelatihan oleh Sekolah Penguatan Kekuasaan Rakyat.

Memukul Inflasi

“Pada tahun 2009, kami menerima BsF 400,000 untuk membeli sebuah Rumah Perawatan Harian bagi anak yang berumur 0-12 tahun, sebuah klub lansia, dan sebuah toko roti. Surplus dari dana tersebut digunakan untuk proyek yang diusulkan oleh dewan-dewan komunal lainnya. Ini dilakukan setelah melalui proses pengambilan suara oleh majelis,” ungkap Mariela Castillo.

Surplus dana tersebut diperuntukkan untuk tujuan yang berbeda-beda, seperti: pengecetan rumah, penyediaan dana sosial dan pelaksanaan aktivitas outdoor oleh Semilleros de la Patria (sebuah program untuk pengembangan “nilai” yang diikuti oleh 200 anak-anak). “Masih tersisa surplus sekitar BsF 100,000 yang akan digunakan perbaikan rumah-rumah,” lanjut Castello.

Proyek-pryek tersebut juga sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi 87 orang (laki-laki dan perempuan) yang sebelumnya mendapatkan pelatihan berbagai macam keterampilan seperti konstruksi dan pemasangan pipa di INCE (Institut Nasional Pelatihan dan Pendidikan Sosialis).

Seperti Sebuah Keluarga

Setelah hujan lebat yang mendera Venezuela pada selama beberapa bulan pada akhir tahun 2010, semakin terlihat jelas bahwa kualitas kemanusiaan ikut berkembang seiring perkembangan Komune Antonio Jose de Sucre.

Mariela Castilo menyatakan bahwa anggota dewan komunal memberikan bantuan selama 8 hari pertama saat kondisi darurat hingga larut malam. Mereka mengambil bagian secara aktif dalam upaya penyelamatan, evakuasi, dan pertolongan pertama bagi para korban yang kehilangan rumah.

Kemudian, dewan juga memberikan perhatian bagi pemukiman “William Lara”, sebuah pemukiman yang juga sering disebut El Fortin. Dewan juga menjadikan Rumah Perawatan Harian untuk anak-anak sebagai tempat pemukiman sementara bagi anak-anak yang menjadi korban banjir. Namun yang juga tidak kalah pentingnya adalah sambutan hangat yang diberikan dan harapan yang terus disuntikkan kepada para keluarga korban.

Di pemukiman inilah Cintia Lara melahirkan anak pertamanya setelah kehilangan rumah yang ia tempati bersama 15 anggota keluarganya. Namun bagi Cintia, ia tidak kehilangan segalanya. Karena ia memiliki lingkungan yang terus memberikan bantuan dan perhatian, layaknya sebuah keluarga besar.

Diterjemahkan dari artikel http://venezuelanalysis.com/analysis/6113 (Penerjemah:Zulkhair Burhan)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Hinu Endro Sayono

    ‘Dewan Komunal’ di Venezuela ini mirip dengan lembaga ‘Rembug Deso’ yang pernah ada di Indonesia. Ini adalah bukti nyata demokrasi Indonesia.
    Keanggotaannya adalah wakil-wakil Golongan Fungsional yang antara lain terdiri buruh, petani, nelayan, pedagang eceran di pasar. Golongan Fungsional -sejak awal- memang merupakan pilar pokok demokrasi Indonesia -bersama dengan parpol. Yang dimaksud dengan Golongan Fungsional adalah golongan dalam masyarakat yang memiliki ‘fungsi permanen’.
    Sayang, kemudian golongan fungsional ini ‘dplintir’ oleh HM Soeharto menjadi Golongan Karya yang kemudian menjadi parpol.

    Dewan Komunal dibentuk di Venezuela, karena kejengkelan Hugo Chavez terhadap parpol yg punya hobi ‘mengatas-namakan’ rakyat. Dengan Dewan Komunal, maka kepentingan parpol yang bersifat kepentingaan-politik sesaat -atau ‘atas pesanan’- dapat dibatasi.

    Dengan demikian, demokrasi yang digariskan oleh para Bapak Bangsa Indonesia, malah dilaksanakan oleh Venezuela.

    Itulah salah satu bukti bahwa ‘the social conscience of man’ atau ‘hati nurani manusia’ yang menjadi jiwa demokrasi Indonesia -yang dikemukakan oleh Bung Karno memang bersifat universal.

    Dengan demikian, demokrasi Indonesia adalah pengejawantahan dari ‘hati nurani manusia’.
    Bukan ‘satu orang, satu suara’ melalui parpol.

    Indonesia -melalui Bung Karno- yang mengemukakannya, namun di Indonesia sendiri malah dihancurkan oleh rezim Orde Baru.
    Karena sifatnya yang universal, maka muncullah di Venezuela.

    Jadi jelaslah siapa yang arif dan siapa yang culas.

    Dalam berbagai diskusi dengan mahasiswa Venezuela dan Amerika Latin serta Palestina serta beberapa negara Afrika dan Asia lainnya, mereka sangat antusias ketika bicara tentang Sukarno (Ahmad Sukarno, kata warga Palestina) dan ajarannya.

    Dilarang di Indonesia…..gak apa-apa…..karena muncul di bagian lain dari dunia ini.
    Dan, tragisnya, kita sekarang harus belajar dari mereka tentang apa yang dulu telah kita miliki dan praktikkan.

    Mengharukan!!!!!
    Tapi konyol!!!!

  • Andreas Kusumajaya

    Kata-kata “Menuntut Ilmu Hingga Ke Negeri Cina” harus DIHAPUS dan DIGANTI dengan”Menuntut Ilmu di Negeri-Negeri Sosialis”