Lagi, Pedagang Pisang Epe Mengadu Di Kantor PRD

KABAR mengenai keberhasilan Partai Rakyat Demokratik (PRD) mengadvokasi pedagang “pisang epe” tersiar kemana-mana. Tidak terkecuali dengan pedagang pisang epe di kawasan barat anjungan pantai Losari.

Kemarin siang, sekitar pukul 14.00 WIB, puluhan pedagang pisang epe dari anjungan Losari ini mendatangi kantor PRD di jalan Rajawali Lr.Ampera 3, Mariso, Makassar. Mereka bermaksud mengadukan persoalannya kepada para pengurus PRD dan berhadap mendapatkan advokasi.

Daeng Sewang Ansar, 51 tahun, salah seorang dari pedagang pisang epe itu, mengaku mendapatkan berkali-kali intimidasi dan larangan berjualan di pantai Losari. “Kami sering mendapat perlakuan kasar dari Satpol PP. Barang dagangan kami dirampas secara paksa,” kata Daeng Sewang yang mengaku sudah berjualan di tempat itu sejak tahun 1980-an.

Perlakuan sama juga dialami oleh Jufri, 25 tahun, yang mengaku gerobaknya pernah dibelah dua oleh Satpol PP. “Mereka merampas gula kami, lalu memotong kursi-kursi kami dengan parang. Gerobak juga dihancurkan dengan dibelah dua.”
Saat kunjungan pedagang ini, ada tiga orang anggota PRD yang menyambut, Arham Tawarrang, Firman, dan Firdaus. Arham, yang juga ketua Komite Pimpinan Kota PRD Makassar, mengajak para pedagang untuk berani melawan kesewenang-wenangan itu.

“PRD bukanlah dewa penyelamat. Tetapi, bapak-bapak dan ibu-ibu sendiri harus punya keberanian untuk bangkit melawan,” katanya.

Namun, menurut Daeng Sewang, pihaknya sudah berkali-kali melakukan perlawanan dan bahkan sudah 21 kali mendatangi kantor DPRD. “Setiap kami ke kantor DPRD, tidak seorang pun anggota DPRD yang menemui kami. Akhirnya, kami pasrah dan memaksa berjualan di tengah intimidasi.”

Merespon pengaduan ini, Arham Tawarrang, selaku Ketua PRD Makassar, meminta para pedagang membuat kronologi tertulis. Selain itu, ia juga meminta para pedagang mulai membuat rapat-rapat untuk membahas masalahnya. Dari rapat itu, nantinya akan diputuskan langkah-langkah apa yang akan diambil.

Namun, sebagai bentuk tekanan terhadap DPRD, Arham menganjurkan agar para pedagang mempersiapkan aksi massa. “Jika kemarin bapak datang sendiri ke kantor DPRD dan tidak membawa hasil, maka ke depan ada baiknya kita menggunakan aksi massa supaya tuntutan kita lebih terdengar.”

Firdaus, ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Makassar, mengajak para pedagang untuk membangun wadah perjuangan dulu. “Kalau kita sudah punya wadah perjuangan, maka kita pun akan punya alat untuk menyampaikan tuntutan kita kepada pemerintah dan aparatusnya,” katanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut