Cerpen: Harga Perubahan Itu Memang Mahal

Aku baru merasai ada pemilihan yang benar-benar menggairahkan. Ya, baru di Pilkada DKI Jakarta ini. Bayangkan, rakyat bergerak menentukan pilihan politiknya benar-benar dengan suara nuraninya. Mereka tak bergeming dengan iming-iming uang.

Karena uang tak kuasa menggoyang pilihan politik rakyat, sekarang reaksioner-reaksioner itu memainkan isu SARA (Suku, Agama, dan Ras). Awalnya, aku mengira ini hanya bentuk primordialisme. Tetapi, setelah melihat isian kampanye si reaksioner itu, ya, mereka benar-benar memainkan isu SARA.

Saya belum bisa memprediksi seberapa kuat dampak isu SARA ini. Banyak yang bilang, Isu SARA tak lagi mempan di Jakarta. Maklum, kata mereka, masyarakat Jakarta cukup rasional karena akses informasi dan persinggungannya dengan berbagai kebudayaan. Ya, semoga saja.

Beberapa hari lalu, jajak pendapat Kompas juga menyimpulkan begitu. Katanya, kesamaan agama dan suku tak lagi menjadi parameter untuk memilih. Mayoritas responden, kata jajak pendapat itu, lebih memihak pada kesamaan program. Bahkan, jajak pendapat itu menegaskan, kutipan ayat suci pun tak begitu berpengaruh menggoyang keyakinan politik rakyat. Amien!

Tapi, tadi malam (malam pemilihan), kira-kira menjelang pukul 12.00 WIB, berlembar-lembar selebaran gelap datang. Tadi malam itu saya sedang nongkrong di warung juice di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Awalnya, saya tak begitu risau dengan kemungkinan “serangan fajar” itu. Lagipula, tempat saya nongkrong itu hanya 100-an meter dari posko Jokowi-Ahok.

Tiba-tiba seorang pemuda datang membawa selebaran gelap itu. Sebut saja namanya Pemuda A. Ia singgah di depan kios dekat tempat nongkrong saya. Pemiliknya, yang malam itu sudah siap-siap tutup, langsung keluar. Si pemuda A pun memperlihatkan selebaran gelap itu.

Saat si pedagang sedang membacai selebaran gelap itu, datang lagi seorang pemuda yang memang sering bolak-balik daerah itu. Ya, kelihatannya ia pemuda setempat. Sebut saja pemuda B. Ia turut membacai selebaran gelap itu.

Alhasil, selesai proses membaca, terjadilah diskusi. Ya, diskusi politis itu berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB lewat sedikit. Saya, yang begitu penasaran dengan selebaran itu, berusaha menguping pendiskusian mereka. Beginilah kira-kira:

“Be, ada selebaran Foke nih. Katanya, Jokowi itu gagal. Lagian, wakilnya itu orang Kristen Protestan. Bukan islam. Bagaimana nih?” tanya pemuda A sembari memperlihatkan selebaran dimaksud.

“Ah, masak iya ada begitu. Tapi kemarin juga saya dapat selebaran begitu. Malahan, saya dapat selebaran Fatwa MUI. Katanya, orang islam diwajibkan memilih pemimpin yang seiman,” balas si pemilik kios.

“Trus, gimana nih be? Kita mesti pilih siapa?” si pemuda A turun dari motor dan memilih duduk di depan kios.

Saat itu datanglah pemuda B dengan menaiki sepedanya. Ia penasaran dengan selebaran itu, kemudian diambil dan dibacainya. Belum juga tuntas dibacanya, ia sudah memekik: “Ah, selebaran fitnah ini. Jokowi itu sukses kok di Solo. Semua orang juga mengakui itu. Lah, orang tua saya masih di Solo.”

“Truss..kenapa selebaran itu bilang Jokowi gagal di Solo,” sambar pemuda A.

“Ya, namanya juga politik. Data-data bisa diutak-atik sesuai selera. Mirip dengan data miskin BPS itu. Tapi, ingat loh, pak, Jokowi itu menang dengan suara 90% di Solo. Artinya, rakyat di Solo menganggap Jokowi sukses,” kata pemuda B.

Pemuda B tak puas dengan penjelasannya. Melirik sebentar, ia pun melanjutkan:

“Apa yang didapat dari kepemimpinan Foke? Ya, tiap tahun kita was-was kena banjir. Kebakaran juga terus mengintai rumah-rumah orang miskin. Berobat ke rumah sakit sangat sulit kalau tak bawa uang. SKTM hanya dibagi oleh RT untuk orang-orang terdekatnya. Katanya sekolah SD sampai SMU gratis. Tapi, pungli marak di mana-mana. Masih ingat gak? Anaknya mpok Minah ditahan ijazahnya gara-gara SPP yang belum lunas.”

“Ya-ya-ya saya juga tahu itu. Tapi kenapa MUI nyuruh kita memilih Foke yang seiman?” pemilik warung yang terlihat gelisah itu segera mengambil lembaran selebaran berisi fatwa MUI itu.

Ketiga-tiganya memelototi selebaran itu. Seorang anak kecil tiba-tiba ikut nimbrung.

“Baca apaan sih, be?”

“Husy, kamu belum saatnya baca beginian. Sana masuk ke dalam dan bacai buku pelajaran sekolah. Kalau sudah ngantuk, duluan saja tidur,” kata si pemilik yang juga bapak anak itu.

“Ya, kan aku pengen tahu juga.” Lalu, tanpa menunggu aba-aba, dirampasnya kertas itu dari tangan bapaknya. Kemudian dibacanya selebaran itu keras-keras. Terima kasih, dek, kau membuat tugas pengupinganku menjadi gampang. Thanks a lot!

Si pemuda B tiba-tiba memekik. “Wah, ini mah namanya MUI tidak netral. Masak lembaga agama memerintah umatnya memilih orang yang gak benar, yang ketahuan korupsi, yang tak memihak orang miskin.”

“MUI dibayar Foke maksudmu?” sambar si pemilik warung dengan suara agak keras tak terkendali. “Kalau benar dibayar Foke, lembaga agama itu tak ada harganya lagi. Fatwa kok dibeli dengan uang. Memang benar kata orang-orang, tak ada yang tahan dengan godaan uang.”

Si pemuda B mengambil selebaran-selebaran itu. Ia kemudian melipatnya dan memasukkannya ke dalam kantong celana. Berpamitan singkat, ia meninggalkan si pemilik warung dan anaknya. Si pemuda A juga masih di situ, sambil menikmati rokok dan minuman dingin.

Berhubung sudah larut malam, saya pun beranjak mau pulang. Sengaja aku memilih lewat di depan kios itu. Dan tiba-tiba anak kecil itu bertanya?

“Pak, Kristen Protestan itu apa sih? Mereka jahat, ya?”

“Mereka tidak jahat, nak. Mereka manusia seperti kita dan sama-sama percaya Tuhan,” kata sang bapak.

“Trus, kenapa kita, kata selebaran itu, gak boleh memilih orang China? Kenapa harus Betawi yang jadi Gubernur?” pertanyaan bertubi-tubi tak dijawab oleh bapaknya. Sang Bapak sibuk mengangkat barang-barang jualan. Maklum, kios mau ditutup.

Perasaan saya, yang mendengar ucapan anak itu, menjadi berkecamuk. Dalam fikiran saya muncul pertanyaan: “kenapa harus memecah-belah bangsa sendiri hanya demi pertarungan kekuasaan?”

Saya menjadi sadar, perubahan itu memang mahal harganya. Para pendiri bangsa membangun Republik ini dengan pengorbanan setinggi-tingginya. Persatuan bangsa ini juga dibayar dengan pengorbanan tak kecil. Betapa berat kerja pendiri bangsa menenum beragam suku bangsa, etnis, agama, dan keyakinan politik ke dalam satu baju bernama “Bhineka Tunggal Ika”. Ya, mereka memang berbhineka, tapi ika dalam cita-cita: Masyarakat Adil dan Makmur.

Ya, besok, kataku di dalam hati, rakyat Jakarta menjadi “pejuang”. Di tangan merekalah harapan masa depan bangsa ini terletak. Maka, kutundukkan kepalaku kepada mereka yang tidak memilih kandidat pengusung isu SARA.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut