Demokrasi Internal Partai

Pertengahan Januari 2013 lalu, Partai Nasional Demokrat (Nasdem) tiba-tiba dilanda kemelut internal. Sejumlah petinggi dan pengurus inti partai itu mengundurkan diri.

Mantan Sekretaris Jenderal Nasdem, Ahmad Rofik, mengaku bahwa konflik itu dipicu oleh mekanisme partai yang macet. Kabarnya, Surya Paloh tiba-tiba ngotot menjadi Ketua Umum.

“Harusnya mekanisme pergantian dipakai. Kalau seperti ini, seolah Partai Nasdem milik orang per orang. Padahal ini partai bersama, harusnya ikuti aturan,” kata Ahmad Rofiq.

Lalu, hampir senasib dengan Partai Nasdem, partai Demokrat juga dilanda kemelut. Sudah lama beredar kabar tentang pertarungan internal di tubuh partai berkuasa ini. Namun, begitu isu korupsi menyasar Ketua Umum Demokrat, Anas Urbaningrum, isu penggulingan pun mencuat.

Tiba-tiba, di tengah kemelut itu, SBY selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat tiba-tiba mengambil-alih kepemimpinan partai. Sedangkan Anas, Ketua Umum yang dipilih Kongres, langsung dinon-aktifkan. Ironisnya, proses pengambil-alihan kendali kepemimpinan partai Demokrat itu tidak melalui mekanisme yang umum berlaku di setiap partai, seperti Kongres, Rapat Pimpinan, dan lain-lain.

Kejadian di Nasdem dan Demokrat ini, sebagaimana juga terjadi di partai-partai besar lainnya, menjelaskan betapa buruknya manajemen organisasi kepartaian di Indonesia. Hampir semua partai itu gagal mempraktekkan demokratisasi di internal partainya.

Hampir semua partai politik di Indonesia cenderung berwatak oligarkis. Kekuasaan tertinggi di pegang oleh segelintir elit. Sebut saja: Demokrat (SBY), PAN (Amin Rais/Hatta Radjasa), Golkar (Aburizal Bakrie), PKB (Muhaimin Iskandar), PDI-P (Megawati SP), Gerindra (Prabowo), Nasdem (Surya Paloh), dan Hanura (Wiranto).

Sebagian besar elit itu adalah plutokrat. Dengan kekuatan modalnya, mereka seakan membeli partai. Pada prakteknya, partai itu hanya menjadi kuda tunggangan si elit untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Para elit itulah, entah mereka menjabat Ketua Umum atau Majelis Tinggi/Dewan Pembina, yang mengontrol penuh arah dan kebijakan partai.

Saking berkuasanya elit-elit itu, sebagian besar mekanisme partai untuk mengambil keputusan, seperti Kongres, Rapat Pimpinan, Penentuan Capres, dan lain-lain, hanyalah “formalitas belaka”. Aturan-aturan partai, yang biasanya tercantum di AD/ART dan peraturan organisasi, bisa dilabrak oleh kehendak si elit tadi.

Dalam pengajuan Capres, misalnya, tidak ada satupun partai di Indonesia yang menerapkan mekanisme pengajuan kandidat dari anggota di bawah dan kemudian seleksi melalui konvensi. Sekalipun ada partai yang mulai menerapkan mekanisme konvensi, tetapi prosesnya tidak berasal dari bawah dan kurang transparan.

Selain itu, tidak satu pun parpol di Indonesia punya tradisi perdebatan internal yang berkualitas. Maklum, sebagian besar parpol itu memang miskin gagasan. Yang nampak, perdebatan politik di internal parpol hanya soal pertarungan posisi kekuasaan. Padahal, partai seharusnya menjadi pabrik gagasan. Dan perdebatan ideologis seharusnya menjadi sekolah politik untuk melahirkan kader handal dan berkualitas.

Kenyataan di atas memang sangat menyedihkan.  Maklum, sebelum Indonesia Merdeka, tradisi kepartaian kita justru sangat bagus. Kendati saat itu mayoritas rakyat masih buta huruf, partai mengajari rakyat tentang bagaimana berorganisasi dan berpolitik secara modern. Partai pun tampil sebagai alat perjuangan dan pabrik gagasan.

Sekarang, di abad modern, kita justru dijejali model kepartaian ala keluarga besar. Pimpinan partai tak ada ubahnya dengan raja-raja di masa lampau. Tangan pimpinan partai mengontrol keseluruhan partai. Seluruh keluarganya pun—istri, anak, menantu, besan, kerabat dekat—duduk di struktur kepemimpinan dan disiapkan melanjutkan roda kekuasaan partai.

Model kepartaian yang buruk itu menimbulkan penyakit: korupsi, otoritarianisme, klientalisme, dan kultur patriarkhis. Ini pula yang membuat kehidupan politik kita tidak pernah sehat. Pendek kata, sebelum partai bisa mengorganisasikan internalnya secara sehat dan demokratis, jangan pernah bermimpi bisa membangun Indonesia untuk lebih baik.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut