Membangkitkan Industri Dirgantara Nasional

PT Dirgantara Indonesia (DI) ternyata tak kehabisan tekad untuk membangkitkan industri dirgantara nasional. Sejak tahun 2006, PT DI telah mengembangkan pesawat model baru, N-219. Pesawat baru ini diharapkan bisa melayani kebutuhan penerbangan perintis sehingga pelan-pelan bisa menjahit negara kepulauan ini.

Keberhasilan PT. DI tersebut patut diapresiasi. Maklum, sejak ditekuk oleh liberalisasi ekonomi, kepercayaan diri bangsa Indonesia nyaris punah di hadapan serbuan produk asing. Industri nasional juga turut hancur lebur akibat liberalisasi ekonomi itu. Beberapa industri kebanggaan kita, seperti pabrik baja PT. Krakatau Steel, juga diprivatisasi.

Pembangunan Industri dirgantara Indonesia punya sejarah panjang. Ide awalnya berasal dari Bung Karno. Pada tahun 1950, seperti diceritakan Habibie, Bung Karno sudah berambisi membangun industri maritim dan dirgantara. Cita-cita itu sesuai dengan karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Tentunya, dengan 80% wilayahnya bersifat air, Indonesia memang harus dijahit dengan industri maritim dan dirgantara.

Bung Karno tak hanya beretorika. Bung Karno sadar, proyek industri dirgantara memerlukan penguasaan teknologi. Akhirnya, sejak 1950-an, Indonesia mengirim pemuda-pemudi-nya belajar ke luar negeri, khususnya Belanda dan Jerman. BJ Habibie, bapak teknologi Indonesia itu, adalah angkatan ke-V yang dikirim Bung Karno ke Belanda dan Jerman.

Namun, apa daya, kudeta militer sayap kanan di tahun 1965 membuat sebagian besar pelajar itu terhalang pulang untuk mengaplikasikan ilmunya ke tanah air.  Habibie sendiri sempat bekerja lama di sebuah perusahaan penerbangan di Hamburg, Jerman. Barulah pada tahun 1973, karena terkenang amanat Bung Karno, Habibie rela kembali di Indonesia.

Akhirnya, pada 1976, Indonesia mendirikan industri strategis pembuat pesawat terbang bernama IPTN. Pelan-pelan IPTN mulai berkembang, dimulai dari perakitan akhir, lisensi pesawat dan helikopter, sampai produksi bersama pesawat CN-235 dengan CASA Spanyol. Puncaknya, IPTN berhasil memproduksi pesawat N-250 dengan teknologi fly by wire, teknologi kendali terbang yang masih asing pada era 1990-an. Sukses ini disertai dengan mendesain pesawat jet penumpang N-2130.

Sayang, perjalanan IPTN kandas di tengah jalan seiring dengan krisis ekonomi tahun 1997/1998. Tak hanya proyek N 250 yang terhenti, IPTN-pun mulai dibunuh perlahan. Karena tidak ada kepastian kerja, sebagian engineer-nya terbang ke luar negeri. Dari 48.000 karyawan menyusut drastis menjadi 16.000 karyawan.

Meski sempat tersungkur, PT DI tetap bisa bertahan dan berkembang. Ini patut diapresiasi. Hanya saja, industri dirgantara Indonesia kedepan masih berhadapan dengan banyak kendala, terutama ancaman privatisasi, dukungan finansial, dan Sumber Daya Manusia (SDM).

Dengan bentuk negara kepulauan, juga dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia tentu selalu menjadi incaran industri dirgantara asing dan maskapai penerbangan asing. Maka, jangan heran bila negara-negara industri maju, seperti AS dan Eropa, selalu menghambat perkembangan industri dirgantara Indonesia. Habibie sendiri pernah berujar, “kehancuran IPTN karena tekanan dari IMF.”

Untuk membangun industri dirgantara nasional, dukungan politik dan finansial dari pemerintah sangat diperlukan. Dukungan politik itu bisa berupa kebijakan berupa fasilitas dan proteksi. Pemerintah juga harus mulai berfikir untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor pesawat dari luar.

Pembangunan industri dirgantara juga butuh dukungan SDM. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi kedirgantaraan kita mengalami penurunan SDM: dari sekitar 16.000 orang (pasca krisis 1998) menjadi 3.000 orang saja. Pemerintah Indonesia harus bisa merangkul kembali engineer- engineer Indonesia  di luar negeri agar kembali membangun negerinya.

Namun, tekad ini memang tidak bisa berhasil jikalau pemerintah masih rela menjadi pesuruh—meminjam istilah Habibie—VOC berbaju baru, yakni negeri-negeri imperialis dan korporasinya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut