Dari Kenaikan Harga dan Pengangguran Hingga Penggulingan Presiden Di Tunisia

Cerita mengenai kejatuhan Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, bisa menjadi momok menakutkan bagi Presiden SBY di Indonesia. Sebab, diakui atau tidak, ada sejumlah kesamaan persoalan yang terjadi di Tunisia dan juga Indonesia, khususnya soal kenaikan biaya kebutuhan hidup dan pengangguran.

Tunisia, yang luasnya kurang lebih hampir sama dengan luas Pulau Jawa, adalah salah satu contoh negara yang menjadi korban praktek neoliberalisme. Bedanya dengan Indonesia, neoliberalisme di Tunisia barulah di tahap awal, sementara derajat neoliberalisme di Indonesia jauh lebih mendalam.

Seperti juga rejim Soeharto tahun 1990-an, Ben Ali pernah disanjung-sanjung oleh barat karena dianggap berhasil mengkombinasikan pertumbuhan ekonomi dengan apa yang disebut “kediktatoran tercerahkan”. Melalui sejumlah reformasi ekonomi, yang didasarkan atas petunjuk IMF, Ben Ali berhasil mengangkat PDB Tunisia dari $1.206 pada 1986 menjadi US$3.786 pada 2008. Di Indonesia, SBY dan anak-buahnya juga sering membangga-banggakan kenaikan PDB semacam ini.

Namun, dalam waktu sekejap, semua capaian itu menguap begitu saja saat pemerintah gagal mengontrol kenaikan harga bahan makanan, pengangguran, dan korupsi yang semakin menggila. Tunisia juga semakin bergantung secara ekonomi kepada negeri-negeri imperialis di Barat, dimana sekitar 80% pendapatan nasionalnya diperoleh dari investasi dari perusahaan barat.

Faktor utama pendorong ekonomi Tunisia adalah pariwisata dan investasi asing. Khusus untuk investasi asing ini, pemerintah Tunisia menjadikan “politik upah murah” sebagai daya tarik utama bagi investor asing. Dengan kehancuran ekonomi nasional, daya beli rakyat yang merosot, maka kenaikan harga pangan seperti roti, susu, dan gula telah menjadi pemantik kemarahan rakyat.

Salah satu sektor yang paling resah dengan keadaan ini adalah para sarjana yang menganggur. Keresahan para penganggur terpelajar ini tercermin selama aksi protes berlangsung, dimana mereka memainkan peranan penting di dunia maya dan di jalanan. Mohamed Bouazizi, pemuda berusia 26 tahun yang memiliki toko buah-buahan, rela membakar diri setelah petugas menyita barang-dagangannya karena persoalan ijin. Padahal, karena ketiadaan lapangan pekerjaan, para sarjana seperti Bouazizi harus bekerja di sektor informal. Berdasarkan catatan Aljazeera, sedikitnya 7 orang pemuda telah mengakhiri hidupnya karena tidak tahan dengan kenaikan harga dan pengangguran.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), lembaga yang paling bertanggung-jawab atas kejatuhan ekonomi Tunisia, pengangguran di Tunisia mencapai 30% dari keseluruhan penduduk, dan sebagian besar penganggur itu adalah sarjana. Di Sidi Bouzid, kota tempat kelahiran Mohamed Bouazizi, jumlah sarjana yang menganggur mencapai 25%.

Persoalan-persoalan ini semakin diperparah dengan karakter politik Tunisia yang dianggap otoritarian. Meskipun mulai menjalankan pemilu reguler, sebagaimana dikehendaki barat, tetapi kehidupan politik di sana belumlah sepenuhnya bebas.

Seperti bulan lalu, ketika aksi protes mulai bermunculan dan membangung jaringan di dunia maya, pemerintah langsung melakukan pelarangan terhadap Facebook, Twitter, dan Blogger. Bahkan, sejumlah blogger turut ditangkap karena menyebarkan artikel mengenai jumlah kekayaan dan korupsi Presiden Ben Ali. Meski begitu, ada kecurigaaan pula yang menyebutkan, bahwa barat melalui Wikileaks berusaha memanas-manasi situasi di Tunisia. Mungkin, ini bisa diibaratkan dengan keterlibatan kapital internasional dalam penjatuhan rejim Soeharto di Indonesia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Mendengar kejadian di Tunisia, SBY dan aparatusnya pasti akan kesulitan untuk tidur dengan nyenyak. Pasalnya, dari berbagai situasi ekonomi yang memicu kebangkitan gerakan massa di Tunisia, hampir semuanya juga terjadi di Indonesia.

Sebut saja kenaikan harga bahan pokok, terutama cabe dan beras, yang harganya naik berkali-kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga cabe di pasaran sudah mencapai 127%, sedangkan kenaikan harga beras mencapai 30% bila dibandingkan dengan harga tahun lalu.

Jumlah sarjana menganggur juga sangat tinggi. Akan tetapi, karena data statistik pengangguran di Indonesia sudah dimanipulasi sedemikian rupa, kita kesulitan untuk mendapatkan angka pastinya. Jika mengambil data resmi BPS, misalnya, jumlah sarjana menganggur di Indonesia sudah mencapai 2,6 juta orang.

Meski begitu, adalah kurang tepat jika mengambil kesimpulan bahwa Indonesia bisa menjadi seperti Tunisia, tanpa memperhitungkan faktor historis, derajat neoliberalisme, dan imbangan kekuatan di dalam negeri masing-masing.

Di Tunisia, persoalan roti, atau pangan secara umum, sudah berkali-kali menjadi pemicu utama pergolakan sosial, seperti kerusuhan roti tahun 1988. Dibandingkan dengan Indonesia, praktek neoliberal di Tunisia barulah di tahap permulaan, masih sebatas di lapangan ekonomi. Itulah sebabnya, ada pihak yang menganggap bahwa penggulingan Ben Ali tidak lepas dari kepentingan modal barat untuk mendorong reformasi politik di negeri itu.

Sebaliknya, di Indonesia ini, derajat neoliberal sudah sangat mendalam dan sudah hampir mencapai konsolidasi sempurna di segala lapangan: politik, ekonomi, dan sosial-budaya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • alan

    rezim tunisia sudah jatuh,tapi tidak otomatis menjawab bahwa sistem yg ada di gantikan dengan sistem yang betul-betul mengakomodir kepentingan rakyatnya mungkin mieip dengan reformasinya indonesia ’98. euforia massa yg hebat hingga turunnya suharto,tapi lacur apa yg terjadi tetep aja yg ngisi kroni dan begundalnya dan sedikit borjuis cauvinist, massyrakat tetep sengsara. dgn demikian kunci yg harus kita pegang adalah sektor-sektor massa yg harus dipegang, keharusan membangun sektor-sektor massa dengan konsisten dan kreatif adalah mutlak, hingga sa’at momentum sperti itu terjadi lg kita telah siap mengambil alih kekuasaan…..