Perjuangan Rakyat Miskin Haruslah Perjuangan Politik

CUACA dingin memeluk kota Cianjur. Hujan rintik-rintik juga tidak kunjung reda semenjak pagi. Tidak terlalu dingin memang, tetapi cukup membuat menggigil mereka-mereka yang menjadi tamu di daerah ini. Maklum, kali ini Cianjur menjadi tuan rumah pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Muswil) Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Jawa Barat.

Sedikitnya 35 orang telah berkumpul, yang merupakan perwakilan dari 6 cabang SRMI di Jawa Barat. Mereka akan melakukan evaluasi terhadap perkembangan organisasi, mendiskusikan situasi ekonomi-politik, dan merumuskan strategi-taktik untuk memajukan organisasinya.

Herman Sulaeman, ketua SRMI Cianjur dan sekaligus tuan rumah Muswil ini, membuka acara ini dengan pidato singkat. Tidak lama kemudian, acara mulai berjalan dengan dipandu oleh aktivis SRMI asal Tasik, Dedi Fauzi.

Pada kesempatan pertama, perwakilan dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Barat, Bung Leo, diberi kesempatan untuk memperkenalkan PRD kepada rakyat miskin dan sekaligus memandu diskusi mengenai situasi nasional.

Begitu diberi kesempatan berbicara, Leo langsung menukik pada pokok permasalahan bangsa Indonesia sekarang ini. “Persoalan pokok rakyat Indonesia,” katanya,” adalah sistim neoliberalisme yang dipraktekkan oleh pemerintahan SBY-Budiono.”

Sebagai konsekuensi dari mengadopsi neoliberal, menurut Leonard, bangsa Indonesia harus membuka pasarnya selebar mungkin, tidak ada bea masuk, dan tidak ada proteksi terhadap komoditi tertentu di dalam negeri. Sebagai akibatnya, sebagaimana diterangkan Leonard, sebagian besar ekonomi nasional mengalami kehancuran, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kendati pemerintah mencoba menyogok rakyat dengan program seperti KUR dan PNPM, tetapi Leo menyakini bahwa program ini tidak akan efektif untuk mengatasi persoalan kemiskinan yang meningkat secara drastis. “SBY hanya memberi kita ikan, bukan pancingnya,” kata Leo menggunakan peribahasa kuno Tiongkok.

Pada sesi selanjutnya, masing-masing perwakilan kota melaporkan kondisi geopolitik lokal, perkembangan organisasi, dan hambatan-hambatan dalam perjuangan. “Ada kemajuan dalam hal advokasi, ada penambahan anggota, dan SRMI mulai dikenal rakyat miskin secara luas,” kata perwakilan dari Cianjur.

Sementara itu, perwakilan dari kota lain mengangkat soal pentingnya perjuangan politik di kalangan rakyat miskin, supaya nantinya kepemimpinan politik tidak lagi diserahkan kepada parpol-parpol yang tidak memihak perjuangan rakyat. “Kita harus menjadi bagian dari kekuasaan, dan dengan itu kita bisa menentukan kebijakan yang memihak rakyat,” kata perwakilan dari kota lain.

Ada pula persoalan seperti adanya sebagian anggota yang belum paham organisasi, mekanisme kerja organisasi, masih kurangnya disiplin, dan persoalan Kartu Tanda Anggota (KTA). “Persoalan ini harus kita benahi secepatnya. Pendidikan anggota harus dijalankan secara reguler,” ujar Dedi Fauzi.

Akhirnya, setelah melalui diskusi dan perdebatan selama beberapa hari, Muswil berhasil memutuskan struktur baru kepengurusan DPW SRMI Jabar yang baru, yaitu Leonard (Ketua), Dedi Fauzi (Sekretaris), Nadia Harun (Bendahara), dan Sonny Laurentius (DPO).

Muswil juga memutuskan agenda mendesak yang akan dikerjakan organisasi, diantaranya, pendidikan dasar dan lanjut, merespon Hari Buruh Se-dunia, dan memaksimalkan ruang-ruang politik untuk berpropaganda.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • rom

    selamat untuk teman2 di cianjur. nuhun

  • mulyadi

    maju terus salam perjuangan….kawan2 d cianjur

  • ipunk

    maju terus kawan,,kibarkan setinggi-tinginya bendera perjuangan kita dalam hal kesejahteraan rakyat indonesia….

    “hidup PRD..!!! SRMI,,jaya..!!!”