Perkembangan Teknologi Informasi Dan Pengaruhnya Di Lapangan Kebudayaan

Satu hal yang tak bisa kita hindarkan dalam diskusi kebudayaan adalah perkembangan teknologi informasi. Banyak aspek-aspek dalam kebudayaan yang turut berubah akibat perkembangan teknologi informasi ini.

Kita merujuk abad 20 sebagai abad informasi –televisi, internet, telepon, dan radio. Ini berbeda jauh dengan abad ke-19, yakni abad teknologi Gutenberg alias mesin cetak. Ikwal mesin cetak ini, seperti didalilkan Benedict Anderson, berkontribusi pada pembentukan negara bangsa. Kapitalisme cetak, menurut Anderson, membikin kelompok-kelompok yang tidak pernah bertemu muka secara langsung mulai berpikir bahwa mereka adalah bagian dari komunitas bernama “Hindia” dan kemudian “Indonesia”. Inilah peran dari koran-koran di masa pergerakan.

Boleh jadi, di abad 20 ini, semua itu sudah berubah: teknologi abad 21 menembus batas-batas yang diimajinasikan manusia abad 19, yakni negara bangsa. Teknologi baru ini telah menarik dan mempertemukan manusia dari berbagai benua dan bangsa hanya dengan memencet tombol dan menggerakkan mouse. Imajinasi manusia abad-21 jauh lebih luas ketimbang manusia jaman Minke (Tirto Adhi Soerjo)—nama tokoh dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Ini membawa perubahan tentang bagaimana generasi dulu dan sekarang memahami bangsa. Kalau dulu, karena keterbatasan interaksi dan persamaan nasib, bangsa bisa jadi memang seperti yang dibayangkan Anderson sebagai  “imagined communities”. Sedangkan bagi generasi muda sekarang, bangsa tak lebih dari sebuah identitas politik.

Perkembangan teknologi informasi dari mesin cetak ke visual (citra, tanda, gambar, dan teks) juga membawa perubahan pada kapasitas berfikir manusia. Berbagai penelitian akhir-akhir ini menunjukkan, masyarakat dari kebudayaan visual lebih dangkal daripada masyarakat yang dibesarkan oleh teks cetakan. Bayangkan, informasi datang berseliweran, tapi sangat sedikit yang singgah dalam memori. Jadinya, tidak terbentuk pengetahuan yang koheren. Bandingkan dengan manusia produk mesin cetak: Soekarno, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sjahrir, dan lain-lain. Tidak hanya punya pengetahuan yang sangat luas dan mendalam, mereka juga rata-rata menguasai banyak bahasa.

Selain dangkal,  masyarakat sekarang lebih terbuka/transparan, spontan/tergopoh-gopoh, anti-formalitas, tidak suka yang serius, dan seterusnya. Lihat aja dalam respon orang terhadap tayangan TV. Sebarap banyak sih yang mau menyimak Talk Show bertema politik atau film dokumenter tentang perjuangan bangsa. Bandingkan dengan acara berbau komedi dan sinetron.

Perkembangan teknologi informasi, khususnya televisi dan internet, juga berkontribusi pada penciptaan masyarakat homogen: gaya berpakaian sama, cara bertutur sama, potongan rambut sama, dan lain sebagainya. Yang berada diluar “yang homogen” ini biasanya diberi label “unik” atau “kampungan”.

Televisi juga menembus hingga ke rumah-rumah rakyat, bahkan ke kamar-kamar tidur mereka. Siaran televisi, yang sebagian besar dikuasai oleh kapital besar, berkontribusi dalam penyebaran ideologi neoliberal, individualisme, dan kompormisme. Satu senjata yang paling efektif adalah opera sabun alias sinetron, yang telah membius massa rakyat dalam mimpi-mimpi kemewahan tanpa harus bekerja. Inilah candu dalam masyarakat kita saat ini.

Proses kolonialisme di Indonesia memerlukan penaklukan kebudayaan. Hal itu mutlak dilakukan untuk memaksa rakyat Indonesia dengan sukarela menerima penindasan yang ditimpakan oleh imperialis.

Salah satu medium yang digunakan oleh imperialis itu adalah teknologi informasi. Dengan begitu, imperialis berhasil memasokkan ideologi mereka—konsumerisme, individualisme, cabulisme, dan lain-lain—ke tiap-tiap kepala manusia Indonesia.

Berdasarkan data, jumlah pemirsa TV Indonesia setiap harinya mencapai 50 juta orang. Sedangkan pengguna internet sudah mencapai 55 juta orang. Hampir 80% pengguna internet itu adalah kaum muda. Sementara pemakaian telepon seluler alias Hand-Phone sudah mencapai 130 juta.

Situasi ini menggeser selera kesenian rakyat kita. Penggemar kesenian rakyat semakin menurun. Akibatnya, banyak pertunjukan kesenian rakyat berhadapan dengan ruangan atau pengunjung yang sepi. Kebudayaan rakyat berhadapan dengan dua pilihan: punah atau terkomoditifikasi.

Dampak lebih jauhnya adalah perubahan mental. Selain terpenjara oleh kebudayaan ‘hiper-konsumsi”, manusia-manusia Indonesia sekarang banyak kehilangan kesadaran atas ruang dan waktu. Orang semakin tercerabut dari realitas sosial dan makin terpenjara dalam dunia maya dan fantasi. Selain itu, teknologi informasi membuat  manusia dari berbagai belahan dunia makin tak berjarak, tetapi kenyataannya antara kita dan manusia di sekitar kita justru tak saling mengenal.

Menghadapi gempuran media dan manipulasinya, ahli Linguistik Noam Chomsky menganjurkan agar kita membangun benteng pertahanan yang disebut “intellectual self-defence”. Atau seperti pernah dikatakan filsuf Amerika Latin, Jose Marti: “Tak soal dunia tercangkokkan dalam Republik kami, tetapi batangnya harus tetap tumbuh dari dalam Republik kami.”

Dalam konteks itu, mestinya kita mempersenjatai rakyat dengan kesadaran kritis. Dengan begitu, mereka bisa melihat teknologi informasi sebatas kegunaanya, bukan pada ideologi yang dibawanya. Untuk proses ini diperlukan warisan budaya dan kepribadian bangsa kita. Tradisi dan kesenian rakyat yang progressif—bukan yang mistis dan takhyul– perlu dihidupkan dan diajarkan pada anak-anak kita.

Kita perlu membangkitkan kembali sastra nasional. Ini bisa dilakukan dengan berbagai jalan: menghidupkan kembali folklore (cerita-cerita rakyat) yang saat ini nyaris tergerus oleh modernisasi. Selain itu, seni drama atau teater rakyat—ludruk, ketoprak, lenong, dll—harus dihidupkan kembali. Kegiatan menulis—jurnalisme, karikatur, essai, novel, dll—juga harus digalakkan. Kesenian rakyat yang lain—musik, nyanyian, dan tarian—juga harus dikembangkan dengan disesuaikan perkembangan modern.

Dengan membangkitkan kesenian dan sastra nasional, maka kita akan menjahit kembali imajinasi rakyat akan masa depan yang lebih baik: masyarakat adil dan makmur. Dengan begitulah bangsa bisa hidup dan berjuang!

Timur Subangun, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut