STR Bantah Pernyataan Preskom PT. RAPP

Serikat Tani Riau membantah pernyataan Presiden Komisaris (Preskom) PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Tony Wenas, yang menyatakan konflik agraria telah memperburuk masa depan investasi.

“Konflik agraria tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja, yakni kepentingan ekonomis perusahaan. Tetapi juga harus dilihat dampak atau kerugian yang dirasakan oleh rakyat banyak akibat keberadaan HTI,” kata Ketua Umum Serikat Tani Riau (STR), Muhamad Ridwan, di Pekanbaru, Riau, Senin (6/8/2012).

Riduan mengatakan, konflik agraria di Pulau Padang merupakan potrem buram buruknya penataan ruang dan tata-kelola hutan di Indonesia. “Ini menyebabkan terjadinya pelanggaran dan pemalsuan data biofisik,” katanya.

Ridwan mencontohkan, luas izin yang diterima oleh PT.RAPP tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. PT. RAPP mengantongi izin usaha sesuai IUPHHK-HT seluas 350.165 hektar. Namun, luas ijin usaha PT. RAPP di lapangan justru mencapai 357.518,7 hektar.

Selain itu, ijin usaha PT.RAPP itu juga saling tumpang-tindih dengan Kawasan Suaka Alam seluas 5.019,09 hektar dan Hutan Produksi Konversi (HPK) seluas 23.411,13 hektar.

Tidak hanya itu, Ridwan juga menambahkan, kehadiran PT.RAPP di Pulau Padang telah menghilangkan hak mayoritas rakyat setempat untuk mengakses tanah dan sumber daya hutan.

“Tanah dan hutan itu warisan dari leluhur kami. Kok tiba-tiba diklaim sebagai milik perusahaan PT.RAPP,” tegasnya.

Ridwan menegaskan, rakyat Pulau Padang akan terus berjuang mempertahankan hak-haknya yang coba dirampas perusahaan. Dua organisasi rakyat di Pulau Padang, yaitu Forum Komunikasi Masyarakat Penyelamat Pulau Padang (FKM-PPP) dan Serikat Tani Riau (STR), sudah bergerak memasuki hutan untuk memasang patok tapal batas sesuai peta administrasi desa-desa yang ada di Pulau Padang.

Untuk diketahui, Preskom PT. RAPP Tony Wenas membeberkan sejumlah pernyataan terkait konflik agraria di Pulau Padang. Pernyataan itu dimuat di harianterbit.com dengan judul “Konflik Lahan Berlarut Buruk Untuk Investasi”.

Di situ, Tony Wenas antara lain mengatakan, konflik lahan berkepanjangan menyebabkan terhentinya pemenuhan produksi perusahaan dan upaya penyerapan tenaga kerja industri di daerah.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut