CIA Dituding Rencanakan Pembunuhan Presiden Ekuador

Rafael Correa

Presiden Ekuador Rafael Correa mengungkap adanya rencana Badan Pusat Intelijen AS (CIA) untuk membunuh dirinya menjelang pemilu Presiden Ekuador pada Februari mendatang.

Correa mengatakan, rencana itu sangat mungkin terjadi mengingat sejarah kelam keterlibatan AS dalam sejumlah penggulingan pemerintahan progressif-revolusioner di Amerika latin.

“Laporan ini cukup kredibel karena hal serupa sudah sering terjadi di Amerika Latin,” kata Correa saat melakukan kampanye di Provinsi Guayas.

Correa sendiri merujuk pada laporan seorang wartawan Chile, Patricio Mery Bell, yang membeberkan laporan mengenai adanya skenario CIA untuk “menghilangkan” Presiden Ekuador.

Bell sendiri menyuarakan adanya ancaman terhadap keselamatan Presiden Ekuador, Rafael Correa, sejak tiga bulan lalu. Dia mengumumkan laporan tentang rencana CIA menciptakan “kekacauan” di Ekuador.

Lebih lanjut, Bell mengungkapkan, keselamatan Presiden Correa akan terancam setidaknya sejak 15 Januari mendatang dan hari-hari selanjutnya. “Presiden Correa harus lebih waspada lagi,” kata Bell kepada El Ciudadano.

Bell bilang, meskipun dirinya bukan pendukung Rafael Correa, tetapi dirinya sebagai warga Amerika Latin mengharuskannya mengumumkan strategi CIA menggelontorkan dana sebesar 88 juta US dollar untuk menciptakan kekacauan di Ekuador.

Jurnalis Chile itu yakin, dana tersebut akan disalurkan kepada sejumlah kelompok anarkis ekstrimis, kiri garis keras, dan sejumlah kelompok konservatif di Ekuador.

Menanggapi tudingan itu, Duta Besar AS untuk Ekuador, Adam Namm, menegaskan, bahwa pemerintah AS tidak akan pernah terlibat dalam proses pemilu di Ekuador.

Kudeta bukan hal baru bagi Rafael Correa. Oktober 2010 lalu, sekelompok polisi dan tentara melancarkan kudeta terhadap Correa. Mereka berhasil menyekap sang Presiden di sebuah Rumah Sakit selama beberapa jam. Namun, gerakan rakyat dan militer progressif berhasil menggagalkan upaya kudeta tersebut.

Rafael Correa sendiri masuk di dalam jejeran Presiden kiri Amerika Latin. Banyak kebijakannnya bertabrakan dengan kepentingan imperialisme di Amerika latin.

Correa sendiri adalah jebolan fakultas ekonomi di University of Illinois, AS. Meski begitu, Correa sangat anti-neoliberal dan terang-terangan berseberangan dengan IMF dan Bank Dunia.

Begitu menjadi Presiden Ekuador, Ia segera memutar haluan ekonomi Ekuador menjadi ke kiri dan populis. Ia meluncurkan berbagai program sosial untuk mengatasi kemiskinan akut di negerinya.

Correa juga berhasil membuat negaranya tidak perlu membayar utang najis kepada IMF. Ia juga sangat keras menolak kehadiran pangkalan militer AS di Manta, Ekuador. Tak hanya itu, Rafael Correa juga memberikan suaka politik kepada jurnalis paling dimusuhi pemerintah AS, yaitu Julian Assange.

Baru-baru ini, Presiden Rafael Correa juga berhasil menekan parlemen untuk segera mengesahkan kebijakan pajak progressif terhadap bank-bank dan institusi keuangan di Ekuador. Nantinya, pajak dari Bank-Bank itu akan digunakan untuk subsidi rakyat miskin.

Rafael Correa, seperti juga Hugo Chavez di Venezuela dan Evo Morales di Bolivia, sangat berkomitmen terhadap “Sosialisme Abad-21”. Correa menyebut revolusi Ekuador sebagai “Revolusi Warga”.

Correa menjelaskan, revolusi warga ini akan mengubah struktur negera borjuis, yang hanya melayani segelintir elit, menjadi “negara kerakyatan”. “Proyek kami itu sejalan dengan sosialisme ilmiah-nya Marx dan Engels. Di sini, rakyat-lah yang harus memerintah, bukan pasar. Pasar harus menjadi hamba yang baik, bukan Tuan. Manusia tidak bisa diperlakukan sebagai alat produksi untuk tujuan akumulasi kapital,” katanya.

Correa sendiri bersama partainya, Alianza PAÍS (AP), kembali mencalonkan diri sebagai kandidat Presiden pada pemilu mendatang. Ia berjanji akan memperdalam proses “Revolusi Warga”-nya.

Beberapa survei mengunggulkan Rafael Correa bisa mengalahkan lawannya, Guillermo Lasso, yang bekas bos bankir.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Donna Hendharto

    I hate USA. Wish Obama get killed