Cerpen: Lelaki Tua dan Becaknya

Akhirnya aku putuskan untuk mampir  juga ke rumah kontrakan Lelaki Tua di Kota T.  Aku mendapatkan alamatnya dari seorang kawan via sms. Lelaki Tua itu tinggal di Kampung A RT 17/RW 08 No 45. Begitu mudah dihapalkan: tujuh belas agustus tahun empat lima, bagian lagu yang populer pada masa sekolah terutama ketika menjelang, selama  dan beberapa hari sesudah peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Bukankah itu hari yang tak mungkin dilupakan?

Di kota T, Lelaki Tua dicintai anak-anak. Lelaki Tua memang belum punya anak. Ia bahagia anak-anak berkumpul di sekitarnya dan anak-anak pun bahagia bila bersama Lelaki Tua dan becaknya. Becaknya begitu lebar sehingga bisa menampung anak-anak dalam jumlah banyak. Sambil mengayuh becak ia bercerita dan bernyanyi. Nyanyiannya bagus-bagus. Anak-anak suka. Banyak orang tua kemudian percaya pada Lelaki Tua dan menyerahkan anak-anaknya untuk diantar  berangkat ke sekolah dan pulang ke rumah dengan memberikan uang bulanan yang cukup. Dengan cara itulah ia mulai menabung.

Ia menabung terus dan terus. Orang-orang mulai curiga bahwa Lelaki Tua akan kawin lagi karena menginginkan anak sebab isterinya tak dapat memberikan anak. Lelaki Tua tahu bahwa ia menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Suatu kali  ia mengatakan dalam sebuah pertemuan warga bahwa ia menabung untuk membeli mobil angkot. Orang-orang pun heran bahwa Lelaki Tua hendak mengubah profesi dari tukang becak menjadi sopir angkot. Sebagian mencibir tak percaya bahwa Lelaki Tua bisa membeli mobil angkot. Sebagian lagi  menyarankan agar Lelaki Tua menerima hidupnya dengan terus menjadi tukang becak bahkan seharusnya bersyukur sudah mendapatkan langganan tetap antar jemput dengan pendapatan lumayan. Lagi pula usia  sudah memasuki kepala 7 apalagi yang hendak dicari? Apakah masih bisa menjadi sopir angkot?

Lelaki Tua pun menjawab bahwa hidup harus berubah. Orang-orang pun menyarankan agar Lelaki Tua belajar dulu menyopir sebelum membeli mobil angkot. Lelaki Tua pun menurut dan mulai belajar menyopir pada rekannya yang sudah lebih dahulu menjadi sopir angkot.

Aku pun mulai menyusuri jalan dan lorong yang mengantarkan aku ke rumah Lelaki Tua. Berkali-kali ia dengan penuh harap selalu meminta aku untuk mampir ke rumah kontrakannya. Tapi selalu juga aku menjawab: “Ok. Suatu kali nanti aku mampir. Aku harus jalan lagi.” Begitulah selalu bila aku bertemu dengannya entah di acara seminar, diskusi, atau sesudah sama-sama terlibat dalam aksi demonstrasi.  Dan tanpa rasa kecewa: ia pun menjawab: “Ok. Tetap semangat,” sambil menjabat tanganku erat dan bersemangat secara komando dengan tangan kanannya yang kokoh.

Lelaki Tua sederhana itu sejak mula kukenal sebagai tukang becak yang cerdas dan berani. Aku tahu ia beristeri tapi aku jarang melihat ia mengajak isterinya dalam berbagai acara yang diikuti. Aku masih ingat pertemuan pertamaku dengannya saat kami sama-sama marah atas perlakuan Pemerintah terhadap Partai Banteng. Partai itu dipecah-belah, anggota dan kadernya diteror dan diintimidasi. Kantornya diserbu dan yang bertahan di kantor itu dibunuh. Kudengar dari orang-orang yang mengenalnya, Lelaki Tua itu termasuk salah satu anggota partai yang ikut berjaga di kantor itu pada  malam penyerbuan jahanam itu. Ia berhasil lolos.

Luar biasa. Ia hanya tukang becak. Tapi semangat membacanya tinggi. Semua selebaran, majalah dan tabloid yang aku jual, selalu dibeli dengan senyum. Lebih dari itu, terkadang ia masih sempat menraktir makan atau sekadar minum-minuman ringan bila berjumpa dalam aksi demonstrasi.

“Kalau untuk aksi, kuusahakan selalu ikut,” katanya suatu kali.

“Tapi jangan hanya aksi saja diikuti. Diskusi dan membaca juga penting,” kataku.

“Ya. Tentu. Perkumpulan Tukang becak sudah siap dibentuk. Kamu harus datang ke acara pemilihan pengurus karena kami akan sekaligus mendiskusikan marhaenisme ajaran Bung Karno.”

“Wow. Luar biasa. Berapa anggotanya?”

“Sementara 20 orang. Kamu bisa bantu mengajar filsafat kan?”

Aku menjawab bisa. Waktu itu Jendral Besar belum jatuh. Aku datang ke pertemuan pembentukan perkumpulan tukang becak itu. Berdua puluh-an mereka berkumpul di rumah seorang pengurus Partai Banteng yang sedang dipecah-belah dan dihancurkan itu. Wajah-wajah yang bersemangat untuk berkumpul dan membikin perhitungan dengan ketidakadilan itu tidak menampilkan diri sebagai para tukang becak yang setiap hari bergelut dengan kebutuhan mendesak ekonomi tapi mereka berkumpul dan berbicara politik  serta melakukan perjuangan politik.

“Kita akan memboikot pemilu agar pemilu menjadi tidak sah di hadapan rakyat,” seru Lelaki Tua yang dipilih menjadi ketua Perkumpulan Tukang Becak Kota T, “kabarkan pada seluruh kawan tukang becak di kota T ini untuk tidak ikut pemilu karena pemerintah telah bertindak curang dengan menghancurkan dan memecah-belah Partai Banteng.”

Sesudah Lelaki Tua menjadi ketua Perkumpulan Tukang Becak di Kota T itulah, kami menjadi semakin sering bertemu. Sebagai orang yang bertanggung jawab dalam perluasan organisasi Partai, aku diwajibkan untuk mendorong perkumpulan tukang becak itu bertemu dengan berbagai kelompok kaum miskin kota seperti pengamen, pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima dan berbagai sektor pekerjaan informal lainnya serta perkumpulan buruh dan mahasiswa di Kota T. Kami pun semakin akrab dalam pertemuan atau rapat-rapat antar ketua-ketua organisasi massa kaum miskin kota, mahasiswa dan buruh tersebut.

“Bagaimana kamu bisa menjadi pengagum Bung Karno?” tanyaku suatu kali.

“Hanya Bung Karno yang mencintai wong cilik seperti saya. Ia selalu menyebut Tukang Becak dalam setiap pidatonya.”

“Itu pekerjaanmu sejak mula?”

Lelaki tua tak menjawab.

***

“Akhirnya Bung, sampai juga di rumah kontrakan kaum marhaen ini,” sapanya menyambutku begitu aku sampai di halaman deretan rumah petak yang salah satunya dihuni Lelaki Tua. Ia sedang membersihkan becak kesayangannya dan tentu saja kesayangan anak-anak itu.

“Ya. Senang sekali bisa mampir ke rumah Bung ini. Lelaki Tua yang bersemangat perubahan.” Lelaki Tua tersenyum.

Kami bicara panjang lebar tentang masa-masa melawan Jendral Besar dan bagaimana kami bisa bertemu dan berkawan. Kami pun bercerita tentang kawan-kawan pergerakan selama melawan Jendral Besar.  Ada yang berubah dan ada yang tetap.

“Becak ini akan aku singkirkan dari penghidupanku,” kata Lelaki Tua tiba-tiba.

“Ya. Aku dengar kamu akan menggantinya dengan mobil angkot dan kini sedang menabung?”

“Ya. Aku tidak perlu romantis dengan becak ini. Menjadi kaum marhaen yang baik kan tidak harus selalu menjadi tukang becak atau wong cilik kan?” Aku tidak menjawab hanya mengangguk.

Terus terang aku mengagumi hidupnya walau aku tak begitu tahu asal-usulnya, Lelaki Tua adalah tukang becak yang mengerti politik dan cita-cita hidupnya. Ia pun sanggup mengubah hidupnya demi cita-citanya dan untuk itu Lelaki Tua seperti tak lelah mengarungi jaman.

***

“Mobil angkot sudah kubeli,” kabarnya via sms

“Becakmu?”

“Kuberikan pada ketua baru Perkumpulan Becak di Kota T. Semoga kawan-kawan tukang becak, tetap berkumpul. Aku hanya berpesan: cintailah anak-anak. Aku siap menjalankan tugas sejarah berikutnya.”

“Wah..hebat. Bung masih berniat terlibat dalam perjuangan pada umur setua itu.”

“Apakah Bung berniat pensiun bila sudah setua aku?”

Lama aku tidak menjawab. Lelaki Tua mengirimkan sms lagi:

Kebahagiaan yang sejati adalah selalu dalam perjuangan.

Aku menjawab: semoga…

*****

Jakarta, 1 Oktober 2010

Untuk D di kota T

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • kusno

    mantap!