Cerpen: Daun Jatuh

AJ Susmana

Ketika aku sampai di kotamu, aku hampir tak percaya pada bagaimana kamu menjalani hidupmu hari-hari ini. Sungguh berbeda 180 derajat dengan karakter dan cita-cita revolusionermu di masa belasan tahun yang lalu. Memang ketika itu kamu masih menjadi mahasiswa jadi tak ada beban untuk menjadi manusia yang bebas, kritis, idealis, pemberani dan penentang segala kesewenang-wenangan. Tapi aku tak percaya segala sifat itu hampir lenyap sama sekali dari hidupmu kini. Ya tak ada sisa sama sekali soal hidup revolusioner yang pernah kamu tampilkan dahulu. Kamu begitu menyerah dengan keadaan. Aku tak mengerti dan air mataku jatuh. Aku lihat mukamu mulai menua lima tahun lebih daripada seharusnya.

***

Aku masih ingat bagaimana kamu bercerita tentang pekerjaan sebelum aku meninggalkan Kota Revolusioner untuk tugas baruku. Kamu sendiri juga yang menamai kota itu dengan nama Kota Revolusioner sedangkan aku hanya mengangguk setuju karena kota itu memang seperti kawah candradimuka bagi para calon aktivis, kamu lebih suka menyebut pejuang, yang hendak terjun ke dunia pergerakan. Kebanyakan aktivis dari kota itu pula yang kemudian berperan penting di kota-kota lain atau justru menjadi motor atau magnet di kota-kota yang kemudian disinggahi.

“Pekerjaan, kawan, kalaupun kita harus bekerja sebagaimana orang pada umumnya, bagi orang seperti kita, tidak boleh terlepas dari aktivitas ideologi, politik dan organisasi. Camkan itu dalam hati kita agar kita bisa terus berjuang dalam jangka panjang untuk pembebasan rakyat tertindas.”

“Jadi apa pekerjaan yang cocok untuk orang seperti kita?” tanyaku

“Pertama, tentu saja pekerjaan yang sekaligus bisa mencerdaskan rakyat. Jurnalis, Penulis, Penerbit Buku. Kedua, kalau toh harus bekerja di luar itu lebih baik pekerjaan yang sekaligus bisa berpeluang untuk mengorganisasikan rakyat. Jadi, bekerjalah di tempat yang banyak menampung massa agar kita selalu bisa bersentuhan dengan massa dan bisa menjadi bagian dari para pekerja itu dengan demikian tugas organisasi: membangun serikat-serikat pekerja atau serikat-serikat rakyat tetap masih bisa dijalankan.”

“Kamu sendiri akan memilih pekerjaan yang mana bila kamu harus bekerja seperti orang pada umumnya?”

“Aku tak berharap itu terjadi. Politik dan revolusi itulah pekerjaanku. Aku akan berusaha terus menjadi seorang revolusioner yang professional, ya menjalankan kerja-kerja untuk revolusi secara professional, setia dan tak putus dalam melayani rakyat. Kalau pun aku harus bekerja, aku memilih menjadi orang bebas. Freelance. Menjalankan usaha-usaha swasta toh dengan begitu tetap bertemu dengan banyak orang sehingga bisa tetap menjalankan tugas organisasi: mengumpulkan orang-orang dalam satu ikatan perjuangan seperti yang sudah aku katakan.”

Kamu tampak begitu yakin dengan omonganmu soal pekerjaan itu. Aku tak membantah. Lalu kita berpisah. Aku ditugaskan untuk membangun serikat pekerja di Semarang. Hampir tiga tahun di sana meninggalkan hidup sebagai mahasiswa dan memulai tinggal di sekitar perkampungan buruh sementara kamu masih bekerja membangkitkan perlawanan para mahasiswa di Kota Revolusioner.

Pada masa gawat karena organisasi kita dituduh melakukan kerusuhan di Jakarta dan beberapa kawan pimpinan sudah ditangkap, aku meninggalkan Semarang dan bertugas di Jakarta untuk terlibat bersama kawan-kawan revolusioner lain membangun basis-basis perlawanan di sektor kaum miskin kota. Kamu kudengar masih bertahan di Kota Revolusioner dan tak lelah mengajak para mahasiswa untuk melakukan perlawanan terhadap kediktatoran bahkan kudengar mulai juga berhasil membangun aliansi mahasiswa dengan penduduk setempat yang juga rata-rata kaum miskin kota dan kaum pekerja.

Setelah kediktatoran tumbang, aku tetap di Jakarta dan berharap kamu akan mengambil tugas juga di Jakarta sehingga kita bisa bertemu dan bekerja sama kembali untuk Indonesia yang demokratis dan pro rakyat. Tapi kamu tak berangkat ke Jakarta justru pesan singkatmu yang kubaca membuat keringat dinginku mengalir: “aku akan meninggalkan Kota Revolusioner menuju kota asalku” Hanya itu? Aku berusaha menelpun kamu tapi selalu tak ada di tempat sampai akhirnya kamu benar-benar terpastikan sudah meninggalkan Kota Revolusioner. Aku kecewa dan berharap kamu akan menghubungiku tapi hari berganti hari dan waktu yang terus berjalan, tak juga kudengar telpon kantor berdering darimu mencariku. Aku semakin kecewa lalu berharap suatu saat aku sampai di kota asalmu.

***

Kamu katakan padaku tentang isterimu yang pencemburu.

“Isteriku tak suka bila aku menerima telepon dengan suara perempuan. Apalagi menutup perpisahan dengan: Daa…Ia bisa membanting pintu keras-keras atau memecahkan gelas yang ada di depannya hanya karena soal sepele seperti itu.”

“Barangkali karena kamu pernah mengecewakannya, menghancurkan kepercayaan yang pernah ditujukan padamu. Selingkuh, misalnya.”

“Tidak. Tidak karena itu. Kamu percayakan kalau aku ini orang yang tak bisa selingkuh?”

“Lalu apa masalahnya?”

“Aku tidak lagi bekerja. Sudah hampir satu tahun ini tanpa pekerjaan. Tak ada lagi proyek yang mampir padaku bahkan dari LSM yang biasa memberiku pekerjaan. Untuk membangun usaha sudah tak ada kemampuan. Tak ada modal. Isteriku juga tak rela tabungan yang ada dipakai untuk modal usaha. Takut bangkrut. Karena aku pernah gagal tapi sebetulnya juga tak terlalu gagal bahkan bisa dikatakan berhasil. Hanya aku lalai dan tertipu oleh orang kepercayaanku sendiri. Lalu ia mulai menuduhku hanya menumpang hidup padanya. Dan memang ia yang bekerja dan menjadi tumpuan kebutuhan keluarga saat ini. Aku ulangi, saat ini.”

“Tak adakah jalan lain?”

“Ya..inilah yang sedang aku lakukan. Menghubungi kawan-kawan, termasuk teman kuliah dulu. Barangkali ada pekerjaan. Tapi isteriku sudah terlalu cemburu sementara aku tak bisa menduga kalau tiba-tiba, ada teman perempuan menelpun menawarkan pekerjaan atau sekadar ingin mengobrol menanyakan kabar. Bisa, Bung bayangkan?”

Aku mengangguk. Memang susah menghadapi seorang yang cemburu apalagi cemburu buta.

“Tapi barangkali, isterimu takut kamu tinggalkan atau tiba-tiba kamu pergi. Ia hanya ingin mengontrol atau menguasai kamu saja. Kalau kamu bisa meyakinkan isterimu bahwa kamu tak akan meninggalkannya, aku kira dia tak akan begitu cemburu padamu dan mulai percaya padamu bahwa kamu sedang berusaha keras untuk mencari pekerjaan dan tak berniat menumpang hidup,” kataku.

“Ya mungkin. Aku harus meninggalkannya sepertinya bila terus-menerus begini. Cuma aku masih berharap bisa mempertahankan keluarga ini. Anakku. Aku mencintainya. Ia baru berumur 6 bulan. Cantik dan menawan.”

Lalu kamu katakan padaku tentang mertua lelakimu yang pintar menyindir dengan meletakkan brosur-brosur mobil, sepeda motor serta rumah di meja makanmu seakan bilang: sanggupkah kamu membeli semua barang ini? Pada saat itu mertua lelakimu lewat di samping kita hendak membuang sampah-sampah dapur tapi kamu berbisik kalau apa yang dilakukannya hanyalah acting untuk menengok apa yang sedang dikerjakan menantu lelakinya yang tidak lagi bekerja. Persis ketika ia kembali dari membuang sampah-sampah dapur ia berada di samping kita, ketika aku menanyakan padamu soal cita-cita politik sewaktu masih di Kota Revolusioner. Ia berjalan dengan cepat dan masuk ke rumah dengan membanting pintu begitu keras sehingga anjingmu yang tertidur terbangun langsung menyalak.

“Lihat: mertua lelakiku muak mendengar kata politik di rumahnya sendiri dan berjalan seperti setan kesurupan.”

Lalu kamu mengajak aku ke belakang ke tempat jemuran pakaian dan duduk di sana di atas kursi kayu tua yang sudah layak menjadi kayu bakar. Aku baru sadar bahwa kamu tidak menerimaku di ruang tamu. Kamu begitu tak berkuasa di sini. Aku bertanya dalam hati bagaimana kamu bisa tahan menghadapi hidup seperti ini.

“Soal cita-cita politik tentu masih ada padaku dan tak akan kuhapuskan dari agenda hidupku. Aku memang sedang kesulitan,” katamu.

Aku memandang sekitar dan dari semula ketika aku memasuki halaman rumahmu terlihat tak ada tanda-tanda kemiskinan di rumahmu ini.

“Barangkali kamu memandang aku cukup. Ada mobil, sepeda motor dan perlengkapan rumah yang tak memalukan. Tapi semua kecukupan ini berasal dari mertuaku. Dan semua barang-barang ini diberikan untuk mengejek aku. Menyindir aku. Seperti yang sudah aku katakan.”

Lalu kamu ceritakan bagaimana kamu bisa meninggalkan Kota Revolusioner.

“Terus terang aku malu padamu. Tapi aku tak ingin menghindar dari tugas-tugas revolusi dan pergi meninggalkan Kota Revolusioner begitu saja. Ayahku tiba-tiba meninggal. Kamu tahu ibuku sudah meninggal sejak aku masih bayi. Aku tiba-tiba menjadi yatim piatu dan sebatang kara. Pulang dan mengurus penguburan serta yang tersisa dari peninggalan ayahku. Aku tak bisa berkata: biarlah orang mati menguburkan orang mati sebagaimana ayat yang selalu kau ceritakan padaku. Setelah itu aku bekerja sebagaimana orang pada umumnya dan itu sudah aku ceritakan padamu. Aku cukup sukses dan ketika kamu sampai di sini, aku bangkrut dan itu juga sudah kuceritakan padamu. Dan kau lihat di tengah kebangkrutan itu, aku memiliki bayi. Sayang, bayi yang lain, yang seharusnya juga kulahirkan tak pernah terwujud yaitu organisasi rakyat di kota ini. Aku berantakan.”

Tiba-tiba bayi yang kamu cintai itu terdengar menangis. Kamu masih diam saja. Tapi makin lama makin keras tangisannya.

“Kamu pasti tak percaya. Bayi tercintaku yang semula tidur nyenyak itu dicubit isteriku agar menangis,” katamu.

“Untuk apa?”

“Agar aku terganggu bila aku tak terganggu dia bisa puas mencaciku sebagai ayah yang tak peduli. Tak bertanggung-jawab dan tak-tak negatif lainnya sebagai seorang ayah. Sebentar, Bung, aku tengok sebentar.”

Kamu pergi meninggalkan aku. Agak lama. Tak terdengar suara ribut. Tapi pasti, telingaku tak lagi mendengar tangis bayi. Aku pikir kamu adalah ayah yang bertanggung-jawab karena begitu kamu mendekat, bayi itu merasa nyaman dan tak menangis. Apa karena kamu sering menjaganya sementara isterimu selalu pergi untuk bekerja?

“Sorry, Bung,” katamu begitu menemuiku kembali,”kita tak bisa mengobrol sampai lama sebagaimana ketika masih di Kota Revolusioner. Malam di sini, di rumah ini, tak bisa menjadi sahabat. Ia menyuruh kita tidur tanpa aktivitas malam yang berarti. Pagi sekali sebelum subuh aku sudah bangun dan sorry, aku tak berkuasa di rumah ini.”

Kamu menguap dan tampak lelah bukan karena fisik tapi psikis. Aku tersenyum berusaha untuk memahami bahwa kamu menghendaki aku pergi walau aku tahu ini bukan dari lubuk hatimu. Kulihat jam baru menunjukkan pukul 22.00. Aku bangun dan berjalan. Kamu sekali lagi berkata: Sorry..

Di pintu gerbang, sebelum aku meninggalkanmu, aku sempatkan bertanya: “Kamu luar biasa, Kawan. Apa yang membuatmu bertahan menjalani hidup seperti ini?”

Kamu agak ragu menjawab. Kamu menunduk. Tak memandang wajahku. Kupikir kamu berusaha menahan agar tangismu tidak pecah. Lalu kamu memandangku.

“Kamu pernah lihat daun jatuh, kawan?” katamu

Aku mengangguk.

“Ke sungai?”

Sekali lagi aku mengangguk.

“Begitulah diriku kini seperti daun jatuh ke sungai mengalir sampai jauh entah kemana.”

“Ok.” Akupun mulai putus asa dan memahami apa yang membuatmu berubah 180 derajat.

Tapi kamu berkata: “Aku hampir putus asa. Barangkali tinggal menunggu waktu saja kapan diriku ini jatuh dari lantai 4 sebuah mall.”

“Jangan berpikir seperti itu. Pasti ada jalan,”

“Ok. Thanks. Nanti aku akan mampir ke hotelmu.”

Aku melangkahkah kakiku seperti orang yang kalah.

Satu minggu, aku masih tinggal di kotamu melakukan pekerjaan-pekerjaanku yang kupikir kamu tahu apa yang kukerjakan. Tapi, kamu tak pernah mampir ke hotelku seperti yang kamu janjikan untuk datang ke hotelku, sampai waktuku habis. Aku pikir sudah tak ada harapan untuk masa depan persahabatan kita. Dan itu terbunuh sia-sia justru di kotamu sendiri. Kota yang ramah seperti yang dahulu sering kamu ceritakan padaku sewaktu masih bersama di Kota Revolusioner. Aku pikir cerita-ceritamu tentang kota asalmu yang ramah dahulu itu hanya karena kamu sedang rindu kampung halaman.

Aku sudah hendak berangkat meninggalkan kotamu tapi alangkah baiknya bila aku menyempatkan diri untuk pamit kepadamu. Kupikir itu tak akan sia-sia. Setidaknya aku masih bisa melihat wajah tua mu sekali lagi sebelum hilang untuk selamanya. Karenanya untuk kedua kalinya aku melangkahkan kakiku ke rumahmu.

Hari itu hari minggu. Pagi. Kulihat kamu sedang berdiri menimang bayi tersayangmu yang juga belum kutahu namanya dan isterimu berdiri di sampingmu memandang heran bahwa sekali lagi orang yang tak dikehendaki kedatangannya itu melangkah menuju rumahmu

“Hai,” sapaku,”boleh aku menimang bayimu?”

Tanpa berkata, kamu menyerahkan bayimu. Bayi itu begitu nyaman dalam timanganku. Justru ia tersenyum manis. Matanya cerah bersinar. Isterimu agak heran. Barangkali berpikir bagaimana bisa bayi yang di tangannya sendiri tak bisa tenang tapi justru di tangan orang asing ini justru begitu nyaman dan ramah?

“Siapa namamu, cantik?” Aku bertanya pada bayimu. Kamu masih terdiam tapi isterimu menyahut: “Bougenville.”

“Nama yang begitu indah. Bougenville tumbuh dan berbunga di sepanjang musim, di tanah-tanah yang tak banyak air pun sanggup bahkan di atas batu karang yang airnya begitu sedikit, Bougenville hidup dan sanggup menampakkan keindahannya dengan berlebih. Kamu akan menjadi perempuan yang tangguh menghadapi segala perubahan jaman.”

“Amin,” kata isterimu.

“Bung, aku pamit. Ini sebenarnya kota yang indah.”

Kamu mengangguk. Isterimu mengangguk. Kamu tak banyak berkata. Aku bingung mau berkata apa.

***

Satu minggu sesudah aku meninggalkan kotamu, kubaca di surat kabar, seorang lelaki dengan nama yang sama denganmu, seumur denganmu, tewas mengenaskan dengan kepala pecah dan otak tersebar bercampur darah di seluruh penjuru lantai marmer yang putih sesudah meloncat dari lantai 4 di sebuah Mall di kotamu. Keringat dingin mengalir di tubuhku. Dunia terasa gelap. Aku bersegera menelpun kamu. Ada nada kehidupan di sana. Aku agak lega. Tapi mengapa begitu lama. Aku was-was.

“Halloo..” Suaramu jelas di sana. Dunia menjadi terang. Aku terdiam karena tak tahu harus berkata apa.
“Aku sudah sampai di Jakarta,” kataku.
“Ok. Ada pekerjaan untukku?”

“Ada. Datanglah ke Kota Revolusioner. Panenan memang banyak tapi pekerja sedikit. ”

“Aku akan berangkat.”

“Bagaimana dengan isterimu, mertuamu?”

“Isteriku bilang: mertua adalah masa lalu sedangkan aku adalah masa depan. Isteriku tak ingin aku layu di kota sendiri sebagaimana sering kamu katakan kepadaku: tak ada nabi yang disambut di kotanya sendiri.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags:
  • kusno

    menghanyutkan