Solidaritas Bangsa Indonesia untuk Jepang

Gempa berkekuatan 9 skala richter yang mengguncang Jepang, Jumat (11/3) lalu, bukan saja gempa terbesar dalam sejarah negeri itu, tetapi juga merupakan gempa terdahsyat di dunia dalam 20 tahun terakhir. Sudah begitu, gempa itu disertai Tsunami yang menyapu bersih sejumlah wilayah, juga diikuti dengan ancaman bencana nuklir. Tidak salah kemudian jika Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan, menyebut kejadian ini sebagai krisis terburuk pasca perang dunia kedua, yaitu ketika nagasaki dan Hiroshima dibom atom oleh sekutu.

Betapa dahsyatnya gempa di jepang itu, juga kerusakan dan korban jiwa yang ditinggalkannya, menyebabkan dunia turut berbela-sungkawa, tidak terkecuali rakyat Indonesia dan pemerintahnya. Selain menyampaikan ungkapan bela-sungkawa, pemerintah Indonesia juga mengirimkan bantuan senilai 2 juta USD dan 11 tenaga relawan. Di jejaring sosial dan dunia maya, rakyat Indonesia juga tidak henti-hetinya memberikan dukungan kepada rakyat jepang untuk bangkit.

Namun, tanpa mengurangi ungkapan duka cita dan persoalan kemanusiaan yang melanda bangsa Jepang, ada persoalan krusial yang perlu diangkat di sini: sejarah relasi ekonomi-politik antara bangsa Indonesia dan Jepang tidak pernah setara, bahkan Jepang dibawah ideologi fasisme telah menjajah dan menghancurkan martabat bangsa Indonesia: romusha dan jugun-ianfu. Bukankah hubungan kemanusiaan itu bisa tereduksi jikalau tidak disertai kesetaraan antar sesama manusia dan sesama bangsa.

Pun ketika Orde baru berkuasa di Indonesia, modal Jepang menjadi salah satu bagian dari modal imperialis yang menghisap tenaga kerja Indonesia dan merampok begitu banyak sumber daya alam Indonesia.

Tetapi, tidak bisa ditutupi pula fakta bahwa ada sebagian orang Jepang yang bersimpati dengan perjuangan rakyat Indonesia, dan karenanya turut membidani proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini menjelaskan bahwa sebagian besar rakyat Jepang memandang bangsa Indonesia sebagai kawan atau saudara yang setara, bukan sebagai bangsa yang pantas untuk dieksploitasi dan ditindas.

Karena itupula, berdasarkan analisis sejumlah ekonomi, gempa dan Tsunami di Jepang akan berdampak pada perekonomian di Indonesia. Ini terutama karena mengingat dua hal: pertama, Jepang adalah pasar bagi berbagai bahan mentah dan komoditi Indonesia, dan kedua, modal atau investasi menempati urutan keempat terbesar di Indonesia.

Oleh karena itu, momentum gempa bisa menjadi kesempatan bagi rakyat Jepang dan Indonesia untuk menyelesaikan ketidaksetaraan hubungan ekonomi dan politik itu. Dan, juga karena tuntutan dunia yang semakin menghendaki multi-polarisme, maka sudah semestinya hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang diletakkan dalam kerangka sederajat, solidaritas, dan berjuang bersama-sama untuk perdamaian dunia.

Kami berharap bangsa Jepang bisa bangkit lebih cepat dari bencana ini, dan kedepannya bisa benar-benar menjadi “saudara tua” bangsa Indonesia untuk memperjuangkan sebuah “dunia tanpa penindasan manusia atas manusia serta penindasan bangsa atas bangsa.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut