Nyanyian Carla Dan Revolusi Sandinista

Memang ini kedengaran tak masuk akal: sebuah bangsa tega hidup dengan menghisap dan merampas kemerdekaan bangsa lainnya. Apalagi di mata George (Robert Carlyle), seorang sopir bus di kota Glasgow, Skotlandia, yang digambarkan ‘apolitis, dalam film berjudul ‘Carla’s Song’ (1994) karya Ken Loach.

Namun, sebuah peristiwa kecil telah mengubah cara pandang George dan sekaligus mengajaknya berkelana melihat dunia luar. Di suatu hari nan cerah, bus yang dikemudikan oleh George dinaiki seorang perempuan muda. Rupanya, perempuan muda itu tidak punya tiket, uang, maupun kartu identitas.

Tergerak oleh rasa kemanusiaan, George berusaha menolong perempuan itu. Namun, siapa yang menyangka, inilah awal dari petualangan George. Carla (Oyanka Cabezas), nama perempuan itu, adalah aktivis Front Pembebasan Nasional Sandinista (FSLN), sebuah organisasi kiri yang memimpin perlawanan terhadap Diktator Somoza di Nikaragua.

Carla berkelana di Eropa karena situasi politik di negerinya. Pasca keberhasilan Sandinista menggulingkan Diktator Zomoza, 19 Juli 1979, Nikaragua dilanda teror dan perang. Imperialisme AS yang tidak senang dengan kemenangan itu, mendanai dan melatih milisi sayap kanan bersenjata bernama Contra untuk menggulingkan Sandinista.

Di Glasgow, kota nan cantik itu, Carla menari di jalanan guna menyambung hidup. Sementara bayangan teror dan kekejaman pasukan Contra terus membuntutinya. Juga rasa rindu dan penasaran akan nasib kekasihnya, Antonio, seorang gerilyawan Sandinista yang tertangkap pasukan fasis Contra.

Mulanya George tidak begitu tahu tentang Carla. Ia hanya melihat kesedihan yang terpancar dari bola mata gadis cantik itu. Juga luka-luka yang masih membekas di tubuh perempuan itu. Maklum, George memang sangat apolitis. Bahkan, demi mendapat informasi soal Nikaragua, Ia harus bertanya kepada adiknya, Eileen, seorang pelajar sekolah menengah yang sudah tercekoki kepalanya bahwa pemerintahan Sandinista adalah “pemberontak Komunis”.

Namun, entah karena dorongan kemanusiaan, George rela membeli dua tiket guna mengantarkan Carla kembali ke Nikaragua dan sekaligus membantu mencari kekasihnya. Dan, saya kira, di sinilah terletak misi utama film garapan Ken Loach ini: menggambarkan seorang pemuda biasa yang sehari-hari bekerja sebagai sopir bus di kota Glasgow keluar menemui dunia baru bernama ‘Nikaragua’; Glasgow mewakili kota Eropa yang makmur dan tenang, sementara Nikaragua mewakili dunia ketiga yang miskin dan dikacaukan oleh perang.

Ken Loach menghadirkan kehidupan Nikaragua yang kontras dengan Glasgow: jalan-jalan yang berdebu, bus-bus tua dan penuh sesak, pedagang kaki lima yang berebut pembeli, teror sayap kanan yang terus mengintai, dan gerilyawan bersenjata yang hilir-mudik di jalan-jalan.

Namun, sekalipun begitu, rakyat Nikaragua punya optimisme besar terhadap revolusi mereka. Ini terpancar dari wajah sumringah petani-petani yang bercerita tentang manfaat besar yang dirasakannya di bawah Revolusi: ‘500 hektar tanah sekarang dikuasai oleh 40 keluarga petani. Sebelum revolusi, 500 hektar tanah hanya dikuasai oleh satu orang kaya/tuan tanah.’

“Carla’s Song’ juga memperlihatkan kita tentang geliat Revolusi. Tentang gerilyawan Sandinista dan rakyat Nikaragua yang terus bernyanyi, menari, dan menebar optimisme. Tentang pemuda-pemuda yang disebut “brigadistas” yang bertebaran di desa-desa untuk mengajari rakyat agar bisa membaca dan menulis.

Di film ini kita juga menyaksikan kekejian pasukan Contra, yang didanai dan dilatih oleh CIA/Amerika Serikat. Darah kita akan seketika mendidih saat melihat sebuah bus pengangkut warga sipil tiba-tiba meledak karena menginjak ranjau yang dipasang pasukan Contra. Duarr! Dan warga sipil tak berdosa itu bergelimpangan.

Kita juga melihat bagaimana gerilyawan Contra menargetkan rakyat sipil, terutama petani dan kaum buruh, sebagai target teror. Gerilyawan Contra juga menyerbu dan menghancurkan sekolah-sekolah, klinik-klinik kesehatan, dan fasilitas publik lainnya. Mereka memperkosa anak perempuan di hadapan orang tuanya. Ironisnya, semua teror dan kekejian gerilyawan Contra itu adalah hasil ajaran CIA, lembaga intelijen Amerika Serikat.

Di film ini kita juga menemukan sosok Bradley (Scott Glenn), seorang bekas anggota CIA yang “insyaf” dan kemudian memilih menjadi aktivis kemanusiaan. Dalam sebuah adegan, Bradley membeberkan keterlibatan CIA dalam mengarahkan serangan gerilyawan Contra terhadap penduduk sipil.

Menurut catatan lembaga HAM, hingga tahun 1990-an, sebanyak 40.000 rakyat Nikaragua tewas di tangan gerilyawan Contra. Tak hanya itu, gerilyawan Contra juga menyisakan kehancuran ekonomi yang sangat parah bagi Nikaragua.

Namun demikian, kendati imperialisme AS hendak menghalau Revolusi Sandinista dengan teror, pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan, dan ranjau darat, tetapi revolusi tetap bergerak maju. Dua keberhasilan terbesar dari Revolusi adalah pemberantasan buta huruf dan kesehatan rakyat.

Dalam setahun, pemerintahan Sandinista berhasil mengurangi buta huruf dari 52% menjadi 12,9%. Dalam beberapa tahun selanjutnya, jumlah buta huruf di Nikaragua bisa ditekan hingga di bawah 5%. Atas prestasi itu, UNESCO memberikan “Nadezhda K. Krupskaya Award” kepada Nikaragua.

Sementara kampanye anti-malaria berhasil mengurangi penderita Malaria hingga 50%. Lebih dari 1 juta anak-anak berhasil divaksinasi guna menghindari polio, campak, dan tetanus. Angkat kematian bayi berkurang hingga sepertiga.

Rudi Hartono

—————————————————————————–

Carla’s Song (1994)
Sutradara: Ken Loach
Penulis:  Paul Laverty
Tahun Produksi: 1994
Durasi: 127 menit
Pemain: Robert Carlyle (George), Oyanka Cabezas (Carla) Gary Lewis (Sammy), dan Scott Glenn (Bradley).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut