Olahraga dan Martabat Bangsa

Secara historis, olahraga tidak dapat dipisahkan dengan aktivitas produksi, misalnya melempar, meloncat, berlari, bergulat, berenang, dan lain sebagainya. Saat jaman Yunani Kuno, pertunjukan olympiade bukan sekedar pertunjukan permainan atau hiburan, melainkan juga sebagai ajang yang adil untuk menunjukkan tingkat kemajuan peradaban suatu bangsa atau masyarakat, misalnya arsitektur, peralan perang, patung, keahlian berperang dan sebagainya. Presiden Bolivia Evo Morales pernah mengatakan, olahraga sangat penting untuk memajukan kesehatan, integrasi, dan kebudayaan.

Dalam sejarah nusantara, jauh sebelum kedatangan kolonialisme, kita sudah mengenal berbagai jenis olahraga dan permainan rakyat seperti pencak silat, karapan sapi, gasing, main hadang, lompat batu, dan lain sebagainya. Ketika kolonialisme sudah masuk, mereka juga membawa pengaruh pada berbagai jenis olahraga baru, misalnya sepak bola dan tenis.

Dalam sejarah pergerakan, olahraga pernah dilirik sebagai salah satu cara untuk menyemai persatuan anti-kolonial di kalangan pemuda. Di tangan seorang aktivis bernama Soeratin Sosrosoegondo, sepak bola dijadikan alat konsolidasi pemuda dan sekaligus menghindari penangkapan dari polisi rahasia Belanda (PID). Untuk itu, setelah melalui konsolidasi sangat panjang, Soeratin berhasil mendirikan organisasi bernama Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI), yang tujuannya disebut untuk melawan kolonialisme Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, Indonesia pernah memiliki tim nasional sepak bola yang ditakuti di Asia dan eropa. Di Olimpiade Melbourne 1956, PSSI berhasil menahan imbang Uni-sovyet dengan skor 0-0. Setelah itu, Indonesia juga pernah menorehkan prestasi internasional di olahraga bulu tangkis. Dunia akan bergetar ketika mendengar nama-nama seperti Rudy Hartono, Liem Swie King,Tan Joe Hok, Fery Soneville, Susi Susanti, Ivana Lee, dan lain-lain.

Namun, sekarang ini, kita semakin jarang mendengar lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang saat penyerahan medali di ajang-ajang olahraga Internasional, bahkan di Asia Tenggara pun Indonesia kian terpuruk. Kita lebih sering mendengar berita “tawuran suporter” ketimbang prestasinya.

Padahal, prestasi bola bisa menjadi “pengangkat” martabat suatu bangsa. Para pemain kita, ketika ikut piala dunia atas nama Hindia-Belanda di tahun 1938, sangat ingin bertemu Belanda dan mempermalukannya. Ini juga terjadi di piala dunia 1986 di Meksiko, dimana Argentina berhasil mengalahkan Inggris. “Meskipun sebelum pertandingan dikatakan sepak bola tidak ada hubungannya dengan perang Malvinas, tapi kami tahu mereka (Inggris) telah membunuh banyak pemuda-pemuda Argentina seperti menembaki burung kecil. Dan sekarang kami bisa mengalahkan mereka tanpa sebutir peluru pun,” demikian komentar Maradona atas pertandingan itu.

Jauh dari itu, olahraga juga dapat dipergunakan untuk menggalang integrasi dan persatuan negara-negara anti-imperialis, seperti perhelatan GANEFO (Games of The New Emerging Forces) pada tahun 1963. Melalui Ganefo, Soekarno sangat berkayinan bahwa negara-negara bekas jajahan bisa membangun martabat di hadapan bangsa-bangsa kolonialis. Dan cita-cita itu bisa dianggap berhasil; untuk pertamakalinya dalam sejarah dunia, ada ajang olahraga internasional tanpa keterlibatan negeri imperialis.

Oleh karena itu, tidak dapat ditawar-tawar lagi, pemerintah harus turun tangan untuk membenahi olahraga nasional. Pekerjaan mendesak yang perlu dilakukan adalah “cuci gudang”, yaitu membersihkan pengurus-pengurus cabang olahraga yang tidak becus dan korup. Selain itu, Mempora sekarang ini juga perlu diberhentikan, karena lebih banyak beretorika ketimbang bertindak secara nyata.

Menutup tajuk pembicaraan ini, kami mau mengutip perkataan Bung Karno mengenai pentingnya olahraga untuk martabat bangsa. Bung Karno berkata; “Revolusi olahraga demi mengharumkan nama bangsa. Olahraga adalah bagian dari revolusi multikompleks bangsa ini.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut