Cerita Lain Tentang Situasi Di Libya

Flavio Signore, seorang pembuat film berkebangsaan Italia, baru-baru ini melakukan perjalanan ke Libya. Bersama dengan Leonor Massanet, seorang psikolog yang sudah lima tahun tinggal di Libya, Signore berusaha mengungkap sejumlah fakta yang tak terlaporkan oleh media-media barat.

Keduanya berhasil merekam kejadian di Libya dalam sebuah film berdurasi pendek. Dalam video yang sudah banyak beredar di Youtube itu, Sigonore dan Leonor berusaha berbicara dengan rakyat Libya di beberapa tempat tentang kejadian sebenarnya.

Hasilnya sungguh menggemparkan: testimoni orang-orang itu sangat bertolak-belakang dengan apa yang terlanjur dilaporkan oleh media barat dan klaim sejumlah pemimpin terkemuka negeri-negeri imperialis.

Signore dan Leonor antara lain berkunjung ke Zawiya, Libya Barat. Ia tiba hanya beberapa saat setelah tentara Libya berhasil membebaskan kota itu dari para pemberontak dan teroris. Dalam rekaman Video yang dibuat Signore, warga sipil bercerita tentang siapa sebenarnya kelompok pemberontak itu dan apa yang dilakukannya kepada rakyat biasa.

“Kelompok bersenjata memasuki kota dan menembaki berbagai tempat dan mereka mulai membunuhi rakyat,” kata warga yang diwawancarai dalam video itu.

“Mereka menggunakan senjata terhadap warga sipil tak bersenjata.”

“Kami sangat menderita ketika mereka di sini.”

“Mereka memasuki rumah kami dan melakukan hal-hal mengerikan terhadap istri kami.”

“Sekarang, kami kebali normal. Rakyat sudah mulai bekerja dan Universitas dibuka kembali.”

Kota Zawiya dikuasai pemberontak selama 20 hari. Dan, selama hari-hari itu, mereka melakukan tindakan keji dan tidak manusiawi. Lalu, datanglah pasukan pemerintah membebaskan kota itu.

Kesaksian lain menceritakan: “Pada 22 Februari, kelompok Al-Qaeda dan Altakfir wa Alhejara (ekstremis islam) memasuki lapangan Ashushador di Zawiya, lalu membakar rumah dan bangunan lain. Rakyat bersembunyi di dalam rumah hingga tentara datang membebaskan mereka.”

Warga sipil juga memperlihatkan sebuah video amatir yang diambil dengan menggunakan ponsel. Video itu menggambarkan bagaimana para pemberontak memotong kepala orang dengan pisau dan menyembelihnya seperti hewan. Orang-orang mengatakan bahwa para pemberontak bukan orang Libya dan mereka mengenakan pakaian yang berbeda.

Kesaksian lain menyebutkan bahwa 90% para penyerang itu adalah orang asing. Mereka melakukan penjarahan. Mereka juga menghancurkan tempat kongres rakyat, kantor jaminan sosial, dan kantor pencatatan.

“Siapapun yang mendukung pemimpin, mereka akan memotong lehernya di depan umum dan mereka menggunakan masjid untuk berpesta,” kata seorang warga dalam kesaksiannya.

Signore dan Leonor, melalui wawancara dengan sejumlah pengungsi, mendapatkan cerita bahwa sebagian besar pemberontak mendapatkan suplai bantuan dari pemerintah Qatar dan ekstremis islam dari Aljazair dan Tunisia.

Ada banyak cerita yang hampir mirip dengan apa yang disampaikan oleh Signore dan Leonor. Salah satunya adalah Milovan Drecun, seorang wartawan perang berkebangsaan Serbia. Milovan membuat sebuah film pendek berjudul “Libya uprising: Crimes against humanity”, yang juga bisa ditonton di Youtube.

Dalam film pendek itu, Milovan membantah laporan media barat bahwa Khadafi telah memerintahkan pemboman terhadap sipil tak bersenjata. “Satelit menunjukkan bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Tetapi kenapa media barat terus-menerus mengulang kebohongan itu?” tanya Milovan.

Ia juga membantah bahwa konflik internal di Libya dipicu oleh “musim semi di Arab”, yang sebagian besar merindukan “demokrasi dan kebebasan”.

Sebaliknya, ia justru menemukan fakta yang sangat penting, dari berbagai wawancara dan testimoni dengan rakyat Libya, bahwa para pemberontak Libya adalah para kriminal dan anggota Al-Qaeda.

Selama di Libya, ia juga mengetahui tentang adanya surat enam pemimpin suku dari timur Libya, daerah yang selalu diklaim sebagai wilayah pemberontak, kepada para pemimpin Uni-Afrika. Dalam surat enam pemimpin suku di bagian timur itu, dikatakan bahwa TNC (National Transitional Council)—pemerintahan sementara pemberontak di Libya—tidak pernah dipilih oleh rakyat, melainkan dibentuk sendiri oleh NATO.

Ia juga menemukan bahwa kebanyakan mereka yang disebut pemberontak di Libya tidak punya ide politik apapun. Katanya, ada dua kekuatan utama oposisi terhadap pemerintahan Khadafi di Libya: pemberontak dan Al-Qaeda. “Kedua kelompok ini bergerak secara independen, tetapi memiliki tujuan yang sama: menjatuhkan Khadafi dan membentuk pemerintahan baru,” katanya.

Anehnya, di front Afghanistan, negara-negara barat yang dikomandoi AS mengobarkan perang terhadap Al-qaeda. Sedangkan pada front di Libya, negara-negara barat bergandengan tangan secara tidak langsung dan membantu Al-Qaeda untuk menjahtuhkan Khadafi.

Abdel Hakim Al-Hasidi, mantan tahanan Guantanamo, dan Sulaiman Gumu, yang dikenal sebagai sekretaris Osama Bin Laden, melatih kelompok Al-Qaeda di Libya dan memimpin serangan terhadap pemerintah dan rakyat Libya.

NATO juga bertanggung-jawab dalam melatih dan mempersenjatai kelompok bersenjata di Benghazi. Tentara bayaran dari Barat juga diketahui melatih kelompok bersenjata oposisi dan malah terlibat dalam barisan oposisi.

Akan tetapi, Milovan menyimpulkan bahwa langkah pemberontak untuk mengalahkan Khadafi akan sangat sulit, sekalipun mendapat bantuan NATO. Sebaliknya, Milovan menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Libya mendukung Khadafi. Dari sekitar enam juta penduduk Libya, ada dua juta orang yang merupakan tentara bersenjata.

“Kalau memang rakyat Libya menentang Khadafi, kenapa dua juta orang bersenjata itu tidak segera menggulingkannya. Rakyat berada di belakang Khadafi.”

Milovan juga meliput pertemuan 2000-an suku di seluruh Libya. Pertemuan itu merekomendasikan sebuah dukungan kuat kepada Khadafi dan sekaligus deklarasi perlawanan terhadap intervensi barat.

Wartawan perang asal Serbia ini juga berhasil membuktikan bagaimana serangan NATO menghancurkan rumah, masjid, gedung pertemuan, sekolah, perkebunan, dan sarana-saran publik. Serangan NATO juga membantai ribuan sipil tak bersenjata, anak-anak, dan relawan kemanusiaan.

Kami mengira bahwa laporan dua jurnalis di atas bisa memberi sudut pandang lain tentang Libya. Setidaknya, dengan membaca artikel ini, ada pertanyaan-pertanyaan ulang di kepala pembaca tentang situasi di Libya. Kami tidak memaksa anda untuk percaya pada laporan kedua jurnalis itu, tetapi setidaknya ada berfikir dua kali untuk mengambil kesimpulan sederhana mengenai Libya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut